BI Ungkap Konflik Iran Picu Efek Domino: dari Rupiah Melemah hingga Harga Plastik Naik
- Bank Indonesia (BI) mengungkap eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memicu efek berantai atau domino effect terhadap perekonomian global dan domestik.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, efek konflik Iran merembet ke multi-sektoral dan multi-market mulai dari keuangan, komoditas global, hingga perdagangan dan produksi.
Secara keseluruhan, berbagai dampak ini akan membuat pertumbuhan ekonomi dunia jadi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, inflasi global juga akan lebih tinggi.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.100, BI Sampai Begadang Jaga Stabilitas Rupiah
"Ini kita menghadapi situasi yang memang tidak biasa-biasa saja, khususnya situasi di regional dan di global kita," ujarnya saat acara Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Dari sisi finansial, perang ini membuat pasar keuangan global semakin mengetat karena adanya keikutsertaan AS dalam perang antara Iran dan Israel.
Dengan adanya campur tangan AS pada perang tersebut menimbulkan ketidakpastian pasar keuangan global yang memicu sentimen risiko investor global.
Kemudian terjadi perilaku risk-off karena para pelaku pasar keuangan berusaha untuk menjauh dari risiko sehingga mereka memilih menaruh asetnya ke instrumen yang rendah risiko di aset safe haven seperti emas dan dollar AS.
Alhasil, investor global berbondong-bondong mengalihkan aliran dananya dari pasar negara berkembang ke AS sehingga membuat nilai tukar AS menguat terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.
Hal ini kemudian menyebabkan pelemahan rupiah dan aliran dana asing keluar (outflow) dari Indonesia.
BI mencatat, sejak konflik di Timur Tengah pada akhir Februari 2026, rupiah telah melemah 1,91 persen sedangkan secara year to date pelemahan mencapai 2,39 persen.
"Di Indonesia pun kita merasakan. Walaupun alhamdulillah sekarang sudah mulai kita lihat inflow ada masuk di SBN, di saham mulai sedikit, kemudian ada di SRBI. Tapi overall kita masih terjadi outflow sekitar Rp 21 triliun," ucapnya.
Selanjutnya, konflik Iran juga menyebabkan harga komoditas global seperti minyak mentah naik.
Walaupun pangsa produksi minyak Iran hanya 5 persen terhadap global, tapi dengan adanya penutupan Selat Hormuz menyebabkan gangguan distribusi hingga 20 persen dari suplai minyak global.
Kenaikan harga komoditas dan meningkatnya aliran modal ke safe haven merembet ke kenaikan harga emas dan komoditas energi lain seperti LNG, batubara, aluminium, pupuk, sereal dan kedelai.
"Jadi harga minyak kemarin, ini kan semua ketidakpastiannya tinggi banget ya. Tiga hari yang lalu kita menganggap sudah tercapai kesepakatan antara Amerika dengan Iran. Tapi semalam dapet kabar ternyata perundingannya belum ada kesepakatan. Jadi akibatnya semua naik tuh, tengah malam naik semua," tambahnya.
Selanjutnya, dampak dari sisi jalur perdagangan dan produksi terjadi akibat penutupan Selat Hormuz sehingga mengganggu rantai pasok global
Penutupan Selat Hormuz menyebabkan disrupsi rantai pasok Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi.
Kemudian merembet ke disrupsi suplai ke mitra dagang utama Iran seperti China, Irak, UEA, Turki, dan India.
Penutupan Selat Hormuz juga menyebabkan biaya pengapalan dan premi asuransi kapal meningkat sehingga biaya logistik produsen jadi melonjak.
"Yang terakhir yang lagi happening (kenaikan harga) plastik kan ya. Itu kan kita ngerasaian tuh indirect, padahal kejadiannya di Iran, tapi kenapa harga plastik naik? Karena itu saling ada supply chain-nya sehingga ujung-ujungnya ada penurunan produksi serta gangguan distribusi," tuturnya.
Baca juga: BI Rilis Daftar Uang Rupiah yang Tak Berlaku Lagi, Segera Tukar
Tag: #ungkap #konflik #iran #picu #efek #domino #dari #rupiah #melemah #hingga #harga #plastik #naik