Konflik Trump dan Powell Dinilai Picu Volatilitas Global, BI Bisa Tahan Suku Bunga
- Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Ketua The Federal Reserve Jerome Powell dinilai berpotensi mengguncang pasar keuangan global.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai isu ini tidak sekadar pergantian jabatan.
"Yang paling penting dalam isu ini bukan semata apakah Donald Trump benar-benar bisa menyingkirkan Jerome Powell, melainkan fakta bahwa pasar mulai melihat independensi bank sentral AS masuk ke wilayah sengketa politik," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Harga Emas Dunia Turun, Pelaku Pasar Cermati Arah Konflik AS-Iran dan Kebijakan The Fed
Menurut Josua, dampak terhadap Indonesia lebih banyak terjadi melalui jalur keuangan.
Pergerakan nilai tukar, imbal hasil obligasi, arus modal, biaya dana, dan kepercayaan pelaku usaha menjadi kanal utama.
Dampak ke sektor riil seperti konsumsi dan investasi akan muncul jika gejolak berlangsung lebih lama.
"Itu akan memaksa BI tetap ketat lebih lama, menahan penurunan biaya kredit, memperbesar tekanan impor energi, dan pada akhirnya menekan konsumsi serta investasi," ucapnya.
Indonesia dinilai masih memiliki bantalan eksternal yang cukup kuat.
Cadangan devisa per akhir Maret 2026 mencapai 148,3 miliar dollar AS. Angka ini setara 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
"Isu Trump dan Powell tidak akan sendirian mengguncang ekonomi Indonesia, tetapi di tengah perang Timur Tengah, harga minyak yang masih tinggi, kerentanan rating, dan pasar global yang sensitif, isu ini bisa menjadi pemicu tambahan yang memperberat tekanan yang memang sudah ada," kata dia.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.002, Tekanan Geopolitik dan The Fed Jadi Pemicu
Dari sisi nilai tukar, tekanan politik terhadap The Fed dapat memicu volatilitas. Ketidakpastian mendorong investor global mencari aset aman.
Kondisi ini memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun, arah dollar AS tidak selalu sejalan.
"Ini sebabnya arah dollar AS tidak selalu satu jalur. Terdapat sinyal jangka pendek yang cenderung negatif bagi dollar AS sejak 8 April, dan ancaman Trump kepada Powell sebagai faktor yang menekan dollar AS," ucapnya.
Meski dollar AS berpotensi melemah, rupiah belum tentu menguat.
Nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.150 dalam beberapa hari terakhir.
"Jadi untuk Indonesia, efek paling nyata dari isu ini adalah kenaikan volatilitas rupiah, bukan sekadar arah menguat atau melemah," jelasnya.
Dari sisi aliran modal, tekanan sudah terlihat sejak awal tahun. Pada kuartal I 2026, investor asing mencatat arus keluar bersih sekitar 1,78 miliar dollar AS.
Tekanan terbesar terjadi di pasar saham dan obligasi.
" Dalam konteks Indonesia, itu berarti tekanan tambahan pada arus modal, terutama karena pasar saat ini sudah berada dalam posisi hati-hati," kata Josua.
Pasar saham juga menunjukkan sensitivitas tinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.596 pada perdagangan Kamis (16/4/2026).
IHSG turun 0,36 persen dibandingkan hari sebelumnya dan melemah lebih dari 12,36 persen sejak awal tahun.
Josua menilai ketidakpastian yang berkepanjangan akan mendorong investor asing mengambil posisi defensif.
Meski begitu, peluang penguatan tetap ada dalam jangka pendek.
"Jadi untuk IHSG, arah utamanya adalah volatilitas yang lebih tinggi, dengan kecenderungan negatif jika ketidakpastian Fed memburuk, tetapi masih mungkin ada jeda penguatan sesaat bila dolar melemah dan sentimen global membaik.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia diperkirakan tidak langsung menaikkan suku bunga acuan.
Tekanan global memperbesar peluang BI menahan suku bunga lebih lama.
"Jadi, ancaman Trump terhadap Powell sendirian belum tentu memaksa BI menaikkan suku bunga, tetapi jelas memperbesar kemungkinan BI menahan pelonggaran lebih lama, dan bila tekanan kurs serta inflasi bertambah bersamaan, peluang pengetatan akan ikut naik," tuturnya.
Ketegangan antara Trump dan Powell kembali meningkat.
Trump mengancam akan memecat Powell jika tidak mengundurkan diri setelah masa jabatan sebagai ketua berakhir pada 15 Mei 2026.
Trump juga mengkritik kebijakan suku bunga The Fed yang dinilai terlalu tinggi.
Secara hukum, Powell masih dapat menjabat sebagai anggota dewan gubernur hingga 2028.
Tag: #konflik #trump #powell #dinilai #picu #volatilitas #global #bisa #tahan #suku #bunga