Kemenperin Sebut Indonesia Tak Alami Deindustrialisasi, Ini Buktinya
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membantah anggapan Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi, menyusul munculnya pandangan bahwa kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun dan investasi sektor industri mulai bergeser ke jasa.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief mengatakan narasi deindustrialisasi tidak tepat karena tidak mencerminkan perkembangan data dan perubahan metodologi statistik yang digunakan pemerintah.
“Ada kalangan yang menyampaikan investasi manufaktur menurun dan kontribusi PDB manufaktur terus menurun, bahkan disebut ada deindustrialisasi. Kami membantah itu dengan fakta dan data,” kata Febri dalam rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026 di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Baca juga: Harga BBM dan Bahan Baku Naik, Risiko Deindustrialisasi Dini Kian Terbuka
Ilustrasi industri komponen lokal.
Menurut Febri, setidaknya ada empat argumen yang kerap dipakai untuk mendukung narasi deindustrialisasi, yakni turunnya kontribusi PDB industri terhadap ekonomi nasional, pertumbuhan manufaktur yang dinilai lebih rendah dari ekonomi nasional, pergeseran investasi ke sektor jasa, serta perpindahan tenaga kerja dari manufaktur ke sektor jasa.
Namun, ia menilai kesimpulan tersebut tidak sepenuhnya tepat, terutama bila merujuk pada perubahan basis penghitungan statistik oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Ia menjelaskan data kontribusi manufaktur terhadap PDB sejak 2001 tidak bisa dibandingkan secara langsung karena terdapat perubahan klasifikasi lapangan usaha (KBLI) pada 2009 dan 2020 yang mengubah cakupan industri pengolahan.
Sebelum perubahan itu, sejumlah subsektor masih tercatat dalam kelompok industri pengolahan, lalu dipisahkan menjadi kategori tersendiri.
Baca juga: Ancaman Deindustrialisasi Dini di Indonesia
Oleh karena itu, menurut Febri, tren jangka panjang yang sering dipakai menunjukkan penurunan kontribusi manufaktur tidak sepenuhnya setara.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Sebaliknya, jika dilihat pada periode yang memakai basis penghitungan konsisten, terutama sejak 2022 hingga 2025, kontribusi PDB manufaktur justru menunjukkan tren meningkat.
“Kalau dilihat pasca-2020, terutama 2022 sampai 2025, justru trennya positif,” ujar Febri.
Ia juga menepis anggapan pertumbuhan industri manufaktur berada di bawah setengah pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga: Deindustrialisasi Prematur dan Rentannya Nasib Lulusan SMK
Menurut dia, pertumbuhan manufaktur selama ini tetap berada di kisaran 4 persen hingga 6 persen, atau jauh di atas ambang yang kerap dijadikan indikator deindustrialisasi.
Di sisi investasi, Febri mengatakan sektor manufaktur tetap menjadi tujuan investasi yang menarik.
Ia merujuk kontribusi investasi sektor sekunder yang masih besar dalam realisasi investasi nasional.
Sementara dari sisi tenaga kerja, Kemenperin mencatat serapan tenaga kerja manufaktur masih bertambah rata-rata 200.000 hingga 300.000 pekerja per tahun.
Baca juga: Kualitas SDM Perlu Dibenahi agar RI Terhindar dari Deindustrialisasi
Menurut dia, bertambahnya pekerja di sektor jasa lebih banyak dipicu pertumbuhan angkatan kerja baru yang lebih cepat dibanding penciptaan lapangan kerja di manufaktur, bukan karena terjadi migrasi pekerja keluar dari industri.
“Bukan pekerja manufaktur pindah ke jasa, tapi tenaga kerja baru yang banyak masuk ke sektor-sektor lain,” katanya.
Dengan indikator tersebut, Kemenperin menilai struktur industri nasional masih menunjukkan ekspansi, bukan gejala pelemahan industrialisasi.
Tag: #kemenperin #sebut #indonesia #alami #deindustrialisasi #buktinya