Nyaris Bangkrut karena Tarif Trump, Produsen Mainan AS Bertahan Berkat Gencatan Perang dengan Dagang China
Ilustrasi bangkrut.(SHUTTERSTOCK/HANANEKO STUDIO)
13:52
13 Mei 2026

Nyaris Bangkrut karena Tarif Trump, Produsen Mainan AS Bertahan Berkat Gencatan Perang dengan Dagang China

- Perusahaan mainan asal Amerika Serikat, Huntar Company, nyaris bangkrut akibat perang tarif antara AS dan China tahun lalu.

Pemilik Huntar, David Cheung, mengatakan bisnis keluarganya hampir kolaps jika tarif impor produk China ke AS yang sempat mencapai level tiga digit bertahan satu hari lebih lama.

"Satu hari itu akan mengubah segalanya. Kami sangat, sangat beruntung," kata Cheung.

Baca juga: Kebijakan Tarif Trump Diguncang Lagi, Gedung Putih Tempuh Banding

Huntar memproduksi mainan edukatif untuk sejumlah ritel besar di AS, seperti Walmart dan Target.

Perusahaan itu mempekerjakan sekitar 400 hingga 500 pekerja di Shaoguan, China selatan.

David menjalankan bisnis bersama saudaranya, Jason Cheung.

Situasi mulai berubah pada 12 Mei tahun lalu. Saat itu, Washington dan Beijing mencapai gencatan senjata dagang dalam perundingan di Jenewa, Swiss.

Kesepakatan tersebut memangkas tarif impor tinggi yang sebelumnya diberlakukan kedua negara.

Sebelum kesepakatan tercapai, Huntar sudah bersiap memindahkan sebagian produksi ke Vietnam demi mempertahankan bisnis.

Cetakan produksi atau moulding untuk pabrik bahkan hampir melewati bea cukai China menuju Vietnam.

Baca juga: Siapa yang Menanggung Tarif Impor Trump? Warga AS Sendiri

Keluarga Cheung lalu membatalkan pengiriman setelah mendengar kabar kesepakatan dagang AS dan China.

Keputusan mendadak itu belakangan dinilai menyelamatkan perusahaan.

Jika cetakan produksi telanjur masuk Vietnam, Huntar harus membangun fasilitas baru di sana atau mengirim kembali peralatan ke China lewat proses bea cukai yang panjang.

Dua pilihan tersebut diperkirakan menunda produksi hingga dua siklus dan mengganggu arus kas perusahaan.

Perang tarif jadi ancaman besar

Kisah Huntar menunjukkan besarnya dampak perang dagang terhadap bisnis yang bergantung pada rantai pasok global.

Perusahaan seperti Huntar kini berharap hubungan AS dan China menjadi lebih stabil setelah pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Beijing pekan ini.

Sebagian besar analis memperkirakan gencatan tarif antara dua negara akan diperpanjang.

Salah satu alasannya ialah posisi kuat China dalam produksi logam tanah jarang atau rare earth.

Komoditas tersebut penting bagi berbagai industri AS, termasuk sektor pertahanan dan teknologi tinggi.

Kepala Ekonom Capital Economics, Neil Shearing, menilai pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh China menunjukkan AS tidak sepenuhnya dominan dalam hubungan dagang.

"Pembatasan ekspor China merupakan pengingat penting bahwa saling ketergantungan ekonomi memiliki dampak dua arah," kata Shearing.

"Presiden Trump menemukan bahwa AS sebenarnya tidak memegang semua kartu," lanjut dia.

Meski demikian, Shearing menilai upaya meredakan ketegangan belum menyentuh akar persoalan hubungan ekonomi kedua negara.

Menurut dia, masalah utama tetap berasal dari surplus perdagangan China yang mencapai sekitar 1,2 triliun dollar AS atau sekitar Rp 20.990 triliun, dengan kurs Rp 17.492 per dollar AS.

AS menuduh China menjalankan praktik merkantilisme, yakni strategi memperkuat ekspor dan membatasi impor demi memperbesar kekuatan ekonomi nasional.

Sebaliknya, China menilai AS berusaha menahan kebangkitan ekonominya.

"Ini adalah lingkaran umpan balik negatif. Geopolitik memperburuk ketidakseimbangan, dan ketidakseimbangan memperburuk ketegangan geopolitik," kata Shearing.

Berawal dari migrasi ayah pendiri perusahaan

Ironisnya, Huntar lahir dari perbedaan sistem ekonomi dan politik AS dengan China.

Ayah David Cheung melarikan diri dari China daratan pada masa pemerintahan komunis dengan berenang menyeberangi sungai menuju Hong Kong yang saat itu masih dikuasai Inggris.

Ia kemudian pindah ke California, AS, pada 1978 untuk mencari kehidupan lebih baik.

Awalnya, ia bekerja sebagai petugas kebersihan di San Francisco sambil menjual pakaian dan furnitur di pasar loak demi menambah penghasilan.

Hasil kerja itu kemudian menjadi modal membangun perusahaan mainan.

Seperti banyak perusahaan AS lain, Huntar akhirnya memindahkan produksi ke China karena biaya dan infrastruktur manufaktur lebih kompetitif.

Menurut asosiasi industri mainan The Toy Association, sekitar 80 persen mainan yang dibeli masyarakat AS diproduksi di China.

Cheung menilai ketegangan AS dan China masih akan membayangi rantai pasok global dalam jangka panjang.

Pembeli besar di AS kini terus mendorong diversifikasi produksi ke negara lain, termasuk Vietnam.

Meski begitu, banyak perusahaan tetap mengakui produksi di China masih sulit digantikan.

"Untuk mempertahankan sebanyak mungkin produksi di Tiongkok karena di sanalah kita memiliki infrastruktur. Di sanalah, terus terang, semuanya diproduksi dengan lebih baik," kata Cheung.

Huntar kini mulai bekerja sama dengan mitra produksi di Vietnam untuk sebagian produk.

Relokasi produksi juga menghadapi tantangan baru setelah harga plastik melonjak lebih dari 40 persen sejak perang Iran mengganggu pasokan minyak dunia.

Meski kondisi global masih penuh ketidakpastian, Cheung berharap tarif impor AS terhadap produk China tidak kembali naik drastis.

“Saya tidak bisa berharap tarif akan turun. Itu mimpi yang sia-sia,” kata dia.

“Saya hanya berharap tarif tetap stabil.”

Tag:  #nyaris #bangkrut #karena #tarif #trump #produsen #mainan #bertahan #berkat #gencatan #perang #dengan #dagang #china

KOMENTAR