Ribuan Transaksi Saham Donald Trump Jadi Sorotan, Ada Apa di Baliknya?
– Laporan keuangan terbaru Presiden AS, Donald Trump memicu perhatian luas. Dokumen tersebut mengungkap aktivitas investasi dalam skala besar, yakni 3.711 transaksi saham yang mayoritas melibatkan perusahaan-perusahaan AS.
Mengutip Bloomberg, Minggu (23/5/2026), besarnya aktivitas perdagangan tersebut menjadi sorotan karena dilakukan oleh seorang presiden yang kebijakannya dapat memengaruhi pasar keuangan.
Kebijakan pemerintah maupun pernyataan presiden dapat mengubah prospek perusahaan, sektor industri, hingga arah pergerakan bursa.
Baca juga: Trump Didesak Tunda Opsi Militer, Negara Arab Pilih Jalur Diplomasi Iran
Skala transaksi yang tidak biasa memunculkan berbagai spekulasi. Sebagian pihak mempertanyakan potensi konflik kepentingan, sementara lainnya menyoroti kemungkinan adanya perdagangan berbasis informasi internal.
Namun, analisis Bloomberg bersama sejumlah pakar investasi menunjukkan pola transaksi yang lebih kompleks. Aktivitas perdagangan itu dinilai tidak mudah disimpulkan hanya dari jumlah transaksi yang besar.
Dugaan penggunaan sistem otomatis
Pola perdagangan Trump dinilai memiliki karakteristik pengelolaan investasi modern. Banyak transaksi menunjukkan ciri strategi berbasis indeks dan sistem otomatis.
Trump Organization menyatakan seluruh aset investasi presiden dikelola lembaga keuangan pihak ketiga secara independen. Pengelola investasi memiliki kewenangan penuh dalam alokasi aset, pembelian, penjualan, penyeimbangan portofolio, hingga manajemen investasi.
Baca juga: Situasi Genting, Trump Siapkan Rencana Serang Iran Lagi
Perusahaan juga menyebut transaksi dijalankan melalui portofolio berbasis model otomatis dan strategi direct indexing. Trump, keluarga, maupun perusahaan disebut tidak terlibat dalam pengambilan keputusan investasi.
Wakil Presiden JD Vance ikut membela Trump. Ia menyebut anggapan bahwa presiden melakukan transaksi saham langsung dari Gedung Putih sebagai sesuatu yang "tidak masuk akal".
Meski demikian, kritik tetap bermunculan. Sejumlah pihak menilai kepemilikan saham individu oleh presiden berpotensi memunculkan konflik kepentingan.
Penasihat hukum Campaign Legal Center, Kedric Payne mengatakan publik bisa berasumsi seorang presiden melakukan investasi berdasarkan informasi yang dapat memengaruhi keuntungan pribadi.
Menurut dia, tidak boleh ada kesan bahwa presiden menggunakan jabatan untuk kepentingan finansial.
"Orang akan berasumsi seorang presiden bisa berinvestasi pada sesuatu yang ia ketahui akan menguntungkan dan dapat ia pengaruhi," ujar Payne.
Baca juga: Kevin Warsh Dilantik Jadi Bos The Fed, Trump Klaim Tak Akan Intervensi
Sorotan transaksi saham Nvidia
Kritik juga datang dari Senator Partai Demokrat, Elizabeth Warren. Ia menyoroti transaksi saham perusahaan yang dinilai memiliki keterkaitan dengan kebijakan pemerintah.
Warren mengutip pembelian saham Nvidia senilai sekitar 1 juta dollar AS. Transaksi tersebut terjadi sebelum pemerintah AS menyetujui penjualan chip canggih ke China.
Menurut Warren, praktik seperti itu seharusnya tidak terjadi. Ia menyebut aktivitas perdagangan saham perusahaan yang dipengaruhi kebijakan pemerintah berpotensi menimbulkan persoalan etika.
Lonjakan transaksi saham pada Maret
Jumlah transaksi saham Trump melonjak tajam dibanding laporan keuangan sebelumnya. Pada umumnya, laporan investasi Trump hanya mencatat transaksi dalam hitungan ratusan.
Lebih dari 2.000 transaksi tercatat sepanjang Maret 2026. Periode tersebut bertepatan dengan meningkatnya volatilitas pasar akibat perang Iran.
Baca juga: Trump Media Lepas Bitcoin Rp 3,62 Triliun, Investor Khawatir Tekanan Jual
Besarnya jumlah transaksi dan cakupan saham yang luas membuat analis melihat indikasi kuat penggunaan sistem otomatis. Banyak transaksi juga bernilai relatif kecil, sesuatu yang jarang dilakukan pengelola investasi secara manual.
Beberapa saham bahkan tercatat dibeli dan dijual lebih dari satu kali dalam sehari. Pola tersebut dinilai mengindikasikan agregasi transaksi dari lebih dari satu akun investasi.
Pakar investasi juga melihat indikasi praktik tax-loss harvesting. Strategi tersebut dilakukan dengan menjual saham yang merugi untuk mengurangi kewajiban pajak.
Co-founder Vise, Samir Vasavada, mengatakan praktik itu umum dilakukan investor dengan aset besar. Perusahaannya mengelola aset sekitar 80 miliar dollar AS dan menyediakan layanan indeks investasi kustom.
"Tax-loss harvesting mungkin merupakan strategi portofolio paling umum yang digunakan investor kaya dan ultra kaya saat ini," kata Vasavada.
Menurut dia, pola transaksi dalam laporan Trump kemungkinan menjadi contoh praktik tersebut dalam skala besar. Strategi seperti ini sering dijalankan melalui pendekatan direct indexing.
Pendekatan itu memungkinkan investor memiliki saham individual dalam suatu indeks. Investor dapat menjual saham yang merugi tanpa kehilangan eksposur terhadap pasar secara keseluruhan.
Baca juga: Konsulat AS Baru Diresmikan, Warga Greenland Langsung Demo Donald Trump
Berkaitan dengan pergerakan indeks saham
Sebagian besar transaksi juga terjadi berdekatan dengan jadwal penyeimbangan indeks saham besar. Hari perdagangan tersibuk kedua tercatat pada 23 Maret.
Tanggal tersebut bertepatan dengan proses rebalancing indeks S&P 500, S&P 600, S&P 400, dan S&P 100. Pada saat yang sama, FTSE Russell juga menambahkan saham baru ke sejumlah indeks acuannya.
Vasavada mengatakan sekitar 90 persen saham dalam laporan transaksi Trump memiliki kemiripan dengan konstituen Russell 3000. Temuan itu memperkuat dugaan penggunaan strategi investasi berbasis indeks.
Pola transaksi juga terlihat muncul saat pasar mengalami tekanan. Laporan menunjukkan terdapat 155 transaksi penjualan pada 12 Februari dan 124 transaksi penjualan pada 18 Maret.
Kedua hari tersebut bertepatan dengan penurunan indeks S&P 500 lebih dari 1 persen. Kondisi pasar yang melemah kerap dimanfaatkan investor untuk melakukan tax-loss harvesting.
"Ketika sistem secara otomatis mencari posisi rugi setiap hari, jumlah transaksi bisa menjadi sangat besar," kata Vasavada.
Baca juga: Kontra dengan Trump, Perancis Tolak NATO Ikut Amankan Selat Hormuz
Data masih menyisakan pertanyaan
Meski demikian, keterbatasan data membuat analis sulit menarik kesimpulan pasti. Laporan hanya menampilkan rentang nilai transaksi, bukan angka pasti pembelian maupun keuntungan investasi.
Dokumen itu juga tidak menunjukkan keuntungan atau kerugian setiap posisi investasi. Selain itu, tidak ada rincian aktivitas berdasarkan akun investasi.
Namun, sejumlah pola tetap menarik perhatian. Aktivitas perdagangan meningkat menjelang rilis data inflasi AS pada Januari dan Februari.
Lonjakan transaksi juga terlihat pada hari pengumuman inflasi Maret dan sehari setelahnya. Aktivitas perdagangan turut meningkat menjelang pertemuan Federal Reserve pada Maret.
Analis menilai pola itu bisa berkaitan dengan strategi investasi makro atau sensitivitas terhadap suku bunga. Namun, keterbatasan data membuat dugaan tersebut belum dapat dipastikan.
Dari total 3.711 transaksi, sebanyak 625 transaksi dikategorikan sebagai "unsolicited". Istilah itu merujuk pada transaksi yang tidak diinisiasi broker.
Mayoritas transaksi jenis tersebut terjadi pada Maret. Lonjakan terbesar muncul setelah AS melancarkan serangan terhadap Iran.
Sebagian besar transaksi "unsolicited" berupa pembelian saham. Polanya dinilai lebih tidak beraturan dibanding aktivitas perdagangan lain yang terlihat sistematis.
Baca juga: Trump Mendadak Batal Teken Regulasi AI, Khawatir Hambat Dominasi AS
Belum ada bukti mengalahkan pasar
Profesor keuangan Washington University, William Cassidy mengatakan aktivitas investasi seorang presiden memiliki dimensi berbeda dibanding pejabat publik lain. Informasi dalam laporan keuangan seperti itu berpotensi menarik perhatian pelaku pasar.
Trump juga dikenal kerap memberikan komentar langsung mengenai perusahaan tertentu. Situasi itu dinilai berbeda dibanding anggota Kongres yang umumnya tidak terlibat langsung dalam komunikasi pasar.
Laporan transaksi menunjukkan adanya pembelian saham Apple senilai 1 juta dollar AS hingga 5 juta dollar AS pada awal Maret. Transaksi tersebut terjadi sekitar sepekan sebelum Trump secara terbuka memuji CEO Apple Tim Cook.
Profesor Dartmouth College Bruce Sacerdote mengatakan volume transaksi dalam laporan Trump sangat besar. Namun, peneliti belum menemukan bukti kuat bahwa hasil investasinya secara konsisten mengungguli pasar.
"Yang mengejutkan adalah betapa banyak transaksi yang terjadi," kata Sacerdote.
"Kami belum menemukan bukti kuat bahwa hasil investasinya secara konsisten mengungguli pasar, termasuk saat ada perubahan kebijakan atau unggahan di media sosial," ujarnya.
Tag: #ribuan #transaksi #saham #donald #trump #jadi #sorotan #baliknya