Harga Emas Diprediksi Tembus Rp 2,9 Juta per Gram Pekan Depan, Jika Ini yang Terjadi
- Harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam sepekan ke depan, di tengah memanasnya tensi geopolitik global, penguatan dollar AS, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.
Bahkan, harga logam mulia di dalam negeri diproyeksikan berpeluang menembus Rp 2,9 juta per gram, apabila tren penguatan emas berlanjut.
Adapun, harga emas dunia melemah pada perdagangan Sabtu (23/5/2026) waktu New York, setelah pelaku pasar meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed. Sentimen itu muncul usai Gubernur The Fed Christopher Waller memberi sinyal potensi kenaikan suku bunga, sejalan dengan risiko inflasi akibat perang di Iran
Mengutip Bloomberg, Harga emas spot turun 0,8 persen menjadi 4.508,75 dollar AS per troy ounce. pada pukul 15.47 waktu New York. Harga perak terkoreksi 1,4 persen menjadi 75,61 dollar per troy ounce. Sementara platinum dan paladium juga melemah.
Baca juga: Harga Emas Dunia Stabil, Pasar Cermati Ketidakpastian Akhir Perang Timur Tengah
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan harga emas dan logam mulia di pekan terakhir Mei tahun ini masih akan bergerak volatil seiring tingginya ketidakpastian global, terutama dari sisi geopolitik, arah kebijakan moneter The Fed, hingga pergerakan harga minyak mentah dunia.
Ia mencatat, apabila harga emas dunia mengalami pelemahan dalam jangka pendek, maka level support pertama diperkirakan berada di 4.414 dollar AS per troy ounce. Pada level tersebut, harga logam mulia domestik diproyeksikan turun sekitar Rp 20.000 menjadi Rp 2.753.000 per gram.
Namun, apabila tekanan jual berlanjut hingga posisi support berikutnya di 4.333 dollar AS per troy ounce, maka harga logam mulia berpotensi turun lebih dalam ke area Rp 2.650.000 per gram.
“Kalau seandainya besok (Senin, 25 Mei 2026) melemah, ya support-nya ini di 4.414 dollar AS, kemungkinan turunnya 20.000, jadi Rp 2.753.000. Kemudian kalau seandainya turun, ini di 4.333 dolar AS per troy ounce, logammulia di Rp 2.650.000 per gram,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (24/5/2026).
Baca juga: Harga Emas Dunia Naik, Investor Pantau Negosiasi AS-Iran
Meski demikian, Ibrahim melihat peluang penguatan harga emas masih cukup besar apabila ketidakpastian global terus meningkat dan permintaan aset safe haven kembali melonjak.
Ia memperkirakan resistance pertama harga emas dunia berada di level 4.606 dollar AS per troy ounce yang dapat mendorong harga logam mulia domestik naik menuju Rp 2.797.000 per gram.
Sementara itu, resistance kedua diperkirakan berada di area 4.943 dollar AS per troy ounce. Jika level ini tercapai, harga logam mulia domestik dapat menembus harga Rp 2.900.000 per gram.
“Kalau seandainya emas dunia logam mulia menguat, resisten pertama itu di 4.606, kemudian logam mulianya di Rp 2.797.000 per gram. Kemudian resisten kedua, itu di 4.943 dollar, kemudian rupiahnya di Rp 2.900.000 per gram,” paparnya.
Baca juga: Harga Emas di Pegadaian 24 Mei 2026: Galeri 24 dan UBS Stabil
Konflik Rusia-Ukraina
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi harga emas saat ini adalah kembali memanasnya situasi geopolitik global, terutama konflik Rusia dan Ukraina.
Ukraina terus melakukan serangan terhadap wilayah Rusia, termasuk kawasan yang berkaitan dengan infrastruktur energi dan kilang minyak. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Konflik tersebut dipandang sulit mereda dalam waktu dekat selama persoalan wilayah pendudukan belum menemukan titik temu antara Rusia dan Ukraina.
Selain perang Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah juga menjadi perhatian pelaku pasar global. Ibrahim menyebut pembicaraan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung, termasuk terkait peluang pembukaan Selat Hormuz.
Meski Presiden AS Donald Trump disebut memberikan sinyal positif terkait peluang kesepakatan perdamaian dengan Iran, ketidakpastian masih cukup tinggi setelah sejumlah pejabat Iran menyatakan Amerika Serikat dianggap tidak konsisten dalam menghormati kepentingan nasional Iran.
Di sisi lain, Israel juga masih melanjutkan serangan ke Lebanon Selatan dan Jalur Gaza yang memperbesar ketidakpastian geopolitik kawasan. Kondisi itu mendorong investor global mencari aset aman seperti emas dan logam mulia.
Harga minyak mentah terus menguat
Tak hanya emas, Ibrahim juga memperkirakan harga minyak mentah dunia masih berpotensi menguat. Untuk minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), ia memperkirakan harga bergerak di kisaran support 92,600 dollar AS per barrel dan resistance 105,500 dollar AS per barrel.
Dari sisi kebijakan moneter AS, pasar juga menantikan arah kebijakan baru bank sentral AS setelah Kevin Walsh resmi dilantik sebagai Gubernur The Fed dan dijadwalkan memimpin rapat kebijakan pasar terbuka pada Juni mendatang.
Sebagian pejabat The Fed memang masih cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Namun, pernyataan Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin yang menyebut inflasi jangka panjang masih terkendali memberikan harapan adanya penurunan suku bunga hingga akhir tahun.
Permintaan bank sentral tinggi
Selain faktor geopolitik dan kebijakan suku bunga, permintaan emas dari bank sentral global juga dinilai menjadi salah satu penopang harga logam mulia.
Menurut Ibrahim, ketika harga emas dunia mengalami koreksi, banyak bank sentral justru memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan pembelian emas sebagai instrumen lindung nilai.
Pergerakan harga emas domestik juga dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pelemahan rupiah saat ini bukan semata faktor teknis, melainkan persoalan struktural akibat defisit neraca transaksi berjalan dan tingginya kebutuhan impor minyak nasional.
Indonesia masih mengimpor sekitar 1,5 juta barrel minyak per hari dan sekitar 85 persen diantaranya digunakan untuk bahan bakar bersubsidi. Ketika harga minyak dunia naik dan dollar AS menguat, kebutuhan devisa pemerintah ikut meningkat.
Kenaikan 1 dollar per barrel itu diasumsikan sekitar Rp 4 triliun.
Selain itu, pasar juga disebut masih mencermati berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi mempengaruhi persepsi investor global terhadap Indonesia, termasuk terkait pengelolaan komoditas dan outlook utang nasional.
Tag: #harga #emas #diprediksi #tembus #juta #gram #pekan #depan #jika #yang #terjadi