HIMKI: Industri Mebel Tak Bisa Selamanya Bergantung pada Pelemahan Rupiah
Pameran furnitur dan mebel IFEX. (Dyandra)
15:40
27 Mei 2026

HIMKI: Industri Mebel Tak Bisa Selamanya Bergantung pada Pelemahan Rupiah

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai industri mebel nasional tidak bisa terus bergantung pada pelemahan nilai tukar rupiah untuk menjaga daya saing ekspor.

Pelaku usaha menilai penguatan fundamental industri jauh lebih penting dibandingkan keuntungan sementara akibat fluktuasi kurs.

Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, mengatakan pelaku industri yang sehat seharusnya tidak menjadikan pergerakan kurs sebagai strategi utama bisnis.

“Bagi pelaku industri yang sehat, kurs sebaiknya dilihat sebagai bonus kecil, bukan strategi utama bisnis. Industri tidak bisa menggantungkan daya saing pada pelemahan rupiah,” ujar Sobur kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).

Baca juga: Penguatan Dollar AS Belum Cukup Dongkrak Ekspor Mebel, Pelaku Usaha Minta Kepastian Kebijakan

Sobur mengatakan industri mebel Indonesia membutuhkan penguatan daya saing yang lebih berkelanjutan.

Penguatan tersebut mencakup peningkatan produktivitas, efisiensi produksi, inovasi desain, kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga dukungan regulasi yang konsisten.

“Yang jauh lebih penting adalah produktivitas, efisiensi, inovasi desain, kualitas SDM, serta dukungan regulasi yang konsisten,” katanya.Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul SoburKOMPAS.COM /KIKI SAFITRI Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur

Sobur menilai industri mebel nasional masih menghadapi tantangan struktural yang membuat daya saing belum optimal di pasar global.

“Kalau boleh jujur, industri mebel Indonesia sebenarnya membutuhkan daya saing struktural, bukan sekadar keuntungan sesaat karena pergerakan kurs,” ucap dia.

Ia mencontohkan Vietnam yang dinilai lebih unggul dalam industri furnitur global.

Keunggulan Vietnam, menurut Sobur, tidak berasal dari faktor kurs mata uang, tetapi dari kepastian kebijakan dan dukungan ekosistem industri yang kuat.

“Vietnam sering kali lebih unggul bukan karena kurs mata uangnya, tetapi karena kepastian kebijakan, kecepatan layanan, dukungan industri pendukung, dan produktivitas yang sangat terukur,” tutur Sobur.

Baca juga: Kisah Slamet, Eks Karyawan Mebel yang Banting Setir jadi Juragan Wingko Babat

Meski demikian, Sobur mengakui penguatan dolar AS tetap memberi sedikit keuntungan bagi eksportir.

Sebab, transaksi ekspor menggunakan mata uang dolar AS, sedangkan sebagian biaya produksi masih dalam rupiah.

“Secara teori, penguatan dollar AS memang bisa memberi keuntungan bagi eksportir mebel dan kerajinan Indonesia karena pendapatan ekspor diterima dalam dollar AS sementara sebagian biaya produksi masih dalam rupiah,” katanya.

Namun, Sobur menegaskan kondisi di lapangan tidak sesederhana asumsi kenaikan dolar AS otomatis meningkatkan keuntungan industri.

“Namun realitanya saat ini situasinya tidak sesederhana ‘dollar naik berarti industri untung’,” ujar dia.

Kenaikan dolar AS juga diikuti lonjakan berbagai biaya impor.

Biaya tersebut mencakup bahan pendukung, mesin, komponen tertentu, bahan finishing, hingga biaya logistik internasional.

Kondisi itu membuat tambahan margin dari selisih kurs tidak sepenuhnya menjadi keuntungan bersih.

Sobur juga mengingatkan tantangan terbesar industri mebel saat ini berasal dari ketidakpastian permintaan pasar global.

“Jika dollar menguat karena ketidakpastian ekonomi dunia, suku bunga tinggi, atau perlambatan ekonomi di negara tujuan ekspor, konsumen justru cenderung menahan belanja produk furnitur karena termasuk discretionary spending,” kata Sobur.

Karena itu, HIMKI menilai penguatan dolar AS hanya memberi ruang napas sementara.

Kondisi tersebut belum cukup menjadi solusi fundamental bagi industri mebel nasional.

“Bagi kami, penguatan dollar mungkin memberi sedikit ruang napas, tetapi belum tentu menjadi angin segar yang benar-benar mengubah kondisi industri secara fundamental,” tegas Sobur.

Nilai tukar rupiah terus melemah dalam sepekan terakhir.

Bloomberg mencatat, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.804 per dolar AS pada Selasa (26/5/2026).

Posisi tersebut melemah 0,05 persen dibandingkan penutupan Senin (25/5/2026) di level Rp 17.796 per dolar AS.

Tag:  #himki #industri #mebel #bisa #selamanya #bergantung #pada #pelemahan #rupiah

KOMENTAR