BRIN dan PalmCo Kembangkan Gas dari Limbah Sawit untuk Pengganti LPG
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN bersama Sub Holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo, mengembangkan Bio-Compressed Biomethane Gas berbasis limbah sawit.
Energi tersebut disiapkan sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas atau LPG.
Pengembangan ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan bauran energi terbarukan.
"Selama ini limbah sawit identik dengan persoalan lingkungan. Sekarang pendekatannya berubah. Limbah justru bisa menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional," kata Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Emisi Avtur dari Limbah Cair Sawit Lebih Rendah 79,6 Persen
Jatmiko mengatakan, pencarian sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil impor kini mulai mengarah ke sektor perkebunan sawit.
PalmCo bersama BRIN tengah mematangkan kajian pengembangan Bio-Compressed Biomethane Gas atau Bio-CBG.
Bio-CBG merupakan gas biomethana berbasis limbah sawit dengan kualitas setara gas alam terkompresi atau compressed natural gas, CNG.
Energi hasil pengolahan limbah kelapa sawit itu diproyeksikan menjadi substitusi LPG impor.
Energi tersebut juga diharapkan memperkuat bauran energi baru terbarukan nasional.
Jatmiko mengatakan, pengembangan Bio-CBG menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
Strategi itu dilakukan untuk mengoptimalkan limbah sawit menjadi energi bernilai tambah tinggi.
Menurut Jatmiko, proyek bersama BRIN difokuskan pada pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent, POME, dan biomassa tandan kosong.
Baca juga: Limbah Cair Sawit, Pencemar Lingkungan yang Berpotensi Jadi Sumber Energi Terbarukan
Kedua bahan tersebut akan diolah menjadi biomethana berkadar tinggi. Gas itu kemudian dimurnikan hingga memiliki spesifikasi menyerupai gas bumi.
"Bio-CBG ini pada dasarnya merupakan ‘kembaran hijau’ dari CNG. Fungsinya sama dan bisa digunakan sebagai alternatif pengganti LPG maupun bahan bakar fosil lainnya," terang Jatmiko.
Menurut Jatmiko, langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk menekan ketergantungan impor energi.
PalmCo saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan energi hijau berbasis sawit.
Salah satu proyek yang sedang berjalan adalah pembangunan fasilitas Bio-CBG di Pabrik Kelapa Sawit atau PKS Tinjowan, Sumatera Utara.
PalmCo bekerja sama dengan perusahaan mitra dalam proyek tersebut.
Perusahaan menargetkan pembangunan 17 instalasi Bio-CBG hingga 2029.
Tahun ini, PalmCo merencanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk 8 proyek baru.
"Ini kami lakukan bertahap. Harapannya, fasilitas pengolahan limbah sawit tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga gas siap pakai yang bisa dimanfaatkan sektor industri maupun transportasi," ujarnya.
Potensi energi dari limbah sawit
Kebutuhan energi nasional yang terus meningkat membuat pengembangan biomethana menjadi peluang baru bagi industri sawit.
Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia menghasilkan limbah cair dan biomassa dalam jumlah besar setiap tahun.
Limbah cair sawit secara alami melepaskan gas metana. Gas metana memiliki dampak emisi lebih besar dibanding karbon dioksida.
Karena itu, penangkapan metana untuk diolah menjadi energi dinilai mampu menekan emisi. Langkah tersebut juga membuka sumber energi alternatif baru.
BRIN melakukan audit energi dan evaluasi teknis di sejumlah fasilitas PalmCo dari sisi teknologi.
Fasilitas tersebut termasuk Pabrik Kelapa Sawit dan Pembangkit Tenaga Biogas atau PTBg Sei Pagar, Riau.
Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN Hens Putra mengatakan, sektor sawit memiliki potensi besar untuk mendukung agenda transisi energi nasional.
Potensi itu bisa dimanfaatkan jika limbah sawit diolah secara optimal.
"Energi menjadi prioritas nasional. Kajian ini bukan hanya menghitung potensi energi, tetapi juga meningkatkan efisiensi agar pengolahan limbah sawit lebih optimal dan berkelanjutan," ungkap Hens.
Menurut Hens, pengembangan Bio-CBG berbasis sawit sejalan dengan agenda pembangunan rendah karbon.
Pengembangan itu mampu menekan emisi metana dan menghasilkan produk turunan bernilai tambah.
BRIN juga melihat peluang pengembangan kawasan inovasi berbasis industri sawit atau technopark.
Kawasan tersebut dapat mengintegrasikan riset, pengolahan limbah, dan pengembangan energi baru terbarukan.
"Kami berharap model ini nantinya bisa direplikasi secara nasional dan menjadi contoh pengembangan energi berbasis sawit di Indonesia," ujarnya.
Produksi metana meningkat
Peneliti Energi BRIN Samuel Pati Senda menjelaskan, hasil audit lapangan di fasilitas PTBg cofiring Sei Pagar menunjukkan peningkatan efisiensi produksi gas metana.
Produksi metana tercatat meningkat dari rata-rata 36.706 normal meter kubik atau Nm3 per bulan pada 2025.
Angka tersebut naik menjadi 46.683 Nm3 per bulan pada periode pengujian tahun 2026.
"Data itu menunjukkan teknologi pengolahan limbah sawit untuk energi sudah cukup matang dan layak direplikasi dalam skala lebih besar," kata Samuel.
Menurut Samuel, pemanfaatan limbah sawit menjadi Bio-CBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan energi alternatif.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular di industri perkebunan.
"Limbah yang sebelumnya menjadi sumber emisi kini bisa diubah menjadi energi bersih. Jadi ada manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi," ujarnya.
Pengembangan biomethana berbasis sawit juga dinilai dapat memperkuat target pemerintah mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen.
Tantangan transisi energi dan tingginya impor LPG membuat pengolahan limbah sawit menjadi "kembaran hijau" gas alam mulai dilihat sebagai solusi realistis dari sektor agroindustri nasional.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM menyatakan pemanfaatan gas domestik menjadi salah satu strategi untuk mengurangi beban impor LPG.
Impor LPG setiap tahun masih cukup tinggi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut penggunaan energi berbasis gas dalam negeri lebih kompetitif.
Sumber daya dan industrinya tersedia di Indonesia.
"Gasnya ada di kita, industrinya juga ada di dalam negeri. Karena itu pengembangannya perlu terus diperluas," ujar Bahlil dalam keterangan terkait program substitusi energi impor.
Tag: #brin #palmco #kembangkan #dari #limbah #sawit #untuk #pengganti