Kemendag Bidik Afrika Sub-Sahara Jadi Pasar Baru Produk Indonesia
Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri.(KOMPAS.com/MARKUS YUWONO)
15:16
8 Juni 2026

Kemendag Bidik Afrika Sub-Sahara Jadi Pasar Baru Produk Indonesia

- Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara di kawasan Afrika Sub-Sahara sebagai upaya membuka pasar baru bagi produk dan investasi Indonesia.

Melalui penjajakan kolaborasi di sektor pangan, kesehatan, energi, hingga infrastruktur, pemerintah melihat peluang besar untuk meningkatkan hubungan perdagangan sekaligus memperkuat kehadiran produk-produk unggulan Indonesia di salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

“Ada kebutuhan pembangunan di berbagai negara Afrika pada sektor pangan, kesehatan, energi, dan infrastruktur membuka peluang yang luas bagi produk dan investasi Indonesia,” kata Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2026).

Baca juga: Kemendag Minta Take Down Ribuan Iklan Minuman Beralkohol hingga Minyakita dari Marketplace

“Berbagai produk unggulan Indonesia, seperti minyak sawit, produk kertas, makanan olahan, serta barang konsumsi lainnya, memiliki peluang besar untuk semakin memperkuat kehadirannya di pasar Afrika,” lanjut dia.

Dia mengatakan, kerja sama ekonomi dengan negara-negara Afrika Sub-Sahara merupakan bagian dari strategi diversifikasi pasar dan penguatan ketahanan perdagangan nasional di tengah dinamika ekonomi global.

“Afrika merupakan kawasan yang memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan dan menjadi mitra strategis Indonesia dalam memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi jangka panjang,” ujarnya.

“Di tengah ketidakpastian global, penguatan hubungan ekonomi dengan negara-negara Afrika merupakan langkah strategis untuk membangun ketahanan bersama,” lanjut dia.

Dia mengatakan, Indonesia memandang Afrika bukan hanya sebagai pasar potensial, tetapi juga sebagai mitra pembangunan yang memiliki visi yang sama dalam mewujudkan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Roro menjelaskan bahwa kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan fondasi yang semakin kuat.

Pada 2025, total nilai perdagangan Indonesia mencapai 524,8 miliar dollar AS atau meningkat 22,6 persen dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperluas kemitraan perdagangan dengan berbagai kawasan potensial, termasuk Afrika.

Saat ini, nilai perdagangan Indonesia dengan kawasan Afrika mencapai sekitar 18,5 miliar dollar AS atau setara 3,5 persen dari total perdagangan Indonesia.

Meski kontribusinya masih relatif kecil, potensi pengembangannya dinilai sangat besar seiring pertumbuhan ekonomi kawasan Afrika Sub-Sahara yang diproyeksikan berada pada kisaran 4–4,5 persen pada 2026.

Untuk mengoptimalkan peluang tersebut, Indonesia mengedepankan strategi yang berfokus pada tiga jalur utama.

Pertama, memperkuat keterlibatan dengan organisasi ekonomi regional di Afrika sebagai pintu masuk menuju pasar yang lebih luas.

“Kedua, memperdalam kerja sama bilateral dengan negara-negara mitra prioritas. Ketiga, memperluas jangkauan diplomasi ekonomi Indonesia di kawasan Afrika Timur, Afrika Barat, dan Afrika Selatan,” jelas Roro.

Selain itu, Indonesia juga menyambut positif implementasi kawasan perdagangan bebas Afrika atau AfCFTA yang diyakini akan mempercepat integrasi ekonomi regional dan menciptakan peluang baru bagi peningkatan perdagangan antarnegara berkembang.

Dia menegaskan bahwa pendekatan Indonesia dalam memperkuat hubungan ekonomi dengan Afrika tidak hanya dilakukan melalui jalur pemerintah, tetapi juga didorong oleh kolaborasi erat dengan dunia usaha.

“Pemerintah akan terus membuka ruang dialog dan kerja sama antarpemerintah, menghubungkan komunitas bisnis kedua kawasan, serta mendorong terwujudnya kerja sama konkret yang menghasilkan investasi, kontrak dagang, dan kehadiran usaha Indonesia yang lebih kuat di pasar Afrika,” jelasnya.

Indonesia juga terus mendorong penguatan kerja sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation) sebagai instrumen untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan.

Salah satu langkah nyata yang telah dilakukan adalah penyelenggaraan program South-South Triangular Cooperation on Trade and Investment Promotion for African Countries yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari Indonesia dan negara-negara Afrika untuk berbagi pengalaman, memperkuat kapasitas, dan memperluas jejaring kerja sama ekonomi.

Roro berharap kerja sama ini dapat membangun kemitraan ekonomi yang semakin erat dengan negara-negara Afrika Sub-Sahara, memperluas akses pasar bagi pelaku usaha nasional, serta menciptakan peluang pertumbuhan baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua kawasan.

“Kami optimistis hubungan perdagangan dan investasi dengan negara-negara Afrika akan terus berkembang menjadi salah satu pilar penting dalam penguatan posisi Indonesia di pasar global,” tegas dia.

Baca juga: Kemendag Targetkan Uji Tera 5.000 Unit SPKLU

Tag:  #kemendag #bidik #afrika #sahara #jadi #pasar #baru #produk #indonesia

KOMENTAR