Harga Avtur Melonjak, Laba Maskapai Penerbangan Dunia Tergerus Rp 399 Triliun
Ilustrasi pesawat, ilustrasi penerbangan.(SHUTTERSTOCK/Skycolors)
07:20
9 Juni 2026

Harga Avtur Melonjak, Laba Maskapai Penerbangan Dunia Tergerus Rp 399 Triliun

Industri penerbangan global menghadapi tekanan berat pada 2026. Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dan lonjakan harga bahan bakar pesawat membuat prospek keuntungan maskapai di seluruh dunia memburuk drastis.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau International Air Transport Association (IATA) memangkas proyeksi laba bersih industri penerbangan global tahun ini menjadi 23 miliar dollar AS atau sekitar Rp 417,22 triliun (asumsi kurs Rp 18.140 per dollar AS).

Dikutip dari laman resmi IATA, angka tersebut turun hampir separuh dibandingkan laba 2025 yang diperkirakan mencapai 45 miliar dollar AS atau sekitar Rp 816,3 triliun.

Baca juga: INACA: Industri Penerbangan Topang 6 Juta Lapangan Kerja di Indonesia

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Direktur Jenderal IATA Willie Walsh mengatakan perang dan gangguan operasional di kawasan Timur Tengah telah mengubah prospek industri secara signifikan.

“Gangguan terkait perang di Timur Tengah dan kenaikan biaya bahan bakar telah memperburuk prospek maskapai penerbangan,” kata Walsh.

Menurut IATA, margin laba bersih industri juga diperkirakan turun dari 4,2 persen pada 2025 menjadi hanya 2 persen pada 2026. Artinya, setiap kenaikan biaya yang terjadi saat ini semakin menggerus ruang keuntungan maskapai penerbangan.

Penurunan laba tersebut terjadi ketika permintaan perjalanan udara global masih relatif kuat. Namun, kenaikan biaya operasional yang sangat tajam, terutama untuk avtur, membuat maskapai kesulitan mempertahankan profitabilitasnya.

Baca juga: Rupiah Melemah dan Biaya Operasional Naik, Lion Klaim Permintaan Penerbangan Masih Tinggi

Tagihan bahan bakar melonjak Rp 1.814 triliun

Faktor utama yang menekan industri adalah kenaikan harga avtur yang mencapai sekitar 70 persen dalam waktu singkat akibat terganggunya pasokan energi global.

Ilustrasi avtur, pengisian avtur.PEXELS/RAFAEL RODRIGUES Ilustrasi avtur, pengisian avtur.

Konflik di Timur Tengah dan gangguan terhadap jalur distribusi energi strategis membuat harga bahan bakar penerbangan melonjak tajam.

IATA memperkirakan total tagihan bahan bakar maskapai global pada 2026 mencapai sekitar 350 miliar dollar AS atau setara Rp 6.349 triliun. Angka ini melonjak dibandingkan sekitar 252 miliar dollar AS atau Rp 4.571 triliun pada 2025.

Dengan demikian, terdapat tambahan beban biaya bahan bakar sekitar 100 miliar dollar AS atau Rp 1.814 triliun dalam satu tahun.

Baca juga: Sistem Navigasi Penerbangan Jakarta Ditargetkan Modern Mulai Juni 2026

Kenaikan tersebut menunjukkan betapa sensitifnya industri penerbangan terhadap perubahan harga energi. Bahan bakar selama ini merupakan salah satu komponen biaya terbesar maskapai bersama biaya tenaga kerja.

Fluktuasi harga bahan bakar memiliki dampak langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan penerbangan.

IATA memperkirakan harga rata-rata avtur tahun ini mencapai sekitar 152 dollar AS per barrel atau setara Rp 2,76 juta per barrel. Kenaikan tersebut jauh di atas asumsi yang digunakan industri ketika menyusun proyeksi bisnis pada akhir tahun lalu.

Situasi ini berbanding terbalik dengan ekspektasi yang sempat muncul pada penghujung 2025. Saat itu, IATA memperkirakan biaya bahan bakar 2026 akan turun tipis menjadi 252 miliar dollar AS seiring proyeksi harga minyak yang lebih rendah.

Baca juga: 10 Maskapai Penerbangan Bintang Lima Versi Skytrax, Semuanya dari Asia

Namun perkembangan geopolitik di Timur Tengah mengubah seluruh asumsi tersebut.

Laba per penumpang menyusut

Dampak lonjakan biaya juga tercermin dari keuntungan yang diperoleh maskapai untuk setiap penumpang yang diangkut.

IATA memperkirakan laba bersih per penumpang pada 2026 hanya sebesar 4,50 dollar AS atau sekitar Rp 81.630. Angka tersebut turun dari 9,10 dollar AS atau sekitar Rp 165.074 pada tahun sebelumnya.

Ilustrasi penerbangan di sebuah pesawat.PIXABAY/ OrnaW Ilustrasi penerbangan di sebuah pesawat.

Penurunan laba per penumpang menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah penumpang tidak otomatis meningkatkan keuntungan industri. Sebagian besar tambahan pendapatan justru terserap untuk menutupi kenaikan biaya operasional, terutama bahan bakar.

Baca juga: Kemenhub Terbitkan Aturan Baru Fuel Surcharge, Asosiasi Maskapai: Bantu Industri Penerbangan

Walsh menilai seluruh maskapai terdampak oleh lonjakan harga bahan bakar tersebut.

“Secara global, maskapai penerbangan diperkirakan akan mengalami penurunan profitabilitas hingga setengahnya dibandingkan tahun 2025. Keuntungan akan menyusut dari 45 miliar dollar AS pada tahun 2025 menjadi 23 miliar dollar AS tahun ini. Dan margin akan menyusut dari 4,2 persen menjadi 2,0 persen,” ujar Walsh.

Harga tiket pesawat berpotensi lebih mahal

Kondisi keuangan yang semakin tertekan membuat maskapai tidak memiliki banyak pilihan selain melakukan penyesuaian harga tiket atau mengurangi kapasitas penerbangan.

IATA memperingatkan, kenaikan tarif penerbangan sulit dihindari karena industri harus menanggung tambahan biaya bahan bakar yang sangat besar.

Baca juga: IEA: Industri Petrokimia dan Penerbangan Paling Terdampak Konflik Timur Tengah

Walsh menyebut kenaikan harga tiket sebagai sesuatu yang “inevitable” atau tidak terelakkan di tengah lonjakan biaya energi. Menurutnya, banyak konsumen juga mulai memahami biaya perjalanan udara akan meningkat akibat kondisi geopolitik dan harga bahan bakar yang lebih mahal.

Di sisi lain, sejumlah pelaku industri memperingatkan jika harga bahan bakar tetap tinggi dalam jangka panjang, maskapai dapat mengurangi kapasitas penerbangan guna menjaga kesehatan keuangan perusahaan.

Dikutip dari Reuters, Chief Executive Officer LATAM Airlines Roberto Alvo mengatakan industri mungkin harus terus memangkas kapasitas hingga 2027 apabila guncangan harga bahan bakar berlanjut.

Ilustrasi pesawat, penerbangan.PIXABAY/TOBIAS REHBEIN Ilustrasi pesawat, penerbangan.

Menurut Alvo, pengurangan kapasitas bisa menjadi satu-satunya cara untuk menstabilkan industri ketika biaya operasional meningkat tajam.

Baca juga: Airbus Jajaki Kerja Sama Strategis Pengembangan Bandara dan Layanan Penerbangan RI

Ia juga menilai maskapai dengan neraca keuangan yang kuat dan basis pelanggan premium akan lebih mampu menghadapi tekanan tersebut dibandingkan maskapai berbiaya murah yang memiliki margin tipis.

Gangguan ruang udara menambah beban

Selain harga bahan bakar, konflik Timur Tengah juga memicu gangguan terhadap operasional penerbangan internasional.

Sejumlah maskapai harus mengubah rute penerbangan untuk menghindari wilayah udara yang dianggap berisiko. Pengalihan rute menyebabkan waktu tempuh lebih panjang dan konsumsi bahan bakar meningkat.

Pada saat yang sama, biaya operasional bertambah ketika harga bahan bakar sedang berada pada level tinggi.

Baca juga: Pelaku Industri Penerbangan Berkumpul di IAS 2026, Bahas Masa Depan Aviasi

CEO Air India Campbell Wilson mengatakan penutupan ruang udara dan kenaikan harga bahan bakar membuat sebagian rute menjadi semakin sulit dipertahankan secara ekonomi.

“Jika Anda mempertimbangkan semua dinamika persaingan tersebut, biaya tambahan untuk penerbangan ekstra ini, biaya tambahan untuk bahan bakar, hal itu membuat beberapa rute menjadi tidak ekonomis,” kata Wilson.

IATA sebelumnya juga mencatat lalu lintas penumpang global mengalami kontraksi pada April 2026, pertama kalinya sejak pemulihan pascapandemi Covid-19.

Penurunan tersebut terutama dipicu melemahnya kinerja maskapai-maskapai Timur Tengah yang terdampak langsung oleh konflik kawasan.

Baca juga: Lima Negara Asean Bertemu Bahas Tren Keselamatan Penerbangan Regional dan Global

Ilustrasi pesawat, penerbangan.PIXABAY/???????? Ilustrasi pesawat, penerbangan.

Tekanan datang dari berbagai arah

Di luar persoalan bahan bakar dan konflik geopolitik, industri penerbangan masih menghadapi masalah rantai pasok pesawat yang belum sepenuhnya pulih.

Mengutip Financial Times, keterlambatan pengiriman pesawat baru dan gangguan pasokan mesin membuat banyak maskapai terpaksa mengoperasikan armada yang lebih tua. Kondisi tersebut menyebabkan efisiensi bahan bakar memburuk sehingga biaya operasional semakin tinggi.

Dalam laporan sebelumnya, IATA mencatat usia rata-rata pesawat global telah melampaui 15 tahun, level tertinggi yang pernah terjadi. Keterbatasan armada baru membuat upaya efisiensi konsumsi bahan bakar berjalan lebih lambat dibanding kebutuhan industri saat ini.

Walsh juga menyoroti masalah keandalan dan keterlambatan pengiriman dari produsen pesawat serta mesin pesawat yang masih membebani maskapai penerbangan.

Baca juga: Krisis Bahan Bakar Jet Mengancam Eropa, Risiko Pemangkasan Penerbangan Meningkat

Meski demikian, IATA masih memperkirakan industri penerbangan global tetap mencatat laba positif pada 2026.

Namun, laba tersebut jauh lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya karena sebagian besar keuntungan terserap oleh lonjakan biaya bahan bakar dan dampak konflik yang berlangsung di Timur Tengah.

Tag:  #harga #avtur #melonjak #laba #maskapai #penerbangan #dunia #tergerus #triliun

KOMENTAR