Trump Desak Gencatan Senjata, Harga Minyak Naik di Tengah Kekhawatiran Soal Pasokan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berjalan menaiki pesawat kepresidenan di Bandara Morristown, Negara Bagian New Jersey, 22 Mei 2026.(AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)
08:40
9 Juni 2026

Trump Desak Gencatan Senjata, Harga Minyak Naik di Tengah Kekhawatiran Soal Pasokan

- Harga minyak dunia menguat pada akhir perdagangan Senin (8/6/2026) waktu setempat atau Selasa (9/6/2026) pagi WIB, setelah Iran dan Israel menyatakan menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 1,16 dollar AS atau 1,3 persen menjadi 94,25 dollar AS per barrel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 76 sen AS atau 0,8 persen menjadi 91,30 dollar AS per barrel.

Meski demikian, kedua kontrak minyak tersebut sempat melonjak lebih dari 5 persen pada awal perdagangan setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat akibat serangan terbaru Israel ke Iran dan Lebanon.

Israel dilaporkan menyerang fasilitas petrokimia di Iran barat daya yang diklaim digunakan untuk memproduksi rudal balistik. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang fasilitas serupa milik Israel di Kota Haifa.

Baca juga: Konflik Iran-Israel Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen

Ketegangan itu terjadi setelah Israel melancarkan serangan terhadap basis-basis Hizbullah yang didukung Iran di Beirut pada akhir pekan lalu.

Teheran berulang kali menegaskan bahwa setiap kesepakatan dengan Washington untuk mengakhiri konflik harus mencakup penghentian operasi militer Israel di Lebanon.

Senior Vice President Trading BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan pasar minyak bergerak lebih tinggi di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik.

"Harga minyak mentah diperdagangkan lebih tinggi dalam kondisi pasar yang gelisah setelah Iran dan Israel saling melancarkan serangan rudal selama akhir pekan," ujar Kissler.

Namun, sentimen pasar mereda setelah Trump mendesak kedua negara untuk segera menghentikan aksi militer mereka.

Trump pada Senin meminta Israel dan Iran agar "segera menghentikan tembakan" guna mencegah konflik semakin meluas.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Israel Kembali Serang Lebanon

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan investor masih mencermati potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya sebelum konflik mencuat.

Menurutnya, kekhawatiran bahwa arus energi melalui Selat Hormuz dapat terganggu lebih lama menjadi salah satu faktor yang menopang harga minyak.

Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk Rusia menyatakan Selat Hormuz tetap akan dibuka, namun dengan sejumlah persyaratan yang ditetapkan Iran dan Oman, termasuk kemungkinan penerapan biaya transit.

Komandan Pasukan Quds Iran, Esmail Qaani, juga mengumumkan rencana pembentukan sabuk keamanan baru yang membentang dari Selat Hormuz hingga Selat Bab el-Mandeb di dekat Yaman, serta mencakup kawasan Teluk hingga Laut Merah.

Analis SEB Research Erik Meyersson menilai hasil terbaik bagi pasar dalam jangka pendek adalah tercapainya kesepakatan terbatas yang mampu mencegah gangguan di Selat Hormuz dan menghentikan serangan militer, meski belum menyelesaikan akar permasalahan konflik.

"Bagi pasar, hasil terbaik dalam jangka pendek adalah adanya kesepakatan terbatas yang memisahkan gangguan di selat dan aksi militer dari sumber utama perselisihan, sehingga memberikan waktu tanpa benar-benar menyelesaikan masalah," kata Meyersson.

Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan akan melarang kapal-kapal yang terkait dengan Israel melintasi Laut Merah setelah Israel kembali melancarkan serangan ke Iran. Langkah tersebut menambah kekhawatiran terhadap kelancaran perdagangan global dan pasokan energi.

Di tengah ancaman gangguan pasokan, kelompok produsen minyak OPEC+ pada Minggu (7/6/2026) menyepakati kenaikan target produksi minyak untuk keempat kalinya dalam empat bulan terakhir.

Meski demikian, sejumlah analis menilai keputusan tersebut tidak akan memberikan dampak besar terhadap pasokan global karena sebagian besar anggota OPEC+ masih kesulitan memenuhi target produksinya.

"Dalam kondisi pasar saat ini, dampak nyata dari keputusan tersebut terhadap pasokan akan mendekati nol," ujar Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy Jorge Leon.

Tag:  #trump #desak #gencatan #senjata #harga #minyak #naik #tengah #kekhawatiran #soal #pasokan

KOMENTAR