Membandingkan Pelemahan Rupiah Saat Krismon 1998, Pandemi Covid-19, dan 2026, Apa Bedanya?
ilustrasi rupiah dollar AS, dolar hari ini. Rupiah Tembus Rp 18.200 per Dollar AS.(ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
09:04
9 Juni 2026

Membandingkan Pelemahan Rupiah Saat Krismon 1998, Pandemi Covid-19, dan 2026, Apa Bedanya?

— Nilai tukar rupiah kembali menembus level psikologis Rp 18.000 per dollar AS. Pada penutupan pasar spot, Senin (8/6/2026) rupiah ditutup pada level Rp 18.187 per dollar AS. Sepanjang Senin rupiah bergerak di kisaran Rp 18.035 hingga Rp 18.187 per dolar AS, bahkan sempat menembus level Rp 18.200 per dollar AS.

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar membandingkan, pelemahan tersebut ketika dua periode krisis besar yang pernah mengguncang perekonomian nasional, yakni krisis moneter 1997-1998 dan pandemi Covid-19 pada 2020.

Meski sama-sama ditandai oleh anjloknya nilai tukar rupiah, penyebab dan karakteristik tekanan yang terjadi pada masing-masing periode dinilai berbeda.

Dia menilai pelemahan rupiah pada era krisis moneter 1998 lebih banyak dipicu oleh serangan spekulan mata uang yang mengguncang kawasan Asia Tenggara.

"Krisis moneter 1997 sehingga 1 dollar AS menyentuh Rp 16.500 di pertengahan Juni 1998 disebabkan oleh para spekulan mata uang. Krisis baht di Thailand berdampak ke rupiah, peso, dan ringgit," ujar Timboel kepada Kompas.com, Senin (8/6/2026).

Baca juga: Purbaya Tegaskan Indonesia Tidak Menuju Krisis seperti 1997 sampai 1998

Menurut dia, saat itu pemerintah dan Bank Indonesia berupaya keras mempertahankan nilai tukar rupiah dengan menggelontorkan cadangan devisa dalam jumlah besar. Namun tekanan pasar yang sangat kuat membuat upaya tersebut tidak membuahkan hasil sesuai harapan.

"Cadangan devisa kita saat itu 21 miliar dollar AS atau setara lima bulan impor digelontorkan untuk menahan pelemahan rupiah," katanya.

Timboel menjelaskan, pada 21 hingga 23 Juli 1997 Bank Indonesia melakukan intervensi dengan melepas 1,2 miliar dollar AS ke pasar. Langkah itu kemudian dilanjutkan pada 6 Agustus 1997 sebesar 650 juta dollar AS dan kembali pada 14 Agustus 1997 sebesar 500 juta dollar AS.

"Namun gagal menguatkan rupiah. Para spekulan sangat beringas saat itu," ujarnya.

Baca juga: Mengintip Sejarah Rupiah 1997-1998

Pelemahan rupiah saat Covid-19

Ilustrasi Covid-19. Studi di Nature Communications mengungkap pandemi Covid-19 mempercepat penuaan otak, termasuk pada orang yang tidak terinfeksi, dengan dampak terbesar pada laki-laki dan kelompok sosial ekonomi rendah.SHUTTERSTOCK/KIRA_YAN Ilustrasi Covid-19. Studi di Nature Communications mengungkap pandemi Covid-19 mempercepat penuaan otak, termasuk pada orang yang tidak terinfeksi, dengan dampak terbesar pada laki-laki dan kelompok sosial ekonomi rendah.

Berbeda dengan krisis moneter 1998, pelemahan rupiah pada masa pandemi Covid-19 lebih banyak dipicu oleh kepanikan pasar global akibat merebaknya virus corona.

Ketika pandemi mulai menyebar ke berbagai negara pada awal 2020, investor global berbondong-bondong menarik dana dari negara berkembang dan mengalihkannya ke aset yang dianggap aman seperti dollar AS dan emas.

Fenomena ini memicu arus modal keluar dalam jumlah besar dan menekan nilai tukar berbagai mata uang, termasuk rupiah.

Pada Maret 2020, rupiah sempat terpuruk hingga menyentuh level Rp 16.500 per dollar AS, posisi terlemah sejak krisis Asia 1998.

Baca juga: Lebih Parah dari Pandemi Covid-19, IHSG Ambles 38 Persen dari Puncaknya

Tekanan tersebut diperparah oleh perlambatan aktivitas ekonomi akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Sektor pariwisata, transportasi, perdagangan, hingga industri manufaktur mengalami penurunan aktivitas yang signifikan.

Daya beli masyarakat melemah akibat meningkatnya pemutusan hubungan kerja dan penurunan pendapatan. Meski demikian, kondisi perlahan membaik setelah pemerintah menggelontorkan stimulus ekonomi dan Bank Indonesia menjalankan berbagai kebijakan stabilisasi.

Rupiah kemudian bergerak lebih stabil di kisaran Rp 14.000-Rp 14.500 per dolar AS sepanjang 2021 sebelum kembali tertekan pada 2022 akibat kenaikan suku bunga The Federal Reserve.

Baca juga: Segera Pulihkan Kepercayaan Pasar

Rupiah 2026 dan krisis kepercayaan

Konferensi pers Menkeu, Gubernur BI, dan DPRI, Sabtu (6/6/2026)KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN Konferensi pers Menkeu, Gubernur BI, dan DPRI, Sabtu (6/6/2026)Timboel berpandangan kondisi saat ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dua periode krisis sebelumnya. Menurut dia, pelemahan rupiah pada 2026 tidak semata-mata dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga berkaitan dengan persepsi pelaku pasar terhadap arah kebijakan pemerintah.

"Kalau masalah pelemahan rupiah saat 1997 dimainkan para spekulan, maka saat ini pelemahan rupiah dominan disebabkan kebijakan pemerintah yang enggak jelas. Kehilangan kepercayaan sehingga rupiah blunder," katanya.

Saat ini rupiah berada di bawah tekanan berbagai faktor global, mulai dari tingginya suku bunga di AS, perlambatan ekonomi dunia, hingga meningkatnya tensi geopolitik di sejumlah kawasan strategis. Kondisi tersebut mendorong investor global kembali memburu dolar AS sebagai aset aman.

Baca juga: Mengapa Investor Asing Ramai-Ramai Melepas Aset Indonesia?

Dalam setahun terakhir, rupiah tercatat melemah sekitar 10,87 persen hingga 11,7 persen terhadap dolar AS. Pelemahan tersebut berdampak langsung terhadap dunia usaha karena meningkatkan biaya impor bahan baku, komponen produksi, serta kewajiban pembayaran utang dalam valuta asing.

Timboel menilai pemerintah perlu lebih fokus mendorong ekspor guna memperkuat pasokan devisa nasional, sebagaimana yang pernah dilakukan Thailand saat menghadapi krisis mata uang pada akhir 1990-an.

"Saat itu Thailand memperkuat ekspor untuk mendapatkan devisa besar guna menguatkan baht. Kalau saat ini pemerintah malah mempersulit ekspor dengan hadirnya DSI yang akan berpotensi mendukung pelemahan rupiah," ujarnya.

Baca juga: Hoaks Bursa Turun Status ke MSCI Frontier Market, Analis: Masalah Kepercayaan Investor

Pentingnya menjaga stabilitas

Meski memiliki latar belakang berbeda, krisis moneter 1998, pandemi Covid-19, dan tekanan kurs pada 2026 menunjukkan satu kesamaan, yakni pentingnya menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.

Pada 1998, tekanan datang dari serangan spekulan dan krisis regional. Pada 2020, pemicunya adalah pandemi global yang melumpuhkan aktivitas ekonomi dunia.

Sementara pada 2026, pelemahan rupiah terjadi di tengah kombinasi ketidakpastian global dan meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Dengan rupiah yang kini berada di level terendah sepanjang sejarah, berbagai kalangan menilai pemerintah dan otoritas moneter perlu memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

“Pemerintah perlu meningkatkan daya saing ekspor, serta memastikan kepercayaan investor tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global yang semakin kompleks,” tegas Timboel.

Baca juga: Ekonom: Fundamental RI Kuat, tapi Belum Mampu Tenangkan Pasar

Andai rupiah anjok ke level Rp 20.000 per dollar AS

Ilustrasi rupiah dan dollar ASTHINKSTOCKS Ilustrasi rupiah dan dollar AS

Pandangan berbeda muncul dari Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira. Bhima memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp 20.000 per dollar AS apabila pelemahan terus berlangsung tanpa intervensi yang efektif.

“Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS,” ujar Bhima kepada Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Senada, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai pelemahan ke level Rp 20.000 bisa terjadi dalam waktu singkat apabila kondisi eksternal terus memburuk.

Dia menilai hal terburuk itu bisa saja terjadi jika cadangan devisa yang mencapai lebih dari 150 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.400 triliun (kurs Rp 16.000 per dollar AS), serta struktur utang yang didominasi tenor jangka panjang.

Baca juga: Andai Rupiah Menyentuh Rp 20.000 Per Dollar AS

“Indonesia terlena atau tepatnya, diterlena oleh narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat, cadangan devisa besar, mencapai lebih dari 150 miliar dollar AS, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang,” ujar dalam keterangan pers, Senin (23/3/2026).

Dia juga menyoroti cadangan devisa yang selama ini dianggap sebagai bantalan utama. Menurutnya, besarnya cadangan devisa tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi riil.

“Cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Dengan kata lain, utang luar negeri tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi,” ujarnya.

Baca juga: Rupiah Terlemah Saat IHSG To The Moon, Anomali di RI Ternyata Juga Dialami Jepang, India, Korsel

Pemerintah optimistis rupiah menguat

Meskipun fakta menunjukkan kecenderungan melemah, pemerintah masih optimis rupiah mampu berbalik arah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pihaknya tetap optimistis rupiah dapat menguat ke level Rp 17.500 per dollar AS pada tahun depan.

Di sisi lain, dia menegaskan bahwa pemerintah belum mengubah asumsi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 meski kurs saat ini masih berada di kisaran Rp 18.000 per dollar AS.

Purbaya memastikan pihaknya tidak terburu-buru mengubah asumsi nilai tukar meski kurs rupiah saat ini masih berada di kisaran Rp 18.000 per dollar AS, lebih lemah dibandingkan asumsi di rentan Rp 16.800 - Rp 17.500 per dollar AS yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF).

"Kalau sekarang terlalu cepat untuk mengubah asumsi rupiah-dollar. Ini masih gejolak awal, kita belum tahu titik stabilnya di mana," ujar Purbaya usai bertemu Menteri PPN/Kepala Bappenas di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (8/6/2026).

"Saya pikir ruang untuk penguatan terbuka lebar. Selama kita berdua (dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas), beliau merancang, saya mencoba membiayai pembangunannya, dan Bapak Presiden memberikan arah yang pas, ruang untuk tumbuh lebih cepat terbuka lebar," tegas Purbaya.

Baca juga: Rupiah Jatuh ke Rp 18.200 dan IHSG Ambles 4,3 Persen, Ada Apa dengan Pasar Indonesia?

Tag:  #membandingkan #pelemahan #rupiah #saat #krismon #1998 #pandemi #covid #2026 #bedanya

KOMENTAR