Saham Telkom (TLKM) Bangkit Usai ARB, Apa Katalisnya?
- Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) bangkit pada perdagangan Selasa (9/6/2026), setelah sempat tekanan hingga menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) saat penutupan perdagangan, Senin (8/6/2026).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 09.58 WIB, saham TLKM melonjak 9,36 persen atau naik 220 poin ke level Rp 2.570 per saham dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 2.350.
Sejak pembukaan perdagangan di area Rp 2.510, saham emiten telekomunikasi pelat merah itu langsung melesat dan sempat menyentuh area tertinggi Rp 2.620, sebelum akhirnya bertengger di Rp 2.570.
Lonjakan harga saham juga diikuti peningkatan aktivitas transaksi.
Baca juga: RUPST Telkom (TLKM) Rombak Dewan Komisaris: Silmy Karim Dicopot, Angga Raka Tetap Komut
Volume perdagangan mencapai 1,03 juta lot dengan nilai transaksi Rp 263,92 miliar.
Harga rata-rata transaksi berada di Rp 2.570 per saham.
Meski demikian, saham TLKM masih berada di bawah batas Auto Rejection Atas (ARA) yang berada di area Rp 2.930 per saham.
Sentimen positif saham TLKM sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga menguat pada perdagangan Selasa ini.
Indeks naik 78,21 poin atau 1,46 persen ke posisi 5.420,347 pada pukul 10.07 WIB.
Sejak pembukaan perdagangan di level 5.344,688, IHSG langsung bergerak di zona hijau dan sempat menyentuh angka tertinggi di 5.448,585.
Sementara itu, posisi terendah indeks tercatat 5.318,145, sebelum akhirnya kembali menguat di awal perdagangan.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai prospek saham TLKM masih didukung oleh fundamental yang relatif solid.
Hal ini tecermin dari dividen per saham (dividend per share/DPS) yang terus menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun, yang mengindikasikan arus kas (cash flow) perusahaan masih terjaga dengan baik.
Menurutnya, sentimen positif bagi TLKM juga datang dari keputusan perseroan untuk meningkatkan alokasi dana buyback saham dari sebelumnya Rp 1 triliun menjadi Rp 4 triliun.
Selain itu, kenaikan nilai DPS yang dibagikan kepada pemegang saham turut menjadi katalis positif yang dapat mendukung pergerakan saham perusahaan ke depan.
“Secara dividend per share tetap bertumbuh menandakan cash flow yang dimiliki perusahaan solid. Sentimen peningkatan buyback dari Rp 1 triliun ke Rp 4 triliun serta bertambahnya DPS menjadi katalis positif. Pengenai perombangan BoC cenderung netral,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Selasa pagi.
Sementara itu, terkait perombakan jajaran Dewan Komisaris (Board of Commissioners/BoC), ia menilai dampaknya terhadap kinerja maupun sentimen pasar cenderung netral dan belum menjadi faktor utama yang mempengaruhi prospek saham TLKM.
Sebagai informasi, TLKM mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 21,9 triliun kepada para pemegang saham. Keputusan itu disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Senin (8/6/2026).
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 17,8 triliun berasal dari keseluruhan laba bersih yang diperoleh perseroan pada 2025.
Sementara itu, sisanya sekitar Rp 4,2 triliun berasal dari laba ditahan pada tahun-tahun sebelumnya. Pembayaran dividen akan dilakukan paling lambat pada 10 Juli 2026.
Adapun pihak yang berhak menerima dividen adalah para pemegang saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada penutupan perdagangan 19 Juni 2026.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyampaikan dalam menetapkan pembayaran dividen, perseroan mempertimbangkan berbagai aspek, terutama keseimbangan antara pengembalian nilai kepada pemegang saham dan kebutuhan investasi jangka panjang perusahaan.
“Meskipun menghadapi tekanan industri dan ketidakpastian sepanjang tahun 2025, Perseroan telah berhasil membuktikan bahwa fundamental bisnis tetap terjaga dan arus kas juga kian menguat. Sehingga, keputusan pemegang saham atas persetujuan dividen hari ini mencerminkan kepercayaan terhadap transformasi dan arah pertumbuhan yang kami bangun,” ujar Dian dalam keterangan pers.
Selain pembagian dividen, RUPST juga menyetujui rencana program pembelian kembali saham alias buyback dengan nilai maksimal Rp 4 triliun.
Buyback akan dilakukan melalui Bursa Efek maupun di luar Bursa Efek, baik secara bertahap maupun sekaligus, dan diselesaikan dalam periode 12 bulan setelah memperoleh persetujuan RUPST, yakni sejak 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027.
Aksi korporasi tersebut dijalankan sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham sekaligus menjadi langkah strategis dalam menjaga stabilitas harga saham Perseroan di tengah dinamika pasar.
Sementara itu dari sisi teknikal, investor dapat mencermati level support di area Rp 2.350 per saham.
Adapun level resistance terdekat berada di kisaran Rp 2.740 per saham.
Jika saham TLKM mampu melanjutkan tren penguatannya dan menembus area tersebut, maka peluang kenaikan selanjutnya terbuka menuju Rp 2.980 per saham.
Meski demikian, Faris mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan kondisi bisnis dan struktur keuangan perusahaan.
Lingkungan suku bunga yang masih tinggi berpotensi meningkatkan biaya pendanaan (cost of financing) bagi perusahaan.
Oleh karena itu, investor disarankan melakukan akumulasi secara bertahap sambil terus mencermati perkembangan kewajiban dan kondisi keuangan perseroan untuk memastikan prospek pertumbuhan jangka panjang tetap terjaga.
Baca juga: IHSG Dibuka Menguat 0,75 Persen ke 5.381, Rupiah Masih Tertekan
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.