Ekspor China Melonjak 19,4 Persen, Ditopang AI dan Kendaraan Listrik
Ketika hubungan dagang dengan Amerika Serikat (AS) masih dibayangi ketidakpastian, China menemukan sumber pertumbuhan baru bagi sektor ekspornya.
Ledakan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan percepatan transisi energi hijau di berbagai negara kini menjadi penopang utama perdagangan Negeri Tirai Bambu.
Dikutip dari China Daily, Selasa (9/6/2026), data Administrasi Umum Bea Cukai China menunjukkan ekspor China pada Mei 2026 tumbuh 19,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Ekspor Barang Murah China Melambat akibat Tarif dan Biaya Avtur
Ilustrasi ekspor.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor April yang mencapai 14,1 persen.
Di saat yang sama, impor meningkat 27,4 persen secara tahunan, melampaui kenaikan 25,3 persen pada bulan sebelumnya.
Kinerja tersebut terjadi ketika ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah hingga dampak berkepanjangan dari perang dagang antara China dan AS.
Namun di tengah berbagai tekanan tersebut, permintaan global terhadap produk-produk yang terkait dengan AI dan energi bersih justru menjadi sumber kekuatan baru bagi ekspor China.
Baca juga: Produk Mebel RI 30 Persen Lebih Mahal dari Vietnam dan China, Pengusaha Ungkap Sebabnya
Ledakan AI dorong permintaan produk teknologi
Pesatnya perkembangan AI di berbagai negara mendorong peningkatan investasi pada pusat data, infrastruktur komputasi, dan perangkat keras teknologi.
Kondisi tersebut menciptakan permintaan besar terhadap berbagai produk manufaktur yang selama ini menjadi kekuatan utama China.
Kepala Ekonom Greater China ING Lynn Song mengatakan permintaan terhadap berbagai produk teknologi masih tetap kuat meski ekonomi global menghadapi ketidakpastian.
"Kapal, chip, mobil, dan baterai terus mengalami permintaan yang kuat di tengah booming teknologi global, dan harga yang lebih tinggi di sepanjang rantai pasokan teknologi telah membantu mendukung pertumbuhan nilai perdagangan," ujar Song seperti dikutip AP News.
Baca juga: Purbaya Bakal ke China dan Inggris untuk Promosikan Surat Utang RI
Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.
Menurut dia, kapal, semikonduktor, kendaraan, dan baterai masih menikmati permintaan yang tinggi seiring berkembangnya industri teknologi global.
Kenaikan harga di sepanjang rantai pasok teknologi juga ikut mendorong peningkatan nilai perdagangan.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom China Morgan Stanley Robin Xing. Ia menilai sektor ekspor China saat ini menunjukkan ketahanan yang kuat berkat ledakan investasi AI global.
"Sektor ekspor China menunjukkan ketahanan yang luar biasa, didorong oleh booming investasi kecerdasan buatan global dan siklus super energi yang berkelanjutan," kata Xing kepada China Daily.
Baca juga: Dokumen IPO SpaceX Tak Bisa Diakses di Hong Kong dan China
Xing berujar, belanja modal global untuk perangkat keras AI terus meningkat dan membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan China yang telah membangun daya saing di berbagai sektor pendukung teknologi tersebut.
Semikonduktor jadi bintang baru ekspor China
Manfaat dari ledakan AI terlihat jelas pada industri semikonduktor China.
Kamar Dagang China untuk Impor dan Ekspor Produk Mesin dan Elektronik mencatat nilai ekspor sirkuit terpadu atau integrated circuit tumbuh lebih dari 20 persen selama 13 bulan berturut-turut hingga April 2026.
Juru Bicara Kamar Dagang China untuk Impor dan Ekspor Produk Mesin dan Elektronik Gao Shiwang mengatakan volume ekspor sirkuit terpadu pada empat bulan pertama tahun ini meningkat 10,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: China Perketat Aturan Dana Swasta untuk Tekan Risiko Keuangan
Namun pertumbuhan dari sisi nilai jauh lebih tinggi, yakni mencapai 78,3 persen.
Bahkan pada April 2026 saja, nilai ekspor produk tersebut melonjak 92 persen secara tahunan.
"Kemampuan manufaktur dan rantai pasokan China yang matang memberikannya posisi unik dalam ekosistem perangkat keras AI global. Kami bukan hanya produsen utama, tetapi juga mata rantai penting dalam rantai nilai," tutur Gao.
Ilustrasi bendera China.
Menurut dia, kemampuan manufaktur dan rantai pasok yang dimiliki China membuat negara tersebut tidak hanya menjadi produsen utama perangkat keras AI, tetapi juga bagian penting dalam rantai nilai industri tersebut.
Baca juga: China Perketat Akses Investor ke Saham AS, Hong Kong Diuntungkan
Peningkatan kebutuhan terhadap chip juga tercermin dari sisi impor.
Impor semikonduktor China meningkat tajam seiring meningkatnya kebutuhan industri domestik terhadap komponen teknologi untuk mendukung pengembangan AI.
Transisi energi global menguntungkan China
Selain AI, tren transisi energi bersih turut memberikan dorongan signifikan bagi ekspor China.
Xing mengatakan kebutuhan energi yang terus meningkat, terutama dari pusat data AI, memperkuat investasi global pada berbagai teknologi energi baru.
Baca juga: Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Menurut dia, China saat ini telah mengambil posisi penting dalam rantai pasok transisi energi dunia, mulai dari komponen tenaga surya dan tenaga angin hingga peralatan jaringan listrik serta baterai penyimpanan energi.
Data Bea Cukai China menunjukkan ekspor kendaraan listrik meningkat 68,1 persen pada empat bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, ekspor baterai lithium naik 43,2 persen, sementara ekspor peralatan pembangkit listrik tenaga angin tumbuh 40,7 persen.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa produk-produk yang terkait dengan transisi energi kini menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru perdagangan luar negeri China.
Baca juga: China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Produsen kendaraan listrik terbesar China, BYD, juga mencatat peningkatan penjualan internasional yang signifikan.
Perusahaan tersebut menjual lebih dari 160.600 kendaraan di luar negeri pada Mei 2026, naik 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ilustrasi ekspor.
Perdagangan dengan AS belum pulih
Di tengah kuatnya kinerja sektor teknologi dan energi hijau, hubungan perdagangan China dengan AS masih belum sepenuhnya pulih.
Data bea cukai menunjukkan ekspor China ke AS turun 2,7 persen dalam lima bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara impor dari AS turun 5,5 persen.
Baca juga: KKP Perbanyak Pintu Ekspor Perikanan Indonesia ke China
Penurunan tersebut menunjukkan dampak perang dagang yang masih terasa meski kedua negara telah melakukan sejumlah upaya perbaikan hubungan ekonomi.
Harapan baru muncul setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Beijing pada pertengahan Mei 2026.
Menurut AP, kedua pemimpin sepakat membentuk dewan perdagangan dan investasi sebagai bagian dari upaya memperbaiki hubungan ekonomi bilateral.
Meski demikian, perdagangan China saat ini tampak semakin ditopang oleh diversifikasi pasar ekspor dan meningkatnya permintaan global terhadap produk teknologi serta energi hijau.
Baca juga: Belajar dari China, Pengusaha Sebut Indonesia Bisa Jadi Pusat Furnitur Dunia
Modal mencapai target pertumbuhan ekonomi
Pemerintah China menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 persen hingga 5 persen pada 2026.
Target tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan sasaran sekitar 5 persen pada tahun sebelumnya dan menjadi target pertumbuhan paling rendah sejak 1991.
Song menilai awal tahun yang kuat memberikan peluang bagi China untuk mencapai sasaran tersebut.
"Awal tahun yang kuat seharusnya membantu China tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target pertumbuhan tahunannya," kata dia.
Baca juga: Bea Cukai Soetta Ungkap Tren Baru “Kurir Emas” ke Hong Kong, Mayoritas WNA China
Data menunjukkan total perdagangan luar negeri China pada empat bulan pertama 2026 mencapai 16,23 triliun yuan, naik 14,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Nilai ekspor tercatat sebesar 9,33 triliun yuan atau meningkat 11,3 persen, sedangkan impor naik 20 persen menjadi 6,9 triliun yuan.
Di tengah perlambatan perdagangan dengan AS, lonjakan permintaan global terhadap teknologi AI, semikonduktor, kendaraan listrik, dan berbagai produk energi hijau kini menjadi penopang utama ekspor China serta membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Tag: #ekspor #china #melonjak #persen #ditopang #kendaraan #listrik