CEO Grab Ungkap Strategi Bertahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi 2026
Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi.(KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI)
13:16
9 Juni 2026

CEO Grab Ungkap Strategi Bertahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi 2026

- Dunia usaha menghadapi tantangan yang semakin kompleks memasuki semester kedua 2026.

Di tengah perlambatan ekonomi regional, tekanan geopolitik, serta perubahan perilaku konsumen yang berlangsung cepat, perusahaan dituntut mencari cara baru untuk menjaga pertumbuhan.

CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, mengatakan, peluang ekspansi bisnis sebenarnya masih terbuka.

Namun, ruang untuk bertumbuh dengan pendekatan konvensional semakin terbatas sehingga perusahaan harus lebih selektif dalam menentukan strategi.

Baca juga: Gross Split Minerba Batal, Bahlil Buka Peluang Relaksasi Kuota Produksi

"Apapun yang terjadi, kita tetap harus bertumbuh. Nah, di Grab, kami percaya bahwa peluang pertumbuhan masih sangat terbuka,” ujar Neneng dalam Grab Business Forum 2026 bertajuk The Next Chapter, Scale Smarter, Execute Faster di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

“Namun, ruang untuk tumbuh itu dengan cara yang lama semakin sempit," tambah dia.

Menurut dia, kondisi tersebut menuntut para pemimpin perusahaan untuk mengambil keputusan yang lebih tajam dan disiplin.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan pola pertumbuhan yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya.

"Nah, dalam situasi seperti ini, pemimpin perusahaan tentunya perlu berpikir lebih tajam dan lebih disiplin tentunya tentang bagaimana cara kita bertumbuh," katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Grab mendorong dunia usaha untuk menerapkan pendekatan yang lebih terukur dalam mengejar peluang pertumbuhan.

Menurut Neneng, perusahaan perlu menentukan prioritas secara lebih presisi, mempercepat eksekusi, serta memastikan setiap langkah bisnis memberikan dampak yang nyata.

"Peluang tersebut perlu dikejar dengan cara yang lebih disiplin. Bagaimana kita memilih prioritas dengan lebih tajam, mengeksekusi dengan lebih cepat, dan memastikan bahwa setiap inisiatif itu benar-benar berdampak," katanya.

Neneng menegaskan bahwa konsep tersebut diterjemahkan Grab melalui strategi scale smarter dan execute faster. Bagi perusahaan, scale smarter berarti bertumbuh dengan fokus yang lebih jelas, memilih area bisnis yang benar-benar menciptakan nilai tambah, memanfaatkan data secara optimal, serta mengalokasikan sumber daya secara lebih akurat.

"Inilah yang kami maksud dengan scale smarter and execute faster. Bagi Grab, scale smarter berarti bertumbuh dengan pilihan yang lebih jelas, memilih area yang benar-benar menciptakan nilai, tentunya dengan data, kemudian mengalokasikan sumber daya dengan lebih presisi, dan memastikan bahwa pertumbuhan tidak menambah kompleksitas yang justru akan memperlambat bisnis," ujar Neneng.

Sementara itu, execute faster berfokus pada kemampuan perusahaan menerjemahkan strategi ke dalam pelaksanaan sehari-hari dengan dukungan teknologi.

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan automation dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat pengambilan keputusan.

"Nah, execute faster berarti bagaimana menerjemahkan strategi menjadi eksekusi sehari-hari melalui integrasi teknologi, termasuk AI dan automation, untuk mendukung produktivitas, visibilitas, kontrol yang lebih baik, serta pengambilan keputusan yang lebih cepat berdasarkan data," katanya.

Neneng menegaskan bahwa teknologi tidak boleh hanya menjadi simbol inovasi semata.

Teknologi harus mampu membantu perusahaan bekerja lebih efisien, mengendalikan biaya operasional, dan memberikan pengalaman layanan yang lebih baik kepada pelanggan.

"Teknologi itu bukan hanya hadir sebagai inovasi di atas kertas, tetapi juga harus membantu tim untuk bekerja lebih produktif, membantu perusahaan mengelola biaya dengan lebih jelas dan lebih efisien, serta membantu konsumen merasakan layanan yang lebih konsisten. Konsumen sekarang itu ekspektasinya sangat tinggi," ujarnya.

Menurut Neneng, keberhasilan dunia usaha menghadapi tantangan ekonomi tidak hanya bergantung pada kemampuan perusahaan beradaptasi, tetapi juga membutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan teknologi.

"Karena pada akhirnya, pertumbuhan yang lebih kuat membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah dan pelaku usaha, antara teknologi dan operasional, serta antara strategi dan eksekusi sehari-hari," tegas Neneng.

Baca juga: Dorong Bisnis Hijau, Industri Kesehatan Mulai Lirik Energi Bersih

Tag:  #grab #ungkap #strategi #bertahan #tengah #ketidakpastian #ekonomi #2026

KOMENTAR