Ekonom Peringatkan Risiko BI Rate Naik, Kredit dan Dunia Usaha Bisa Tertekan
Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen dinilai tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, kebijakan tersebut juga membawa risiko terhadap sektor perbankan dan dunia usaha.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya dana (cost of fund) perbankan sehingga dapat memengaruhi penyaluran kredit ke sektor riil.
"Risikonya, kenaikan BI Rate dapat mendorong kenaikan biaya dana perbankan, menahan penurunan bunga kredit, dan memperberat dunia usaha yang sudah menghadapi tekanan biaya akibat pelemahan rupiah dan harga energi," ujar Josua kepada Kompas.com pada Selasa (9/6/2026).
Baca juga: Ekonom: Rupiah Tak Bisa Diselamatkan BI Rate Saja
Menurut Josua, dampak tersebut perlu diantisipasi karena pelaku usaha saat ini telah menghadapi kenaikan biaya produksi akibat melemahnya nilai tukar rupiah dan tingginya harga energi global.
Josua menilai Bank Indonesia harus menjaga keseimbangan antara upaya mempertahankan stabilitas rupiah dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Di satu sisi, BI perlu bersikap tegas agar pelemahan rupiah tidak memicu inflasi yang lebih tinggi dan mengganggu kepercayaan investor.
Namun di sisi lain, pengetatan likuiditas yang terlalu agresif berisiko menghambat pembiayaan produktif dan memperlambat aktivitas ekonomi.
"BI tidak boleh membuat likuiditas terlalu ketat sehingga kredit produktif melemah dan pertumbuhan ekonomi ikut tertahan," katanya.
Karena itu, Josua menilai penguatan fasilitas likuiditas bagi perbankan menjadi salah satu langkah penting agar stabilisasi nilai tukar tidak berujung pada tekanan pembiayaan di sektor riil.
Meski ada sejumlah risiko, Josua menegaskan keputusan menaikkan BI Rate tetap diperlukan dalam situasi saat ini.
Baca juga: BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Gubernur BI Ungkap Alasannya
Ia menilai pelemahan rupiah yang lebih dalam dari perkiraan, tingginya tekanan global, serta kebutuhan menjaga kepercayaan pasar membuat bank sentral perlu memberikan respons kebijakan yang tegas.
"Kenaikan BI Rate hari ini adalah langkah yang perlu dan tepat. BI sedang mengirim pesan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas," ujarnya.
Namun, Josua mengingatkan efektivitas kebijakan tersebut tidak hanya bergantung pada langkah Bank Indonesia.
Menurut dia, kebijakan moneter harus didukung oleh kebijakan fiskal yang kredibel, pengelolaan utang yang hati-hati, kepastian regulasi, serta komunikasi pemerintah yang konsisten untuk menjaga kepercayaan investor.
Ia juga menyebut keberhasilan kebijakan suku bunga akan ditentukan oleh kemampuan menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, menjaga likuiditas perbankan, dan memperkuat iklim investasi.
"Rupiah tidak hanya membutuhkan suku bunga yang menarik, tetapi juga kepercayaan bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia tetap konsisten, hati-hati, dan ramah terhadap investasi," kata Josua.
Tag: #ekonom #peringatkan #risiko #rate #naik #kredit #dunia #usaha #bisa #tertekan