Rupiah Menguat ke Rp 18.058 Setelah BI Naikkan Suku Bunga
ilustrasi rupiah dollar AS, dolar hari ini. Rupiah Tembus Rp 18.200 per Dollar AS.(ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
15:36
9 Juni 2026

Rupiah Menguat ke Rp 18.058 Setelah BI Naikkan Suku Bunga

 Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026).

Rupiah terapresiasi 129,50 poin atau 0,71 persen ke level Rp 18.058 per dollar Amerika Serikat (AS).

Penguatan rupiah terjadi tidak lama setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada Selasa siang.

Suku bunga deposit facility ikut naik 25 basis poin menjadi 4,50 persen.

Suku bunga lending facility juga naik 25 basis poin menjadi 6,25 persen.

Baca juga: Tak Hanya Naikkan BI Rate, BI Juga Kerahkan 4 Kebijakan Ini untuk Stabilisasi Rupiah

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kenaikan BI Rate dilakukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

Rupiah sebelumnya melemah akibat tingginya gejolak global yang dipicu perang di Timur Tengah.

“RDG Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2026).

Kenaikan BI Rate juga diarahkan untuk menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap sesuai sasaran BI di kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen.

Kebijakan tersebut juga bertujuan meningkatkan imbal hasil agar aliran investasi portofolio asing masuk ke Indonesia.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia turun menjadi 144,9 miliar dollar AS pada akhir Mei 2026.

Posisi itu turun 1,3 miliar dollar AS dibandingkan akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dollar AS.

Baca juga: BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Ekonom: Rupiah Jadi Pertimbangan Utama

Menurut Ibrahim, penurunan cadangan devisa terutama dipengaruhi kebutuhan pelunasan utang luar negeri pemerintah, penerbitan surat utang global atau global bond, serta transaksi perpajakan.

Cadangan devisa Indonesia kini berada pada level terendah sejak Juli 2024.

Tekanan cadangan devisa terjadi saat rupiah sempat menyentuh level Rp 18.200 per dollar AS.

Pemerintah juga memberi sinyal tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru untuk menjaga daya beli masyarakat dan menekan dampak gejolak ekonomi terhadap aktivitas domestik.

Pemerintah menyiapkan stimulus tersebut untuk menjaga konsumsi masyarakat agar tidak tergerus pelemahan rupiah dan ketidakpastian global.

Selain stimulus ekonomi, pemerintah akan membahas perkembangan proyek Indonesia Financial Center (IFC).

Proyek tersebut belakangan menjadi perhatian sebagai salah satu instrumen penguatan sektor keuangan nasional.

“Pemerintah saat ini terus memperkuat sinergi kebijakan ekonomi, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menjadi bagian dari upaya menjaga perekonomian nasional tetap berada pada jalur yang diharapkan,” ucap Ibrahim.

Koordinasi tersebut telah dilakukan sejak akhir pekan lalu melalui pembahasan bersama antara BI sebagai otoritas moneter dan Kementerian Keuangan sebagai otoritas fiskal.

Langkah itu dinilai penting untuk memastikan respons kebijakan berjalan selaras dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

Ibrahim mengatakan, sentimen pasar global mulai membaik setelah Iran dan Israel menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain.

Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan kedua negara segera menghentikan aksi saling serang.

Meski begitu, Teheran menegaskan akan melanjutkan serangan jika Israel terus melakukan operasi militer terhadap Hizbullah di Lebanon.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pernyataan yang disiarkan televisi Israel mengatakan, negaranya akan merespons dengan kekuatan jika Iran kembali melancarkan serangan.

Trump dalam wawancara dengan Axios yang dipublikasikan pada Senin menyatakan telah memperingatkan Netanyahu.

Trump menyebut Israel berpotensi menghadapi konflik sendirian jika kembali terlibat perang dengan Iran.

Pembukaan kembali Selat Hormuz masih menjadi salah satu isu penting dalam upaya perdamaian.

Jalur pelayaran strategis tersebut sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari lalu.

Militer Amerika Serikat pada Senin juga dilaporkan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak tanpa muatan di Teluk Oman.

Kapal tersebut mencoba berlayar menuju pelabuhan Iran dan dianggap melanggar blokade yang sedang berlangsung terhadap Iran.

Pasar global masih dibayangi kekhawatiran atas tekanan inflasi dari sektor energi.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi membuat inflasi tetap tinggi.

Situasi itu dapat mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.

Sebagian pelaku pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut jika tekanan inflasi kembali meningkat.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan memperkuat posisi dollar AS di pasar global.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Mei.

Data tersebut dijadwalkan diumumkan pada Rabu.

Inflasi Amerika Serikat diperkirakan mencapai 4,2 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Angka itu lebih tinggi dibandingkan inflasi April sebesar 3,8 persen.

Data inflasi Amerika Serikat akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pasar keuangan global.

Data tersebut juga akan memengaruhi pergerakan rupiah dan arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam beberapa waktu ke depan.

Tag:  #rupiah #menguat #18058 #setelah #naikkan #suku #bunga

KOMENTAR