Chatib Basri Ingatkan Risiko Stagflasi akibat Konflik Timur Tengah
Mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Chatib Basri, menilai konflik di Timur Tengah dapat memberi tekanan besar terhadap perekonomian Indonesia.
Chatib menyoroti situasi setelah Iran meluncurkan misil ke Israel beberapa hari lalu.
Serangan itu menjadi respons atas tindakan Israel yang tetap menyerang Lebanon saat gencatan senjata atau ceasefire berlangsung.
"Nah, sekarang kemudian dampaknya apa pada Indonesia? Dari segi trade, pasti harga energi akan mahal, inflasinya akan naik, growth-nya akan melambat, risiko dari stagflasi,” kata Chatib Basri di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Baca juga: Astra International (ASII) Tunjuk Chatib Basri Jadi Komisaris Independen
Stagflasi merupakan kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat atau mandek, sementara inflasi meningkat dan pengangguran tinggi.
Menurut Chatib, perang biasanya berakhir ketika biaya untuk melanjutkannya sudah terlalu mahal.
Perang tidak semata ditentukan oleh kekuatan militer.
Peta kekuatan militer menunjukkan Iran berada di bawah Israel dan Amerika Serikat (AS).
Karena itu, menurut Chatib, langkah Iran tidak ditujukan untuk memenangkan perang secara langsung.
Iran justru berusaha membuat biaya perang menjadi sangat mahal bagi AS dan Israel melalui situasi di Lebanon.
Dampaknya, harga minyak berisiko naik tajam.
Baca juga: Thailand Waspadai Stagflasi dan Krisis Energi, Siapkan Utang Rp 267,5 T
Kenaikan harga minyak kemudian dapat berpengaruh terhadap Pemilu Paruh Waktu atau midterm election di AS pada November mendatang.
Jika Israel terus berperang dan AS membiarkannya, oil shock atau lonjakan harga minyak dapat terjadi.
Saat ini, inflasi di AS sudah menyentuh 3,8 persen.
Harga bensin juga telah mencapai 4 dollar AS hingga 5 dollar AS per galon.
Menurut Chatib, pilihan rasional bagi AS ialah mencegah Israel melanjutkan perang.
Langkah itu dibutuhkan untuk melindungi kepentingan politik domestik Partai Republik agar tidak kalah dalam midterm election.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meminta semua pihak calm down mencerminkan kepentingan tersebut.
Namun, Israel menyatakan kesiapan untuk menyerang Iran dengan kekuatan besar atau readiness for powerful force to attack Iran.
Situasi itu menciptakan ketegangan baru.
Meski begitu, Chatib menilai titik keseimbangan yang mungkin muncul ialah tekanan dari AS agar Israel tidak kembali menyerang Iran.
Langkah tersebut diperlukan AS untuk mengamankan kepentingan politik domestiknya.
Gejolak geopolitik ini membawa dampak langsung bagi Indonesia melalui tiga jalur utama.
Tiga jalur tersebut ialah perdagangan, sektor keuangan, dan fiskal.
“Kemudian di financial sector ada US, the Fed itu unlikely untuk bisa menurunkan interest rate-nya saat ini. Sehingga dia tidak mungkin cut rate, rupiahnya akan under pressure, investment-nya akan weak. Ini adalah situasi yang akan kita hadapi," lanjut Chatib Basri.
Chatib mengatakan, sektor perdagangan akan terdampak melalui kenaikan harga energi.
Harga energi yang lebih mahal dapat mendorong inflasi dan menahan pertumbuhan ekonomi.
Sektor keuangan juga akan ikut tertekan.
Federal Reserve atau The Fed dinilai sulit menurunkan suku bunga dalam situasi inflasi yang kembali meningkat.
Kondisi itu dapat menekan rupiah dan melemahkan investasi.
Tekanan lain muncul dari sisi fiskal.
Chatib mengatakan, kenaikan harga minyak dunia dapat menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Secara fiskal, kalau satu dolar itu oil price-nya naik, itu defisitnya Rp 6,8 triliun additional. Jadi kalau dia sekarang di 100 dollar AS per barrel, asumsi di APBN 70 atau 30 dollar AS, 30 dikalikan Rp 6,8 triliun, sekitar Rp 250 triliun tambahannya. Nah, ini kira-kira sehingga defisitnya akan naik," tegas Chatib Basri.
Sebagai informasi, harga minyak mentah naik menjadi 91,28 dollar AS per barrel pada 8 Juni 2026.
Harga tersebut naik 0,81 persen dari hari sebelumnya.
Sementara itu, harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) tercatat sebesar 106,56 dollar AS per barrel pada Mei 2026.
Harga itu turun dibandingkan April 2026 yang berada di level 117,31 dollar AS per barrel, ketika konflik global memanas.
Tag: #chatib #basri #ingatkan #risiko #stagflasi #akibat #konflik #timur #tengah