Chatib Basri: Pelemahan Rupiah Lebih Dipicu Risiko Fiskal, Bukan Perang
Ekonom, Chatib Basri, di Istana, Jakarta, Selasa (9/6/2026).(KOMPAS.com/Rahel)
16:16
9 Juni 2026

Chatib Basri: Pelemahan Rupiah Lebih Dipicu Risiko Fiskal, Bukan Perang

 Mantan Menteri Keuangan sekaligus ekonom senior Chatib Basri menilai pelemahan rupiah tidak terutama disebabkan oleh konflik global.

Menurut Chatib, data ekonomi menunjukkan risiko fiskal menjadi faktor paling besar dalam menjelaskan pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dan tekanan di pasar saham.

Ia mengatakan, indikator risiko fiskal Indonesia sudah mulai memburuk sebelum konflik global meningkat.

"Jadi, Granger Causality test-nya itu menunjukkan bahwa yang bisa menjelaskan pelemahan rupiah, faktor yang paling besar itu adalah resiko dari fiskal," kata Chatib Basri di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Baca juga: Chatib Basri Anggap Pelemahan Rupiah Saat Ini Berbeda dari Krisis 1998

Chatib menjelaskan, pengujian tersebut menggunakan Granger Causality test untuk membedakan korelasi dan hubungan sebab akibat.

Pengujian itu meneliti data credit default swap (CDS) sebagai proksi risiko fiskal.

CDS merupakan instrumen asuransi bagi investor asing yang membeli obligasi pemerintah.

Angka CDS akan naik ketika persepsi risiko fiskal meningkat.

Menurut Chatib, hasil pengujian menunjukkan 23 persen varian perubahan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah dapat dijelaskan oleh pergerakan CDS.

Atas dasar itu, ia menilai perang bukan penyebab utama pelemahan rupiah.

“Jadi kalau kemudian dibilang bahwa penyebabnya adalah perang, that's not true. Kenapa? Karena negara lain juga ada akibat dari perang, tapi exchange rate-nya tidak depresiasinya serendah Indonesia,” ujar dia.

Baca juga: Chatib Basri: Ekonomi RI Tak Seburuk yang Dibayangkan

Chatib mengatakan, negara lain juga terdampak perang. Namun, depresiasi mata uang mereka tidak sedalam rupiah.

Sebaliknya, pergerakan rupiah hanya mampu menjelaskan 2,3 persen pergerakan CDS.

Menurut Chatib, temuan itu menunjukkan masalah utama berada pada tingkat kepercayaan pasar terhadap fiskal.

Ia menilai persoalannya bukan terletak pada struktur ekonomi secara keseluruhan.

Karena itu, tekanan rupiah masih dapat diperbaiki jika pemerintah mampu menangani isu kredibilitas fiskal.

Tekanan rupiah dan pasar saham terjadi saat sejumlah indikator fundamental domestik masih relatif baik.

Chatib mencontohkan, pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran 5,6 persen dan inflasi tetap terkendali.

Menghadapi tekanan nilai tukar, Bank Indonesia (BI) memiliki beberapa opsi kebijakan.

Opsi pertama ialah melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Namun, langkah tersebut memiliki risiko karena cadangan devisa dapat terus menurun.

Kondisi itu dapat membuat pasar merasa tidak nyaman.

Opsi kedua ialah menaikkan suku bunga agar aset keuangan domestik lebih menarik bagi investor.

Chatib menyebut BI telah menjalankan opsi tersebut melalui kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin sebagai bentuk pengetatan kebijakan moneter.

Selain menaikkan policy rate, BI juga menerapkan kebijakan makroprudensial.

Salah satunya dengan menurunkan batasan paparan valuta asing atau foreign exchange exposure dari 50.000 dollar AS menjadi 25.000 dollar AS.

“Sekarang apa yang bisa dilakukan oleh Bank Indonesia? Pertama, raise policy rate, sudah dilakukan. Atau dia intervene di dalam forex market, atau menerapkan kebijakan microprudential, dan ini yang dilakukan oleh Bank Indonesia,” tegasnya.

Tag:  #chatib #basri #pelemahan #rupiah #lebih #dipicu #risiko #fiskal #bukan #perang

KOMENTAR