Hemat Biaya Perang, Israel Mulai Pakai Amunisi Lama untuk Serang Iran
Militer Israel dilaporkan mulai menggunakan amunisi lama yang kurang presisi dalam serangan ke Iran.
Informasi ini diungkap oleh penyiar publik Israel, KAN, pada Minggu (22/3/2026), sebagai bagian dari upaya menekan biaya perang sekaligus mengosongkan stok persenjataan lama.
Langkah itu diambil di tengah terjadinya ekskalasi konflik yang disebabkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari.
Baca juga: Israel Salah Tembak Warga Sendiri, IDF Akui Tak Ikuti Protokol Saat Serang Hizbullah
Amunisi lama Israel mulai digunakan
Menurut laporan KAN, militer Israel kini mengerahkan senjata yang “disimpan selama setengah abad” untuk menyerang pangkalan militer di Iran.
Amunisi tersebut dinilai memiliki tingkat akurasi lebih rendah dibandingkan persenjataan modern.
Penggunaan amunisi ini disebut “baru-baru ini ditemukan secara tidak sengaja,” yang mengindikasikan bahwa perubahan strategi tersebut tidak diumumkan secara terbuka sebelumnya.
Hingga kini, Kementerian Pertahanan Israel belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.
Upaya tekan biaya perang
KAN menyebut keputusan ini bertujuan “untuk mengurangi biaya dan mengosongkan persediaan lama.”
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya beban finansial akibat perang yang berkepanjangan.
Surat kabar Haaretz melaporkan bahwa pengeluaran militer Israel dalam 20 hari pertama perang mencapai sekitar 6,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 108 triliun), dengan rata-rata biaya harian sekitar 320 juta dollar AS (sekitar Rp 5,4 triliun).
Selain itu, pemerintah Israel juga mengalokasikan 825 juta dollar AS (sekitar Rp 13 triliun) untuk membeli perlengkapan keamanan mendesak, di tengah laporan kekurangan rudal pencegat.
Militer bahkan disebut tengah menyiapkan permintaan tambahan dana di luar total anggaran perang sebesar 12,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 211 triliun).
Baca juga: Tentara Israel Dituduh Bocorkan Rahasia Iron Dome ke Iran, Kini Ditangkap
Dampak konflik yang terus meluas
Asap membubung dari Pelabuhan Zayed setelah serangan Iran di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026. Perang Iran berkecamuk setelah serangan Amerika Serikat-Israel menghantam Teheran, memicu respons Iran menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Konflik antara Israel dan Iran semakin meningkat sejak serangan gabungan AS-Israel dimulai pada 28 Februari.
Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara lain seperti Yordania, Irak, dan kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Serangan balasan ini menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan sektor penerbangan.
Indikasi tekanan logistik
Penggunaan amunisi lama dinilai sebagai indikasi bahwa Israel tengah mengelola persediaan senjatanya di tengah kampanye militer yang berkepanjangan.
Dalam konflik ini, pasukan AS dan Israel dilaporkan telah menyerang lebih dari 9.000 target di Iran, sementara Iran meluncurkan ribuan proyektil ke arah Israel dan negara-negara Teluk.
Langkah mengosongkan stok lama juga dinilai dapat membuka ruang penyimpanan bagi persenjataan yang lebih modern.
Di sisi lain, konflik belum menunjukkan tanda mereda meski seruan de-eskalasi terus disuarakan komunitas internasional.
Baca juga: Iran Hujani Wilayah Dekat Lokasi Nuklir Israel dengan Rudal Balistik
Tag: #hemat #biaya #perang #israel #mulai #pakai #amunisi #lama #untuk #serang #iran