Koalisi Eropa Siapkan Misi Buka Selat Hormuz, Kerahkan Kapal Militer
Ilustrasi Selat Hormuz.(Wikimedia Commons/Earth Science and Remote Sensing Unit, NASA Johnson Space Center)
16:42
17 April 2026

Koalisi Eropa Siapkan Misi Buka Selat Hormuz, Kerahkan Kapal Militer

- Koalisi negara-negara yang dipimpin Eropa dan anggota NATO tengah mematangkan rencana misi militer untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pertemuan tingkat tinggi dijadwalkan berlangsung di Paris, Perancis, pada Jumat (17/4/2026) guna mengumumkan garis besar rencana pemulihan navigasi di jalur vital tersebut.

Misi ini rencananya akan melibatkan kapal militer, pengawalan bersenjata, operasi intelijen, pembersihan ranjau, hingga pengerahan kemampuan radar. 

Baca juga: Iran Manfaatkan Selat Hormuz untuk Memperkuat Mata Uangnya

Dilansir dari Euronews, sejumlah negara Eropa bahkan telah mengirimkan kapal ke kawasan Timur Tengah tersebut sebagai langkah awal.

Langkah ini diambil setelah para pemimpin Eropa berada dalam posisi sulit menyusul serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. 

Serangan tersebut memicu Iran menutup jalur pelayaran penting itu, yang kemudian melumpuhkan ekonomi global dan berdampak signifikan bagi Eropa.

Upaya pembukaan kembali selat ini juga muncul di tengah tekanan dari Presiden AS Donald Trump. 

Baca juga: 13 Kapal Putar Balik, Imbas Blokade AS di Selat Hormuz

Dia dilaporkan memberikan ultimatum kepada sekutu NATO untuk segera menyusun rencana dalam hitungan hari.

Pesan tersebut disampaikan langsung oleh Trump kepada Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte saat kunjungannya ke Washington pekan lalu.

"Aman untuk dikatakan bahwa Sekretaris Jenderal memiliki kesimpulan spesifik dari percakapannya dengan Trump," ujar seorang sumber internal NATO kepada Euronews.

"Ada rasa frustrasi yang nyata dari Trump, dan dijelaskan dengan sangat jelas bahwa kita perlu segera bertindak," tambah sumber tersebut.

Baca juga: Iran Tantang Trump Lakukan Invasi Darat, Ejek AS Tak Berani Seberangi Selat Hormuz

Meski demikian, koalisi menekankan bahwa misi pembukaan Selat Hormuz bersifat sangat defensif. 

Para pemimpin Eropa bersikeras agar operasi ini terpisah dari pihak-pihak yang sedang berkonflik, yakni AS dan Israel.

"Koalisi ingin memastikan misi ini tidak dikaitkan dengan pihak yang bertempur, dalam hal ini AS dan Israel," kata seorang sumber yang mengetahui persiapan tersebut.

Presiden Perancis Emmanuel Macron melalui unggahannya di media sosial X juga menegaskan bahwa misi yang sangat defensif ini akan terpisah dari pihak-pihak yang berperang.

Baca juga: Begini Cara AS Blokade Selat Hormuz, Jenderal Ungkap Kerumitannya

Pemimpin Eropa di Paris

Pertemuan di Paris dalam membahas rencana misi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat digelar dalam format hibrida. 

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Kanselir Jerman Friedrich Merz dilaporkan hadir secara langsung di Istana Elysee untuk mendampingi Macron. 

Sementara itu, sebagian besar anggota koalisi lainnya, termasuk perwakilan dari Korea Selatan, Australia, dan Jepang, mengikuti pertemuan secara daring.

Merz memberikan catatan khusus terkait keterlibatan negaranya. Dia menegaskan bahwa partisipasi Jerman hanya bisa terjadi jika sejumlah syarat tertentu terpenuhi.

Baca juga: Negara-negara Paling Terdampak Blokade Selat Hormuz, Indonesia Termasuk

"Setidaknya harus ada gencatan senjata sementara dan persetujuan dari pemerintah di Berlin serta parlemen. Kita masih jauh dari hal itu," tegas Merz pada Kamis (16/4/2026).

Di sisi lain, Belanda dilaporkan telah mengirimkan kapal fregat dan personel militer lebih awal. 

Beberapa sumber dari NATO menyebutkan bahwa tujuannya adalah agar koalisi bisa segera bertindak ketika konflik mereda.

"Tujuannya adalah agar kita sekarang melangkah lebih jauh dari sekadar perencanaan, dan menempatkan kapal-kapal di kawasan agar siap bertindak saat konflik mereda," kata sumber tersebut.

Baca juga: AS Diisukan Mau “Amankan” Selat Malaka Pascablokade Hormuz, Ajukan Akses Udara ke RI

Risiko konflik

Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak dan gas dunia melonjak drastis. 

Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia, di mana sekitar 20 persen minyak global diangkut melalui Selat Sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.

Situasi semakin rumit setelah Trump memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran pada Senin (13/4/2026) lalu. 

Langkah ini bertujuan menekan sekutu Iran agar mendesak Teheran mencabut blokadenya sendiri, sekaligus menghambat kemampuan Iran meraup keuntungan dari ekspor minyak.

Baca juga: Tembus Blokade AS, Kapal-kapal Iran Gunakan Rute Rahasia di Selat Hormuz

Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.

Namun, para ahli memperingatkan adanya risiko besar di balik misi ini. 

Ed Arnold, peneliti senior keamanan Eropa di RUSI, menilai misi ini bisa menarik Eropa ke dalam konflik yang lebih luas.

"Selalu ada kemungkinan kita akan terseret ke dalam konflik yang lebih luas," ujar Arnold.

"Jika Anda tidak siap untuk ikut berperang, maka mungkin jangan lakukan bagian pertama (misi pembukaan selat), karena pihak Iran akan mengetahui sejauh mana kekuatan pencegahan yang dimiliki orang-orang Eropa," tambahnya.

Baca juga: AS Klaim Nol Kapal Tembus Blokade Hormuz, Data Maritim Ungkap Sebaliknya

Tag:  #koalisi #eropa #siapkan #misi #buka #selat #hormuz #kerahkan #kapal #militer

KOMENTAR