''Wajah Ganda'' Trump dalam Perang iran: Menggertak di Publik, Gelisah di Balik Layar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut khawatir tentang arah perang Iran dan risikonya meski kerap tampil garang di ruang publik, menurut laporan The Wall Street Journal, Sabtu (18/4/2026).
Dalam sebuah unggahan pada Minggu Paskah, ia menulis ancaman dengan bahasa yang dinilai kasar agar Iran segera membuka Selat Hormuz.
Tak lama kemudian, ia kembali mengeluarkan ultimatum dramatis, menyatakan bahwa jika Iran tidak mencapai kesepakatan dalam 12 jam, “sebuah peradaban akan mati.”
Baca juga: AS Pernah Pindahkan Uranium Uni Soviet, tapi Kasus Iran Jauh Lebih Rumit
Pernyataan-pernyataan tersebut, menurut pejabat pemerintah, dibuat secara improvisasi dan bukan bagian dari rencana keamanan nasional yang terstruktur.
Sejumlah penasihat menyebut pendekatan itu disengaja. Trump ingin terlihat “tidak stabil dan menghina” untuk menekan Iran agar bersedia berunding, dengan keyakinan bahwa gaya tersebut adalah “bahasa yang akan dipahami Iran.”
Kepanikan di balik layar
Puing pesawat Hercules C-130 Amerika Serikat yang Iran klaim telah mereka hancurkan di Isfahan, Minggu (5/4/2026), dalam misi pencarian pilot F-15 AS. Kisah di Balik Misi Penyelamatan Pilot Amerika yang Jatuh Ditembak Iran
Di balik retorika keras itu, Trump dilaporkan menunjukkan reaksi emosional ketika menerima kabar jet AS ditembak jatuh.
Ia disebut berteriak kepada para ajudannya selama berjam-jam, menyalahkan sekutu Eropa yang dinilai tidak membantu.
Ingatan akan krisis sandera Iran 1979 juga menghantui pikirannya. “Jika Anda melihat apa yang terjadi dengan Jimmy Carter dengan helikopter dan para sandera, itu membuat mereka kalah dalam pemilu. Sungguh kacau,” kata Trump pada Maret.
Ketika operasi penyelamatan berlangsung, para ajudan bahkan memilih tidak melibatkan Trump secara langsung dalam pembaruan menit demi menit, karena khawatir ketidaksabarannya akan mengganggu proses.
Ia hanya diberi informasi pada momen-momen penting hingga akhirnya kedua awak berhasil diselamatkan.
Tarik ulur keputusan militer
Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.
Meski kerap melontarkan ancaman, Trump juga menunjukkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan besar.
Ia menolak rencana pengiriman pasukan darat untuk merebut Kharg Island—titik vital ekspor minyak Iran—meski diyakini akan berhasil.
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, Trump khawatir operasi itu akan menimbulkan korban besar. Ia menyebut pasukan AS bisa menjadi “sasaran empuk” Iran.
Baca juga: Trump Ungkap Detik-detik Kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman
Perang yang melenceng dari rencana
Trump sebelumnya meyakini konflik dapat diselesaikan dalam waktu enam minggu. Namun kenyataannya, perang berlangsung lebih lama dari target, gencatan senjata masih rapuh, dan Selat Hormuz—jalur vital perdagangan global—tertutup selama berminggu-minggu.
Penutupan selat tersebut mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri energi.
Harga bahan bakar pun meningkat, sementara sekutu Eropa dan NATO menolak terlibat langsung dalam kampanye militer AS.
Situasi ini membuat Trump kerap berubah sikap—antara mempertimbangkan dampak ekonomi dan tetap bersikeras melanjutkan tekanan militer.
Gaya impulsif dan minim koordinasi
Konflik ini juga menyoroti gaya kepemimpinan Trump yang impulsif. Ia beberapa kali membuat pernyataan besar tanpa koordinasi penuh, bahkan mengakui bahwa sebagian idenya muncul secara spontan.
Di tengah perang, fokusnya juga disebut kerap terpecah. Ia masih membahas penggalangan dana politik, proyek pembangunan ballroom Gedung Putih, hingga wawancara dengan media.
Kritik pun muncul dari kalangan analis. Kori Schake dari American Enterprise Institute menyatakan, “Kita menyaksikan keberhasilan militer yang mencengangkan yang tidak berujung pada kemenangan, dan itu sepenuhnya bergantung pada presiden dan bagaimana ia memilih menjalankan tugasnya—kurangnya perhatian pada detail dan perencanaan.”
Tekanan untuk mengakhiri konflik
Meski tampil agresif, sejumlah pejabat menyebut tujuan utama Trump adalah mendorong Iran ke meja perundingan. Ancaman-ancaman keras yang ia lontarkan dipandang sebagai bagian dari strategi untuk mempercepat kesepakatan.
Menjelang tenggat ultimatum yang ia buat sendiri, Trump akhirnya mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Ia juga terus mendorong tim negosiasi untuk mencapai kesepakatan, berulang kali meminta agar Iran ditekan untuk berunding.
Baca juga: Negosiasi AS-Iran Masih Buntu Jelang Gencatan Senjata Berakhir, Perang Lagi?
Tag: #wajah #ganda #trump #dalam #perang #iran #menggertak #publik #gelisah #balik #layar