Identitas Pelaku Penembakan di Gedung Putih, Pernah Mengaku Anak Tuhan
Tragedi berdarah di ring satu Amerika Serikat membuka tabir kegagalan mitigasi psikologis terhadap individu berisiko tinggi. Nasire Best, pemuda yang tewas ditembus peluru tajam di depan Gedung Putih, ternyata memiliki riwayat gangguan mental akut dan obsesi ekstrem terhadap kawasan tersebut.
Aparat keamanan terbukti kecolongan dalam mengawasi pergerakan pria berusia 21 tahun ini. Padahal, catatan medis dan hukum menunjukkan pelaku berulang kali memicu alarm bahaya di sekitar pusat kekuasaan.
Dikutip dari CNN, insiden ini memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas pengawasan Secret Service terhadap figur-figur yang masuk dalam daftar pantauan merah. Best bukan wajah baru, melainkan ancaman berjalan yang sudah berulang kali mengetuk pintu istana negara.
Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat. ANTARA/Xinhua/Liu Jie/am.Dinas Rahasia AS terpaksa mengambil tindakan fatal ketika pelaku mendekati pos pemeriksaan luar secara agresif. Situasi berubah mencekam saat pemuda tersebut melepaskan tembakan ke arah petugas yang berjaga.
Kontak senjata yang terjadi dalam hitungan detik itu tidak hanya menewaskan pelaku di tempat kejadian. Peluru nyasar di tengah baku tembak dilaporkan turut melukai seorang warga sipil yang berada di lokasi.
Presiden Donald Trump yang berada di dalam gedung saat peristiwa berlangsung dipastikan selamat tanpa cedera. Namun, investigasi digital segera mengungkap jejak digital pelaku yang penuh dengan pesan ancaman dan delusi religius.
Melalui akun media sosial pribadinya, Best pernah mengunggah pernyataan yang secara terbuka mengancam keselamatan Presiden Trump.
Pada unggahan lain, ia secara kontroversial menulis, “Saya sebenarnya adalah anak Tuhan.”
Fakta persidangan membuktikan bahwa interaksi Best dengan Secret Service sudah berlangsung intensif sejak musim panas tahun lalu. Berdasarkan dokumen resmi, ia kerap berkeliaran di sekitar kompleks sembari menginterogasi petugas tentang cara menembus barikade.
Aktivitas mencurigakan tersebut sempat dihentikan paksa oleh otoritas berwenang pada pertengahan tahun lalu. Dokumen pengadilan mencatat ia dimasukkan ke RS jiwa secara paksa pada 26 Juni 2025 karena “menghalangi jalur masuk kendaraan”.
Sifat delusif pelaku semakin memuncak hanya dalam hitungan minggu setelah ia dibebaskan dari fasilitas perawatan. Ia kembali melanggar batas perimeter keamanan tanpa mengindahkan peringatan keras dari barisan penjaga.
Ketika dikepung oleh banyak petugas di area terlarang pada 10 Juli 2025, Best berteriak histeris di hadapan aparat. Laporan resmi mencatat saat itu Best mengklaim dirinya sebagai Yesus dan menyatakan “bahwa dia ingin ditangkap”.
Rentetan insiden di tahun 2025 tersebut kini menjadi sorotan tajam publik pasca-terjadinya penembakan fatal pada hari Sabtu. Kasus ini memperpanjang daftar panjang ancaman keamanan nyata yang dihadapi oleh para pemimpin negara di Gedung Putih.
Kawasan Gedung Putih sendiri terkenal dengan sistem pengamanan berlapis paling ketat di dunia yang dijaga ketat oleh agen bersenjata otomatis. Kendati demikian, celah keamanan dari individu dengan gangguan psikologis berat tetap menjadi tantangan domestik yang belum terpecahkan.
Tag: #identitas #pelaku #penembakan #gedung #putih #pernah #mengaku #anak #tuhan