Usai Perang Berakhir, Trump Mau Negara-negara Muslim ''Akur'' dengan Israel
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri diskusi kebijakan tip tanpa pajak di AC Hotel Las Vegas Symphony Park, Las Vegas, Negara Bagian Nevada, 16 April 2026. Trump Ancam Iran di Tengah Kebuntuan Perundingan, Bagaimana Respons Teheran?(AFP/JIM WATSON)
08:30
26 Mei 2026

Usai Perang Berakhir, Trump Mau Negara-negara Muslim ''Akur'' dengan Israel

Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin menjadikan kesepakatan damai dengan Iran sebagai momentum untuk memperluas normalisasi hubungan negara-negara Muslim dengan Israel melalui Abraham Accords.

Dalam unggahan di media sosial pada Senin (25/5/2026), Trump mendesak sejumlah negara Muslim di Timur Tengah dan kawasan lain untuk menyelesaikan perselisihan mereka dengan Israel sebagai bagian dari kesepakatan besar pascaperang Iran.

Trump mengatakan, negara-negara yang ikut dibahas dalam pembicaraan tersebut antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turkiye, Mesir, Yordania, dan Bahrain.

Baca juga: Nyaris Damai, AS Malah Bombardir Kapal Penebar Ranjau Iran

Trump ingin Abraham Accords diperluas

Baliho Abraham Alliance di Israel yang digagas oleh organisasi nirlaba Coalition for Regional Security.x.com/SprinterObserve Baliho Abraham Alliance di Israel yang digagas oleh organisasi nirlaba Coalition for Regional Security.

Trump mengatakan, negara-negara tersebut seharusnya ikut menandatangani Abraham Accords setelah upaya besar yang dilakukan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik Iran.

“Setelah semua kerja yang dilakukan Amerika Serikat untuk menyatukan teka-teki yang sangat rumit ini, seharusnya wajib bagi semua negara ini, setidaknya secara bersamaan, menandatangani Abraham Accords,” tulis Trump, seperti dikutip AFP.

Ia juga menegaskan bahwa normalisasi itu sebaiknya dimulai dari Arab Saudi dan Qatar.

“Itu harus dimulai dengan penandatanganan segera oleh Arab Saudi dan Qatar, dan semua negara lain harus mengikuti. Jika tidak, mereka seharusnya tidak menjadi bagian dari kesepakatan ini karena itu menunjukkan niat yang buruk,” kata Trump.

Abraham Accords sendiri merupakan rangkaian perjanjian yang dimediasi pemerintahan Trump pada 2020 untuk menormalisasi hubungan diplomatik Israel dengan sejumlah negara yang sebelumnya bermusuhan dengan negara itu.

Saudi hingga Pakistan jadi sorotan

Trump telah lama mendorong Arab Saudi bergabung dalam Abraham Accords. Namun Riyadh menegaskan bahwa normalisasi dengan Israel hanya mungkin dilakukan jika ada jalan yang jelas menuju solusi dua negara bagi Palestina.

Posisi serupa juga penting bagi Pakistan, yang hingga kini belum memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel.

Dalam unggahannya, Trump menyebut sebagian besar negara yang diajak bicara seharusnya siap mendukung kesepakatan tersebut.

“Mereka seharusnya siap, bersedia, dan mampu menjadikan penyelesaian dengan Iran ini sebagai peristiwa yang jauh lebih bersejarah dibandingkan yang seharusnya,” tulisnya.

Dinilai sulit terwujud

Meski demikian, sejumlah analis menilai gagasan Trump sulit direalisasikan dalam waktu dekat.

Baca juga: Rencana Netanyahu Bisa Berantakan jika AS Damai dengan Iran, Ini Sebabnya

Aaron David Miller mengatakan, peluang perluasan Abraham Accords masih kecil karena rivalitas di kawasan Timur Tengah.

“Menurut saya sangat kecil kemungkinan dalam waktu dekat kita akan melihat perluasan kesepakatan ini,” ujarnya, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post.

Ia juga menilai Arab Saudi kemungkinan belum akan bergabung.

“Saudi tidak akan bergabung dengan Abraham Accords. Rivalitas Saudi-Uni Emirat Arab menghalangi itu,” kata Miller.

“Apa keuntungan bagi negara-negara Teluk untuk menormalisasi hubungan dengan Israel?” lanjutnya.

Miller menambahkan bahwa Trump sebelumnya juga pernah mengajukan gagasan serupa setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada Oktober 2025.

Negosiasi Iran masih belum pasti

Di tengah dorongan Trump tersebut, proses negosiasi dengan Iran sendiri masih belum menunjukkan kepastian.

Trump mengatakan, pembicaraan dengan Iran “berjalan dengan baik”. Namun pihak Iran menegaskan bahwa kesepakatan damai belum dekat untuk tercapai.

Media pemerintah Iran melaporkan negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, tiba di Qatar pada Senin sebagai bagian dari “proses diplomatik” untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat.

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pada hari yang sama.

Sharif didampingi panglima militer Pakistan Asim Munir, yang disebut berperan dalam upaya mediasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pertemuan itu, Xi mengatakan, China menghargai “peran proaktif Pakistan dalam memediasi perdamaian di Timur Tengah” serta menyerukan terciptanya “dunia multipolar yang adil dan tertata.”

Baca juga: Negosiasi Mandek Lagi, AS dan Iran Masih Berselisih soal Ini

Tag:  #usai #perang #berakhir #trump #negara #negara #muslim #akur #dengan #israel

KOMENTAR