Strategi Netanyahu Berantakan, Perang Iran Justru Jadi Bumerang bagi Israel
Pengunjuk rasa membawa poster bertuliskan, Israel bukan negara, Israel negara teroris, di samping poster Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam demo anti-Amerika Serikat di depan Konsulat AS di Istanbul, Turkiye, 1 Februari 2026.(AFP/YASIN AKGUL)
04:24
9 Juni 2026

Strategi Netanyahu Berantakan, Perang Iran Justru Jadi Bumerang bagi Israel

Perang besar yang selama puluhan tahun menjadi ambisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini disebut mulai berbalik menjadi masalah baru bagi Israel.

Serangan terhadap Iran yang diharapkan dapat mengakhiri ancaman Teheran justru dinilai gagal mencapai tujuan, sementara pemerintah Iran tetap bertahan dan kelompok sekutunya masih mampu melawan.

Hubungan Netanyahu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan disebut mulai mengalami ketegangan akibat perang tersebut

Baca juga: Usai Hentikan Perang dengan Israel, Iran Kembali ke Meja Perundingan

Adapun Netanyahu selama tiga dekade terakhir memperingatkan bahwa Iran merupakan ancaman eksistensial bagi Israel. Pada 28 Februari, ia akhirnya melancarkan serangan besar-besaran terhadap Republik Islam Iran, yang juga didukung oleh Amerika Serikat.

Perang Iran Tak berjalan sesuai rencana Netanyahu

Netanyahu sebelumnya berhasil meyakinkan Trump bahwa perang dapat membawa perubahan rezim di Iran. Setidaknya, menurut pandangan Netanyahu, operasi tersebut bertujuan menghilangkan ancaman Iran terhadap Israel.

Namun menurut Financial Times, kampanye yang dijalankan Netanyahu justru tidak berjalan seperti yang diharapkan. Pemerintahan Iran masih berdiri kuat dan menunjukkan kemampuan untuk tetap menyerang Israel.

Serangan rudal Iran terbaru terhadap Israel disebut sebagai respons atas serangan Israel ke wilayah Beirut selatan. Israel kemudian kembali membalas dengan melakukan serangan terhadap Iran.

Di tengah eskalasi tersebut, Trump tampak berusaha mencegah konflik meluas. Ia menegaskan kendalinya atas arah kebijakan Amerika Serikat dengan mengatakan, “Saya yang membuat semua keputusan. Dia [Netanyahu] tidak membuat keputusan.”

Dilema Netanyahu

Tekanan dari Trump membuat Netanyahu menghadapi pilihan sulit. Jika ia menghentikan serangan terhadap Iran dan Hizbullah, ia berisiko dianggap lemah oleh publik Israel maupun musuh-musuhnya.

Namun, jika ia menentang Trump, hubungan strategis Israel dengan Amerika Serikat dapat terancam.

Meskipun para politikus Israel sering menyatakan negaranya dapat menentukan sendiri langkah pertahanannya, Israel tetap sangat bergantung pada dukungan Amerika Serikat, terutama dalam hal persenjataan dan sistem pertahanan udara.

Baca juga: Netanyahu Ditelepon Trump, Israel Langsung Setop Serangan ke Iran

Konflik Lebanon jadi bagian dari krisis yang lebih besar

Benteng Beaufort saat difoto dari Marjayoun, Lebanon selatan, 1 Juni 2026. Tampak bendera Israel dipasang di atas kastil.AFP Benteng Beaufort saat difoto dari Marjayoun, Lebanon selatan, 1 Juni 2026. Tampak bendera Israel dipasang di atas kastil.

Selain Iran, perang melawan Hizbullah di Lebanon juga menjadi persoalan besar bagi Israel.

Netanyahu bersikeras bahwa Israel harus memiliki kebebasan penuh untuk menyerang Hizbullah, yang sebelumnya pernah memaksa ribuan warga Israel di wilayah utara mengungsi.

Namun, serangan Israel terhadap Hizbullah juga menyebabkan lebih dari satu juta warga Lebanon meninggalkan rumah mereka.

Trump disebut telah menelepon Netanyahu dan memintanya mengurangi operasi militer Israel di Lebanon.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kampanye militer Israel menghadapi tantangan yang semakin besar.

Strategi militer Netanyahu berantakan

Laporan Financial Times menyebut konflik dengan Iran, Hizbullah, dan Hamas merupakan bagian dari kegagalan strategi yang lebih luas. Israel telah berperang hampir tiga tahun sejak 7 Oktober 2023.

Kampanye militer Israel di Gaza juga disebut telah merusak citra internasional negara itu, termasuk dengan adanya tuduhan yang dipertimbangkan oleh Mahkamah Internasional terkait dugaan genosida.

Meski begitu, Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa Israel menuju kemenangan.

Dalam pidatonya di PBB pada September, ia mengeklaim telah “menghancurkan” Hamas, “melumpuhkan” Hizbullah, dan “menghancurkan” program nuklir serta rudal Iran.

Namun, klaim itu dipertanyakan karena Hamas masih bertahan di Gaza, Hizbullah masih menjadi kekuatan besar di Lebanon, dan Iran masih mampu menggunakan rudal serta drone untuk menyerang.

Baca juga: Meski Dicaci Maki Trump, Netanyahu Sebut AS-Israel Tetap Bersahabat dan Kompak

Tag:  #strategi #netanyahu #berantakan #perang #iran #justru #jadi #bumerang #bagi #israel

KOMENTAR