BYD hingga Alibaba Dicap Militer China oleh AS, Beijing Meradang
- Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) alias Pentagon resmi memasukkan tiga raksasa korporasi China, yakni Alibaba, BYD, dan Baidu, ke dalam daftar perusahaan yang dinilai mendukung militer "Negeri Panda".
Langkah ini memperluas daftar hitam Pentagon hingga mencakup sejumlah merek komersial paling dikenal di dunia.
Pembaruan daftar tersebut diumumkan pada Senin dan kini memuat 188 nama perusahaan, meningkat signifikan dari 134 perusahaan pada tahun 2025.
Baca juga: China Pecat 4 Ilmuwan Top Usai Manipulasi Data Penelitian
Daftar "perusahaan militer China" yang pertama kali dibentuk pada 2021 ini diperbarui setiap tahun.
Keputusan tersebut berpotensi memperkeruh hubungan yang belum sepenuhnya pulih antara Washington dan Beijing.
Pengumuman ini keluar kurang dari sebulan setelah Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Selasa (9/6/2026).
Pentagon sendiri mendefinisikan perusahaan militer China sebagai entitas yang dimiliki atau dikendalikan oleh militer China, atau yang berkontribusi pada strategi fusi militer-sipil" Beijing.
Baca juga: Taiwan Kerahkan Kapal Patroli Usai China Gelar Operasi Khusus Dekat Wilayahnya
AS menudingnya sebagau upaya menggabungkan riset dan inovasi sipil dengan kepentingan pertahanan.
Dalam daftar terbarunya, Pentagon menyatakan Alibaba, BYD, dan Baidu mendukung pengembangan militer China melalui afiliasi mereka dengan Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara serta Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China.
Selain ketiga perusahaan tersebut, daftar terbaru juga memasukkan RoboSense Technology, perusahaan kecerdasan buatan dan robotika yang berkantor pusat di Shenzhen, serta Unitree Robotics yang berbasis di Hangzhou.
Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam daftar ini, beserta entitas di bawah kendali mereka, akan dilarang mengikuti tender kontrak pertahanan AS berdasarkan aturan yang dijadwalkan berlaku pada akhir bulan ini.
Baca juga: China Terusik Manuver Jepang-Filipina, Gelar Operasi Khusus
Reaksi keras
Alibaba, perusahaan e-commerce terbesar di China, menolak keras pencantuman namanya dalam daftar tersebut.
"Alibaba bukan perusahaan militer China dan bukan bagian dari strategi fusi militer-sipil mana pun," kata juru bicara perusahaan.
"Kami akan mengambil semua tindakan hukum yang tersedia untuk melawan upaya yang salah menggambarkan perusahaan kami," lanjutnya.
BYD dan Baidu belum merespons permintaan komentar saat berita ini diturunkan.
Baca juga: China Pamer Rudal Baru Saingan Patriot AS, Pasang ke Arah Taiwan
Hal yang sama berlaku untuk RoboSense Technology dan Unitree Robotics.
Kedutaan Besar China di Washington mengecam penetapan tersebut sebagai tindakan diskriminatif dan contoh nyata pemerintah AS yang melampaui batas dalam mendefinisikan keamanan nasional.
"Perusahaan-perusahaan China yang berbisnis di luar negeri telah dengan ketat mematuhi hukum dan peraturan negara tuan rumah mereka," ujar juru bicara kedutaan.
"AS harus menghentikan praktik yang keliru ini dan menciptakan lingkungan yang adil, setara, dan tidak diskriminatif bagi perusahaan-perusahaan China," lanjutnya.
Baca juga: Intel Five Eyes Bongkar Operasi Rahasia China: Rekrut Mata-mata lewat LinkedIn
Peringatan bagi perusahaan AS
Raksasa teknologi asal China, Alibaba, mengumumkan bahwa investasi besar mereka di bidang kecerdasan buatan (AI) untuk bisnis e-commerce sudah mencapai titik impas.
Di sisi lain, Anggota Kongres dari Partai Republik, John Moolenaar, yang mengetuai Komite Persaingan Strategis DPR AS dengan Partai Komunis China, menyambut baik pembaruan daftar itu.
Dia menegaskan bahwa daftar tersebut berfungsi sebagai peringatan bagi perusahaan-perusahaan China yang dinilai bekerja melawan kepentingan nasional AS.
"Semua yang diperdagangkan secara terbuka di bursa AS harus segera dihapus dari daftar dan produk mereka harus dikeluarkan dari rantai pasokan yang diandalkan negara kita," kata Moolenaar dalam sebuah pernyataan.
"Perusahaan-perusahaan Amerika harus berhenti berbisnis dengan ancaman-ancaman terhadap keamanan nasional kita, jika tidak, mereka turut memungkinkan kebangkitan militer China," sambungnya.
Baca juga: China Punya Rudal Baru PL-16, Lebih Kuat dari yang Jatuhkan Rafale India
Tag: #hingga #alibaba #dicap #militer #china #oleh #beijing #meradang