5 Masalah Besar Jelang Piala Dunia 2026
Trofi Piala Dunia terpampang di Stadion Azteca yang akan menjadi venue pembuka Piala Dunia 2026.(FIFA)
14:12
9 Juni 2026

5 Masalah Besar Jelang Piala Dunia 2026

- Piala Dunia 2026 segera digelar. Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko siap menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Namun, di balik kemeriahan yang dinantikan miliaran penggemar, sejumlah persoalan serius justru muncul ke permukaan bahkan sebelum peluit pertama ditiup.

Dari isu netralitas politik FIFA, diskriminasi terhadap suporter asing, harga tiket yang jauh dari terjangkau, hingga kekhawatiran soal lingkungan, membayangi perhelatan pesta sepak bola terakbar tersebut. 

Dilansir dari DW, berikut lima masalah besar yang membayangi Piala Dunia 2026.

Baca juga: Dilarang Masuk AS, Wasit Terbaik Afrika Resmi Dicoret dari Piala Dunia

1. FIFA dinilai tidak netral secara politik

Kedekatan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Presiden AS Donald Trump menjadi salah satu sorotan paling tajam menjelang turnamen ini. 

Infantino tampil duduk di panggung mengenakan topi bisbol bertuliskan "USA" dalam pertemuan Board of Peace yang dipimpin Trump.

Dia bahkan menyerahkan penghargaan bernama "FIFA Peace Prize" kepada sang presiden saat acara undian Piala Dunia berlangsung.

Padahal, berdasarkan statutanya sendiri, FIFA seharusnya bersikap netral secara politik. 

Tindakan Infantino ini memunculkan kesan bahwa ia secara sengaja mencampuradukkan politik olahraga internasional dengan kepentingan suatu negara.

Yang memperparah situasi, AS saat ini terlibat konflik militer dengan Iran, salah satu tim peserta Piala Dunia 2026. 

Inilah pertama kalinya dalam sejarah turnamen ini, negara tuan rumah berada dalam kondisi perang dengan salah satu negara yang timnya ikut bertanding.

Baca juga: Jelang Pembukaan Piala Dunia, 59 Bom Rakitan Ditemukan di Konvoi Bus Meksiko

2. Jutaan suporter tak bisa masuk AS.

Kebijakan imigrasi AS menjadi tembok besar yang menghalangi ribuan hingga jutaan penggemar untuk hadir langsung mendukung tim mereka. 

Pengetatan aturan visa membuat pendukung dari sejumlah negara peserta praktis tidak bisa memasuki negeri itu.

Bagi pendukung Iran dan Haiti, larangan masuk berlaku penuh, hanya pemain dan staf tim yang diizinkan hadir. 

Kondisi serupa dialami suporter dari Senegal dan Pantai Gading.

Penerbitan visa turis bagi kedua negara sebagian besar dihentikan karena banyak warga dari negara-negara tersebut yang pernah tinggal melewati batas waktu visa di AS.

Sempat pula diberlakukan kebijakan uang jaminan hingga 15.000 dolar AS bagi pengunjung dari beberapa negara, yang baru dikembalikan setelah mereka meninggalkan AS. 

Kebijakan ini akhirnya dicabut untuk sebagian besar pemegang tiket menjelang turnamen dimulai. 

Namun kekhawatiran belum sepenuhnya sirna, pemerintah AS tidak secara tegas menepis kemungkinan pemeriksaan atau penangkapan oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di sekitar venue pertandingan.

Baca juga: Wasit Terbaik Afrika untuk Piala Dunia Ditolak Masuk AS, FIFA Tak Bisa Apa-apa

3. Tiket dijual tidak transparan, ada sampai Rp 12 miliar

Suporter mengangkat vuvuzela menjelang laga pembuka Piala Dunia 2010 antara Afrika Selatan melawan Meksiko di Soweto, Afsel, 11 Juni 2010.AFP/YASUYOSHI CHIBA Suporter mengangkat vuvuzela menjelang laga pembuka Piala Dunia 2010 antara Afrika Selatan melawan Meksiko di Soweto, Afsel, 11 Juni 2010.

Harga tiket Piala Dunia 2026 menjadi polemik tersendiri jauh sebelum turnamen dimulai. 

Banyak kursi dijual seharga ribuan dollar AS, sementara tiket premium untuk partai final awalnya dibanderol sekitar 11.000 dollar AS.

FIFA menerapkan sistem "harga dinamis" yang membuat harga tiket berfluktuasi tajam sesuai permintaan. 

Dalam satu fase penjualan yang sama, dua pembeli bisa membayar harga berbeda untuk kursi yang identik. 

Sejumlah pembeli bahkan melaporkan menerima tiket di lokasi yang lebih buruk dari yang dipilih saat pemesanan.

Organisasi suporter dan lembaga perlindungan konsumen telah mengajukan pengaduan resmi ke Uni Eropa, menuding FIFA melakukan praktik harga tidak wajar dan minim transparansi. 

Jaksa Agung dari negara bagian New Jersey dan New York pun membuka penyelidikan atas praktik penjualan tiket FIFA. 

Per 28 Mei lalu, tiket final termurah di situs resmi FIFA masih dijual seharga 8.625 dolar AS (Rp 155 juta). 

Satu kursi di area kursi roda dipatok minimal 10.350 dolar AS (Rp 186 juta). 

Adapun kursi terakhir yang tersisa, di barisan terdepan dekat bendera sudut , terpampang dengan harga 690.000 dolar AS, atau sekitar Rp 12 miliar. 

FIFA juga mengoperasikan platform jual beli tiket sendiri dengan memungut komisi 30 persen dari setiap transaksi.

Baca juga: Curhat Fans Bola yang Kesulitan Tonton Piala Dunia karena Terkendala Visa AS

4. Format 48 tim dipertanyakan, mutu pertandingan jadi taruhan

Piala Dunia 2026 hadir dengan format baru: 48 tim peserta, naik signifikan dari 32 tim di edisi-edisi sebelumnya. Jumlah pertandingan pun melonjak dari 64 menjadi 104 laga. 

Para ahli dan banyak penggemar khawatir perubahan ini akan mengikis kualitas permainan secara keseluruhan.

Lolos ke babak gugur juga kini semakin mudah. 

Tidak hanya dua tim teratas dari masing-masing grup yang melaju, tetapi juga delapan tim peringkat tiga terbaik dari 12 grup yang ada.

Satu babak baru pun ditambahkan, yakni babak 32 besar.

Sejumlah pengamat menilai ekspansi ini lebih bernuansa politis ketimbang kebutuhan murni sepak bola. 

Asosiasi-asosiasi sepak bola kecil, yang suaranya cukup berpengaruh di dalam FIFA, paling diuntungkan dari penambahan slot peserta ini. 

Hal itu memunculkan pertanyaan besar: apakah keputusan ekspansi ini sejatinya merupakan strategi Infantino untuk mempertebal basis dukungan politiknya di dalam tubuh FIFA?

Baca juga: Visa Timnas Iran Sudah Terbit, tapi Tak Boleh Menginap di AS Saat Piala Dunia

5. Janji ramah lingkungan FIFA dinilai sekadar slogan

Salah satu stadion paling modern di dunia, Stadion SoFi di Los Angeles, Amerika Serikat yang dipakai untuk gelaran Piala Dunia 2026.Tangkapan layar via Antara Salah satu stadion paling modern di dunia, Stadion SoFi di Los Angeles, Amerika Serikat yang dipakai untuk gelaran Piala Dunia 2026.

FIFA selama ini rajin menggembar-gemborkan komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan. 

Namun Piala Dunia 2026 justru mendapat kritik keras dari kalangan pegiat lingkungan hidup. 

Sejumlah studi memperkirakan turnamen ini akan menghasilkan lebih dari sembilan juta ton karbon dioksida, terutama akibat jarak antarkota tuan rumah yang sangat jauh dan tingginya volume penerbangan. 

Organisasi lingkungan hidup menyebut acara ini berpotensi menjadi Piala Dunia paling merusak iklim sepanjang sejarah.

Persoalan serupa juga mengemuka di tingkat lokal. Banyak stadion berada di pinggiran kota dan sulit dijangkau dengan transportasi umum. 

Ketika layanan transportasi tersedia pun, harganya melambung jauh di atas normal. 

Perjalanan kereta singkat menuju MetLife Stadium dari New York awalnya ditetapkan seharga 150 dollar AS (Rp 2,7 juta), padahal tarif normalnya hanya sekitar 13 dollar AS (Rp 234.000). 

Setelah protes keras dari penggemar, harga diturunkan menjadi 98 dollar AS (Rp 1,7 juta). 

Layanan bus antar-jemput kini dipatok 20 dollar AS, turun dari usulan awal 80 dollar AS (Rp 1,4 juta). 

Bagi yang memilih berkendara sendiri, biaya parkir di berbagai venue berkisar antara 75 hingga 300 dollar AS (Rp 1,3-54 juta) per pertandingan.

Para pengkritik menyimpulkan bahwa di balik segala janji hijau FIFA, kenyataan di lapangan justru memaksa banyak penggemar menempuh perjalanan panjang dengan cara yang tidak ramah lingkungan dan dengan biaya yang tidak sedikit.

Baca juga: FIFA Larang Vuvuzela, Tak Ada Bunyi Dengung Lebah di Piala Dunia 2026

Tag:  #masalah #besar #jelang #piala #dunia #2026

KOMENTAR