Trump Marah! Ancam Hentikan Dukungan Militer ke Israel Gegara Ulah Netanyahu
Kolase Trump-Netanyahu [Suara.com]
14:52
9 Juni 2026

Trump Marah! Ancam Hentikan Dukungan Militer ke Israel Gegara Ulah Netanyahu

Pemerintah Iran dan Israel pada Senin mengumumkan penghentian aksi saling serang secara langsung. Langkah penahanan diri ini diambil menyusul adanya desakan kuat dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kendati demikian, pihak Teheran melontarkan peringatan keras bahwa mereka siap mengangkat senjata kembali apabila militer Israel tetap melanjutkan agresi militer terhadap kelompok milisi Hezbollah di Lebanon.

Kontroversi benturan langsung antarkedua kekuatan utama regional tersebut sempat mengancam draf kesepakatan damai yang tengah diupayakan Washington untuk mengakhiri konfrontasi terbuka yang telah pecah sejak beberapa bulan lalu.

Kabar eskalasi militer yang sempat memanas sempat memicu guncangan hebat pada pasar komoditas dan mata uang global.

Harga minyak mentah dunia dilaporkan sempat melesat hingga 5% sesaat setelah serangan udara masif bergulir, sebelum akhirnya melorot kembali usai komando militer Iran mengumumkan bahwa gelombang gempuran pertama mereka telah dinyatakan selesai.

Di sisi lain, indeks mata uang dolar AS juga terpantau sedikit melorot dari level tertingginya dalam dua bulan terakhir setelah ketegangan mulai mereda.

Rangkaian serangan balik ini bermula ketika Teheran meluncurkan gelombang rudal ke wilayah kedaulatan Israel pada Minggu malam.

Aksi tersebut diklaim sebagai bentuk pembalasan atas operasi militer Israel yang menyasar basis Hezbollah di pinggiran kota Beirut.

Merespon rudal Iran, jet tempur Israel bergerak membalas dengan menghancurkan sistem pertahanan udara serta kompleks industri petrokimia yang dituding menjadi basis produksi rudal balistik Iran.

Menanggapi hal tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran kembali meluncurkan serangan balasan dengan menargetkan fasilitas serupa milik Israel di kota Haifa. Hingga saat ini, otoritas kedua belah pihak melaporkan tidak ada korban jiwa yang jatuh akibat insiden tersebut.

Presiden AS Donald Trump terus menekan kedua belah pihak agar segera menyepakati gencatan senjata permanen. Melalui platform media sosial pribadinya, Trump mengonfirmasi bahwa komunikasi intensif tengah berjalan.

"Negosiasi akhir menuju 'Perdamaian' sedang berlangsung, sejauh ketidaktahuan atau kebodohan tidak menghalanginya," tulis Trump.

Dibalik formalitas tersebut, tensi diplomatik antara AS dan sekutu utamanya sempat memanas. Berdasarkan wawancara eksklusif bersama Axios, Trump mengaku telah memberikan peringatan keras secara personal kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Trump menegaskan bahwa jika Tel Aviv bersikeras menyeret kawasan ke dalam perang total dengan Iran, maka Washington kemungkinan besar tidak akan ikut campur secara militer.

"Saya katakan, 'Bibi, kamu harus berhati-hati, atau kamu akan berjuang sendirian dalam waktu dekat,'" ungkap Trump.

Meskipun kabar keretakan hubungan tersebut meluas, Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, mencoba menepis narasi miring tersebut.

Saat berbicara di saluran Fox News, Leiter menyebut hubungan Trump dan Netanyahu tetap solid layaknya persahabatan yang telah teruji selama 40 tahun, meskipun ia tidak menampik adanya perdebatan yang cukup sengit dalam ruang diskusi.

Di panggung diplomasi internasional, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak semua faksi untuk menahan diri secara maksimal guna menghindari kerusakan yang lebih luas.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengakui pihaknya masih saling bertukar pesan dengan Washington, namun dalam atmosfer yang diliputi rasa saling tidak percaya yang ekstrem.

Ketegangan kian berlapis karena para sekutu regional Iran ikut bergerak. Ebrahim Azizi selaku kepala komite keamanan nasional parlemen Iran, menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap kedaulatan Teheran maupun sekutunya, termasuk kelompok Houthi di Yaman, akan dibayar mahal oleh Israel.

Kelompok Houthi sendiri telah merilis maklumat politik untuk memblokade jalur pelayaran kapal dagang terafiliasi Israel di kawasan Laut Merah dan mengonfirmasi telah meluncurkan proyektil rudal ke wilayah Eilat, yang kemudian berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.

Keterlibatan Houthi menjadi titik krusial baru mengingat mereka menguasai wilayah strategis di jalur alternatif pengapalan minyak mentah dunia, di tengah aksi blokade Selat Hormuz yang masih dipertahankan oleh militer Iran.

Di tengah klaim saling siaga untuk perang jangka panjang dari kedua belah pihak, situasi sipil di Teheran berangsur pulih.

Otoritas penerbangan Iran dilaporkan telah membuka kembali aktivitas penerbangan internasional di Bandara Imam Khomeini setelah sempat ditangguhkan selama seharian penuh akibat serangan rudal.

Fokus diplomasi kini bergeser ke sektor perbatasan Lebanon. Pemerintah Israel menegaskan bahwa operasi militer mereka untuk menumpas infrastruktur Hezbollah di Lebanon selatan tidak akan terikat oleh draf gencatan senjata antara AS dan Iran.

Bagi Teheran, penghentian agresi militer di Lebanon merupakan syarat mutlak bagi tercapainya perdamaian jangka panjang dengan AS.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #trump #marah #ancam #hentikan #dukungan #militer #israel #gegara #ulah #netanyahu

KOMENTAR