Sering Tanpa Gejala, Mayapada Hospital Bandung Hadirkan Layanan Deteksi Dini Penyakit Liver
- Tren penyakit hati atau liver kini mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya mayoritas kasus disebabkan oleh infeksi virus, saat ini justru didominasi oleh faktor non-infeksi, terutama gangguan metabolik seperti obesitas, kolesterol tinggi, dan diabetes.
Perubahan ini mendorong Mayapada Healthcare menghadirkan layanan Liver, Metabolic and Wellness Center (LMWC) sebagai upaya deteksi dini sekaligus penanganan komprehensif penyakit hati.
Center of Excellence Manager Mayapada Healthcare, dr. Steven Widjaja, MARS, menjelaskan bahwa perubahan gaya hidup masyarakat modern menjadi pemicu utama meningkatnya kasus liver non-viral.
Baca juga: Hindari, 7 Jenis Makanan dan Minuman yang Merusak Liver
“Sekarang ini trennya, penyakit liver itu didominasi oleh yang non-viral infection salah satunya itu yang penyakit metabolik, di mana penyakit metabolik itu biasa ditemukan saat medical check-up,” ujarnya saat ditemui di Mayapada Hospital Bandung, Jumat (10/4/2026).
Kondisi ini umumnya bermula dari pola makan berlebih yang tidak diimbangi aktivitas fisik, sehingga memicu penumpukan lemak di hati atau fatty liver. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit serius seperti sirosis hingga kanker hati.
Sering Tanpa Gejala, Pentingnya Deteksi Dini
Menurut Steven, salah satu tantangan terbesar penyakit liver adalah sifatnya yang kerap tanpa gejala. Banyak pasien baru menyadari kondisinya ketika sudah memasuki tahap lanjut.
“Makanya kita mau mengedepankan layanan ini, untuk meningkatkan awareness masyarakat untuk lebih aware terhadap kesehatan liver,” ujarnya.
“Karena kalau misalnya kita merasa kondisi tubuh kita baik-baik saja, belum tentu yang ada di dalam itu baik-baik saja, jadi pentingnya melakukan pemeriksaan dini khususnya untuk penyakit liver,” lanjutnya.
Sebagai solusi, LMWC menghadirkan teknologi non-invasif seperti liver elastografi yang memungkinkan pemeriksaan tanpa prosedur biopsi.
“Kalau dulu gold standard itu kita menggunakan jarum biopsi, di mana itu termasuk tindakan invasif, tapi sekarang sudah bisa dilakukan secara non-invasif, salah satunya dengan menggunakan pemeriksaan liver elastografi. Yang sekarang tidak ada luka sama sekali seperti USG di perut, tapi ini bisa mendeteksi masalah di livernya,” jelasnya.
Baca juga: Menurut Studi, Kopi Bisa Kurangi Risiko Terkena Penyakit Liver
Steven juga mengungkapkan, bahwa prevalensi sindrom metabolik cukup tinggi. Bahkan, satu dari tiga orang tanpa gejala berpotensi memiliki kondisi yang dapat berkembang menjadi fatty liver.
Kelompok dewasa muda disebut sebagai salah satu yang paling berisiko, terutama mereka dengan gaya hidup sedentari, seperti pekerja kantoran yang minim aktivitas fisik dan memiliki pola makan tinggi kalori.
“Intinya tingkatkan aktivitas fisik jaga asupan yang masuk ke dalam tubuh kita itu cara paling mudah,” kata Steven.
Layanan Terintegrasi untuk Pencegahan dan Perawatan
Dalam kesempatan yang sama, Hospital Director Mayapada Hospital Bandung, dr. Irwan Susanto Hermawan menjelaskan, bahwa LMWC dirancang dengan pendekatan menyeluruh, mulai dari deteksi dini hingga pencegahan berbasis gaya hidup.
“Kami mencoba mengenalkan kepada masyarakat mengenai, satu, deteksi dini. Kedua dari deteksi dini ini, kami akan mengajarkan dan menginformasikan mengenai resiko dan program-programnya, bagaimana seorang pasien atau masyarakat dapat mengenal risiko dan deteksi dari hasilnya ke dalam program keseharian,” ujarnya.
Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga memahami akar masalah kesehatan mereka.
“Jadi, keberadaan Liver, Metabolik dan Wellness Center ini sangat seru, sangat fun dan tidak serta merta datang ke rumah sakit, diobatin, sudah selesai. Tapi di sini kita akan menghidupkan bagaimana keseharian kita dapat memberikan nilai kesehatan yang sangat positif,” lanjutnya.
Didukung Tim Multidisiplin dan Teknologi Modern
LMWC menghadirkan layanan terintegrasi untuk kesehatan liver, gangguan metabolik, serta pengelolaan berat badan.
Fokus utamanya adalah deteksi dini risiko seperti obesitas, diabetes, dislipidemia, dan sindrom metabolik, dengan pendekatan perawatan yang dipersonalisasi (personalized care).
Layanan ini didukung oleh tim multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, bedah digestif, endokrin-metabolik-diabetes, gizi klinik, hingga kedokteran olahraga.
Alur layanan mencakup; skrining awal, evaluasi medis, pendampingan gizi, terapi medis, tindakan lanjutan jika diperlukan, pemantauan rutin.
Baca juga: Jaga Kesehatan Liver dengan Konsumsi Makanan Ini
Sementara teknologi yang digunakan antara lain, FibroScan (elastografi) untuk menilai kondisi jaringan hati dan Total Body Matrix Assessment (TBMA) untuk mengevaluasi komposisi tubuh.
“Adanya fibroscan dengan multidisipin, kita akan mencoba memberikan suatu program kepada masyarakat bahwa kalau anda deteksi secara dini, kita buatkan suatu program tentang bagaimana lemak ini secara kontinus dapat berkurang, maka seluruh yang berhubungan dengan kesehatan metabolik tubuh kita akan baik,” kata Irwan.
Kaitan Obesitas dan Fatty Liver
Ilustrasi gejala penyakit liver.Sementara itu, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif, Prof. Dr. dr. Reno Rudiman, mengingatkan, bahwa obesitas merupakan akar dari berbagai penyakit metabolik, termasuk fatty liver.
“Tanpa penanganan yang tepat, fatty liver dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti sirosis hingga kanker hati. Oleh karena itu, penyakit ini perlu dikendalikan melalui deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta penyesuaian pola makan dan gaya hidup," ujarnya.
Ia menambahkan, fatty liver, yang kini dikenal sebagai Metabolic Dysfunction Associated Steatotic Liver Disease (MASLD), telah menjadi penyakit hati paling umum di dunia, dengan prevalensi sekitar 30 persen populasi dewasa.
Artinya, hampir satu dari tiga orang dewasa berisiko mengalami fatty liver. Kondisi ini sangat erat kaitannya dengan gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes, serta sering kali tidak bergejala di tahap awal, sehingga kerap baru terdeteksi saat sudah lanjut.
"Penanganan fatty liver tidak cukup hanya dengan obat, tetapi memerlukan perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pengelolaan berat badan. Oleh karena itu, pendekatan komprehensif dengan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci untuk hasil yang optimal,” jelasnya.
Dalam beberapa kasus, ketika perubahan gaya hidup dan terapi medis belum memberikan hasil optimal, tindakan bariatric surgery dapat menjadi solusi efektif.
Melalui kehadiran LMWC, Mayapada Hospital Bandung berharap masyarakat tidak lagi menunda pemeriksaan kesehatan.
“Kami mengharapkan kepada masyarakat, tidak perlu ragu-ragu, tidak perlu takut karena ini bukan sesuatu kabar buruk. Dengan adanya kehadiran center ini memberikan suatu kabar baik bagaimana kita dapat menabung sesuatu yang baik untuk kesehatan kita ke depan,” tutup Irwan.
Baca juga: Waspadai, 4 Dampak Buruk pada Liver akibat Minum Soft Drink
Tag: #sering #tanpa #gejala #mayapada #hospital #bandung #hadirkan #layanan #deteksi #dini #penyakit #liver