Profil Luky Alfirman Dirjen yang Dicopot Purbaya: 30 Tahun Mengabdi di Keuangan, Punya Harta Jumbo
Gebrakan Menkeu Purbaya di Kementerian Keuangan memakan korban seorang pejabat senior yang sangat loyal.
Keputusan memberhentikan seorang dirjen strategis membuat profil Luky Alfirman mendadak jadi sorotan utama publik.
Padahal, birokrat andal ini memiliki rekam jejak pengabdian hampir tiga dekade sejak era lampau. Ia bahkan tercatat memiliki laporan harta kekayaan fantastis yang bersih dari utang sepeserpun.
Hal ini memunculkan teka-teki mengenai alasan pasti di balik perombakan elite tersebut. Publik tentu penasaran dengan sepak terjang sosok yang sebelumnya dikenal sebagai penjaga gawang anggaran negara ini.
Keputusan pemberhentian ini telah dikonfirmasi dan langsung ditindaklanjuti secara cepat oleh kementerian. Roda birokrasi dipastikan tidak akan terganggu oleh kekosongan kursi pimpinan yang ditinggalkannya.
"Sudah dikasih Plh (Pelaksana Harian) sekarang. Sudah dari kemarin sore aktif," tegas Purbaya di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Profil Luky Alfirman, Insinyur ITB yang Menyeberang ke Jalur Ekonomi
Dirjen Anggaran Kemenkeu, Luky Alfirman saat konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (20/11/2025). [Screenshot YouTube Kemenkeu]Lahir di Bandung pada 27 Maret 1970, Luky Alfirman awalnya tidak memiliki latar belakang pendidikan keuangan. Ia justru sukses merengkuh gelar Sarjana Teknik Industri dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1994.
Namun, jalan hidupnya berbelok ketika ia memutuskan melanjutkan pendidikan tinggi ke Amerika Serikat. Ia berhasil menyabet gelar master hingga Ph.D di bidang ekonomi dari University of Colorado.
Tiga Dekade Mengabdi Berujung Evaluasi
Perjalanan panjangnya berseragam abdi negara sejatinya telah dimulai sejak 1 Maret 1995 silam. Ia dengan sabar meniti tangga karier dari bawah di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
Integritasnya teruji saat ia dilibatkan langsung dalam program reformasi dan modernisasi administrasi perpajakan nasional.
Kariernya terus merangkak naik secara pasti hingga ia dipercaya memimpin Badan Kebijakan Fiskal pada 2011.
Sempat menjabat sebagai Chief of Staff, ia lantas ditunjuk menjadi Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. Puncaknya, ia dilantik sebagai Direktur Jenderal Anggaran pada 23 Mei 2025 lalu.
Tajir Melintir Tanpa Beban Utang
Selain karier mulusnya yang kini terhenti, publik juga menyoroti Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) miliknya.
Dokumen periodik 2024 itu menunjukkan akumulasi nominal fantastis yang mencapai angka Rp52,2 miliar.
Menariknya, dalam laporan kekayaan tersebut sama sekali tidak ditemukan catatan kewajiban utang. Fakta ini seakan membuktikan kemampuannya mengelola finansial pribadi layaknya ia mengatur anggaran negara.
Sumber kekayaannya ternyata paling banyak didominasi oleh simpanan kas dan setara kas yang tembus Rp24,77 miliar. Ia juga menaruh pundi-pundi asetnya pada instrumen surat berharga senilai hampir Rp15 miliar.
Sektor properti rupanya turut menjadi lahan investasi favoritnya dengan total nilai mencapai Rp11 miliar. Ia tercatat memiliki tiga bidang tanah dan bangunan berlokasi strategis di kawasan Jakarta Selatan serta Bandung.
Sementara itu, isi garasinya terbilang cukup wajar dengan koleksi empat unit mobil senilai Rp640 juta.
Sisa kekayaannya tersebar dalam wujud harta bergerak lainnya sebesar Rp203 juta dan harta lainnya sejumlah Rp612 juta.
Tag: #profil #luky #alfirman #dirjen #yang #dicopot #purbaya #tahun #mengabdi #keuangan #punya #harta #jumbo