WFH Jumat untuk ASN, Hemat Anggaran atau Cuma Pindah Tempat Kerja?
Wacana WFH hari Jumat untuk aparatur sipil negara atau ASN kerap dikaitkan dengan efisiensi, tetapi penghematan anggaran belum tentu otomatis terjadi hanya karena pegawai bekerja dari rumah.
Sosiolog Universitas Indonesia dari FISIP UI, Dr. Ida Ruwaida, M.Si., menilai dampak WFH Jumat terhadap efisiensi perlu dilihat lebih hati-hati karena ada faktor lain yang ikut memengaruhi, termasuk gaya hidup pekerja.
“Sebab itu WFH Jumat tidak akan berdampak besar, apalagi mampu mengefisienkan anggaran, karena faktor lain yang perlu dilihat adalah kaitannya dengan gaya hidup,” kata Ida saat dihubungi Kompas.com, Rabu (6/5/2026).
Menurut Ida, kebijakan WFH Jumat tidak cukup dibaca sebagai pemindahan lokasi kerja dari kantor ke rumah.
Cara pekerja memaknai fleksibilitas, pola konsumsi, dan penggunaan waktu di luar kantor juga dapat menentukan apakah kebijakan tersebut benar-benar membawa efisiensi.
Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Sosiolog UI: Jangan Sekadar Pindah Kerja ke Rumah
Dampaknya dinilai terbatas
Ida mengatakan, WFH Jumat tidak akan terlalu berdampak jika hanya diberlakukan kepada ASN.
Menurut dia, persentase jumlah ASN kementerian atau lembaga negara di Jakarta relatif sedikit dibandingkan kelompok pekerja lain.
“Jika Jumat WFH hanya diberlakukan kepada ASN, menurut saya tidak terlalu berdampak karena persentase jumlah ASN kementerian atau lembaga negara di Jakarta khususnya relatif sedikit,” ujar Ida.
Dengan cakupan yang terbatas, dampak sosial maupun efisiensi dari kebijakan tersebut juga dinilai tidak besar.
Ida menilai, efek WFH Jumat tidak bisa diasumsikan langsung terasa secara luas jika kelompok yang menjalankannya hanya sebagian kecil dari keseluruhan pekerja di perkotaan.
Baca juga: WFH Jumat untuk ASN, Antara Fleksibilitas dan Beban Baru di Rumah
Jumat sudah relatif lebih santai
Ilustrasi bekerja di kafe atau work from cafe. Sosiolog UI menilai WFH Jumat untuk ASN belum tentu menghemat anggaran karena efektivitasnya juga dipengaruhi gaya hidup, cakupan kebijakan, dan cara pekerja memaknai fleksibilitas.
Selain cakupan ASN, karakter hari Jumat juga menjadi faktor yang membuat dampak WFH tidak terlalu besar.
Ida menjelaskan, bagi sebagian ASN, Jumat sebelum ada wacana WFH sudah dikenal sebagai hari yang relatif lebih santai.
Beberapa instansi mengisi hari Jumat dengan kegiatan krida, olahraga, pengajian, atau kegiatan lain.
“Bagi ASN, sebelum ditetapkan kebijakan WFH, Jumat adalah hari krida, hari relatif lebih santai,” kata Ida.
Karena itu, menurut Ida, pemilihan Jumat sebagai hari WFH tidak akan banyak menstimulasi perubahan besar dalam ritme kerja.
Dalam konteks ini, WFH Jumat berpotensi hanya menjadi penyesuaian teknis, bukan perubahan signifikan pada cara kerja maupun produktivitas.
Baca juga: Cerita Tabita ASN Gen Z Jalani WFH di Jakarta, Fleksibel tapi Harus Selalu Siaga
Gaya hidup bisa memengaruhi penghematan
Ida menyoroti bahwa efisiensi tidak hanya ditentukan oleh biaya operasional kantor atau berkurangnya perjalanan ke tempat kerja.
Gaya hidup pekerja juga dapat memengaruhi apakah WFH benar-benar membuat pengeluaran lebih hemat.
Dalam praktiknya, fleksibilitas kerja bisa dimaknai berbeda oleh setiap orang.
Sebagian pekerja mungkin benar-benar bekerja dari rumah dan mengurangi biaya transportasi. Namun, sebagian lain bisa memilih bekerja dari kafe atau tempat lain demi suasana berbeda.
Jika itu terjadi, potensi penghematan dapat berkurang karena muncul pengeluaran tambahan untuk konsumsi, perjalanan, atau kebutuhan penunjang kerja di luar rumah.
Karena itu, Ida menilai gaya hidup menjadi salah satu faktor penting ketika WFH Jumat dibicarakan sebagai cara mengefisienkan anggaran.
Baca juga: WFH Setiap Jumat Berisiko Sebabkan ASN Gen Z Merasa Kesepian, Psikolog Bagikan Tips Mengatasinya
Risiko dianggap akhir pekan panjang
Ida juga mengingatkan risiko lain jika WFH Jumat dimaknai sebagai awal akhir pekan panjang.
Kekhawatiran ini dapat muncul bila Jumat, Sabtu, dan Minggu diperlakukan sebagai rangkaian waktu longgar, bukan sebagai hari kerja yang tetap memiliki tanggung jawab.
“Kalau sekolah-sekolah juga di-PJJ-kan pada hari Jumat, mungkin ada sedikit pengaruhnya, itu pun untuk orangtua yang ASN,” ujar Ida.
Namun, ia menilai kebijakan tersebut bisa tidak efektif jika Jumat sampai Minggu disikapi sebagai “long weekend”.
Jika hal itu terjadi, WFH Jumat tidak akan banyak membantu efisiensi, apalagi mendorong perubahan tatanan dan pola relasi dalam keluarga maupun masyarakat.
Perlu cara pandang baru
Ida menilai pengalaman pandemi menunjukkan bahwa WFH dan PJJ sering dipahami sebagai kondisi darurat, bukan sebagai dasar untuk membangun kultur kerja baru.
“Fakta bahwa akan terbangun realitas baru pada masa Covid-19, ternyata kini kembali ke era lama karena kebijakan WFH maupun PJJ dimaknai sebagai kondisi darurat, bukan untuk membangun kultur baru,” kata Ida.
Karena itu, WFH Jumat tidak cukup hanya diterapkan sebagai aturan lokasi kerja.
Kebijakan tersebut perlu disertai cara pandang yang jelas tentang produktivitas, tanggung jawab, dan batasan kerja.
Tanpa itu, WFH Jumat berisiko tidak menghasilkan efisiensi yang diharapkan dan hanya menjadi perubahan jadwal tanpa dampak besar.
Baca juga: Cerita Wildan Tetap Produktif Selama Jalani WFH sebagai ASN Gen Z
Tag: #jumat #untuk #hemat #anggaran #atau #cuma #pindah #tempat #kerja