Hartono Gan Sebut Fesyen Bukan Cuma soal Baju, tapi Tentang Kejujuran
- Industri busana di Indonesia terus memperlihatkan perkembangan pesat dan melahirkan banyak desainer maupun jenama baru setiap tahunnya.
Namun, di balik peluncuran koleksi yang menarik perhatian, tidak semua jenama fesyen lokal mampu bertahan lama.
Desainer Hartono Gan mengungkap, kunci untuk membangun jenama yang panjang umur rupanya bukan sekadar keahlian teknis seperti menggambar pola atau kelihaian memilih material kain berkualitas.
Baca juga: Cerita Hartono Gan 17 Tahun di Dunia Fashion, Antara Adaptasi Tren dan Passion
Kejelasan identitas yang dibangun di balik sebuah karya justru memegang peranan paling penting.
"Because fashion is not about clothes. Kalau teman-teman merasa fashion itu tentang baju, itu salah besar. Fashion is the air that we breathe," papar Hartono dalam diskusi JF3 bertajuk "Recrafted: Shaping the Future" di Summarecon Discovery, Jakarta Utara, Selasa (19/5/2026).
Kunci keberlanjutan jenama fesyen lokal di pasar global
Kejujuran desainer sebagai fondasi utama identitas produk
Fashion show bertema Rock oleh Hartono Gan, pada acara Twelve Triumphant di Lippo Mall Kemang, Jakarta, Sabtu (14/9/2024).
Bagi sebagian pelaku usaha fesyen, menentukan konsep dan narasi yang mendasari sebuah koleksi busana kerap menjadi beban, serta menyita banyak pikiran.
Namun pada dasarnya, identitas jenama yang kuat tidak bisa sekadar dikarang atau direkayasa demi mengikuti tren pasar yang sedang populer.
Narasi terbaik, menurut Hartono, sejatinya lahir dari rutinitas dan kehidupan sehari-hari sang desainer di balik label yang diusung.
"Jadi fashion itu berhubungan dengan apa yang kita makan, apa yang kita dengar, apa yang kita baca, kita pergi ke mana, itu membentuk karakter. Jadi, narasi itu akan timbul sendiri dari honesty," jelas dia.
Hati-hati dengan narasi yang direkayasa
Mencoba memaksakan diri untuk memakai konsep yang sama sekali tidak dipahami oleh sang desainer justru akan merugikan jenaa itu sendiri.
Koleksi yang diperagakan pada peluncuran koleksi ready-to-wear Hartono Gan di LAKON Store, Sabtu (25/04)
Ditambah lagi, konsumen saat ini dinilai sudah sangat peka dalam membedakan mana kampanye pemasaran yang dibuat-buat dan mana yang benar-benar mewakili jiwa dan label sang desainer.
"Kalau dipaksa aja jatuhnya ngarang, tidak organik. So I think the greatest narration comes from honesty," tegas Hartono memberikan masukannya dalam diskusi tersebut.
Menyeimbangkan idealisme dan realitas komersial
Selain pentingnya identitas yang jujur, para pelaku industri fesyen juga dihadapkan pada tantangan lain, yakni menyeimbangkan antara idealisme perancang dan realitas komersial.
Advisor JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, Thresia Mareta, menyoroti fenomena banyaknya perancang busana yang masih terjebak pada pemikiran bahwa pakaian adalah murni karya seni pribadi.
"Karena kalau kita lihat brand di luar gitu, yang memang udah umurnya udah panjang, mereka itu memperlakukan brand itu bukan sebagai art lagi. Enggak kayak desainer kita di sini gitu," ungkap Thresia dalam kesempatan yang sama.
Menurut pandangannya, sebuah jenama membutuhkan landasan dan sistem kerja yang masuk akal agar ekonomi perusahaan tetap berjalan sehat.
Baca juga: Hartono Gan Hadirkan Capsule Wardrobe dalam Koleksi Ready to Wear Perdananya
Koleksi ready-to-wear Hartono Gan di LAKON Store, Summarecon Mall Kelapa Gading
Apabila dikelola secara profesional sebagai sebuah bisnis, jenama tersebut bisa memproduksi koleksi secara stabil, dan kelangsungan hidupnya tetap terjamin meskipun pencipta aslinya kelak sudah tidak lagi memegang kendali.
"Tapi kalau dia diperlakukan sebagai bisnis, umurnya bisa panjang karena creative director itu jadi satu jabatan yang tergantikan," terang dia.
"Tapi kalau di kita, desainer yang memang masih pakai nama dia sendiri dan memperlakukan itu sebagai art, setelah dia selesai, itu tidak tergantikan," lanjut Thresia menyoroti kendala regenerasi.
Oleh karena itu, sudah saatnya para perancang busana mulai berani memikirkan rancangan dari sudut pandang ekonomi dan target pasar.
Ketika sebuah merek tampil dengan identitas yang otentik, tetapi tetap peka terhadap pengaturan manajemen bisnis, Thresia menyebut bahwa jenama tersebut mampu bertahan dari persaingan.
"Kalau tiba-tiba dapur nasinya udah enggak ngebul juga, agak-agak terseok-seok, lama-lama akhirnya nyerah juga gitu dengan situasi," pungkas dia.
Baca juga: Strategi Jenama Fesyen Lokal Menarik Perhatian Media
Tag: #hartono #sebut #fesyen #bukan #cuma #soal #baju #tapi #tentang #kejujuran