Google dan YouTube Luncurkan Buku Saku Digital Well-being
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid (kanan) dan Director of Government Affairs and Public Policy YouTube APAC, Celeste Campbell-Pitt (kiri), dalam acara peluncuran Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja (Digital Wellbeing Guidebook) oleh Google, YouTube, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), RS Cipto Mangunkusumo, dan Universitas Indonesia, di Jakarta, Senin (8/6/2026).
14:35
9 Juni 2026

Google dan YouTube Luncurkan Buku Saku Digital Well-being

- Google dan YouTube, bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), RS Cipto Mangunkusumo, dan Universitas Indonesia, resmi merilis "Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja" (Digital Wellbeing Guidebook) di Jakarta, Senin (8/6/2026).

Pakar Psikiatri Anak dan Remaja sekaligus tim penulis utama, Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ(K), menjelaskan bahwa buku saku ini disusun dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami berbagai kalangan.

Isinya mencakup perkembangan remaja, tantangan psikologis, hingga strategi pendampingan berlandaskan komunikasi suportif dan keteladanan dewasa.

"Kami berharap buku ini tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga menjadi panduan praktis dalam mendampingi remaja menghadapi dinamika dunia digital yang terus berkembang," kata dia.

Baca juga: Tips Membangun Kesejahteraan Digital Anak Lewat Kebiasaan Sederhana

"Teknologi bukanlah musuh yang harus dijauhi, melainkan alat yang perlu digunakan secara bijak. Dengan pemahaman yang baik, remaja dapat memanfaatkan teknologi untuk berkembang secara positif tanpa kehilangan keseimbangan dalam kehidupan nyata," lanjut dr. Tjhin.

Kerjasama dengan AKSI Digital

Peluncuran yang didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ini merupakan kelanjutan dari inisiatif AKSI Digital yang telah dimulai sejak Januari lalu.

Tujuannya adalah memberikan keterampilan praktis bagi keluarga dan sekolah untuk menjaga kesejahteraan mental remaja di tengah dunia digital saat ini.

"Di Indonesia, YouTube telah berevolusi menjadi sumber daya yang mendorong bangsa dalam kondisi pembelajaran terus-menerus, membuka dunia penemuan dan kemungkinan bagi generasi berikutnya," ujar Director of Government Affairs and Public Policy YouTube APAC, Celeste Campbell-Pitt.

Baca juga: Cara Membimbing Anak Menyaring Konten Digital dengan Metode T-H-I-N-K

Menurut dia, kerja sama melalui inisiatif AKSI Digital ini dapat memastikan generasi mendatang memiliki pengetahuan, serta ketangguhan yang mereka butuhkan untuk berkembang di era digital.

Peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar daring

Inisiatif ini diintegrasikan dengan peningkatan kompetensi resmi oleh BPSDM Komdigi dan DPAPP DKI Jakarta.

Targetnya adalah melatih 2.500 guru Bimbingan Konseling (BK), di mana 1.000 guru telah mengikuti pelatihan untuk menciptakan lingkungan belajar daring yang aman.

Langkah edukatif tersebut juga mendukung implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak dalam Sistem Elektronik (PP Tunas).

Sasarannya mencakup penguatan mental remaja usia 13-16 tahun, pelatihan pembuatan konten bagi pendidik, serta literasi siber bersama ICT Watch untuk mencegah perundungan siber (cyberbullying) dan kecanduan gawai.

Baca juga: 7 Cara Digital Parenting, Latih Anak Bijak di Internet

Panduan memilih tontonan yang sehat dan edukatif

Dalam menjaga ekosistem kondusif, YouTube juga menghadirkan inovasi fitur keamanan, seperti pengatur durasi menonton Shorts serta pengingat Waktu Tidur (Bedtime Reminders) agar orangtua dapat menetapkan batasan yang sehat.

Fitur tersebut sejalan dengan penerapan prinsip kualitas baru untuk remaja, yang memprioritaskan video edukatif dan menyenangkan sesuai usia, sekaligus membatasi paparan konten yang berdampak kurang baik.

Hal ini mendukung peran YouTube sebagai ruang kelas digital. Riset Ipsos pada Agustus 2025 mencatat 89 persen orangtua setuju anak mendapat manfaat belajar dari platform ini, dan 92 persen menilai pendidikan lebih mudah diakses.

Bagi pendidik, 82 persen guru menyebut tayangan video membantu siswa memahami materi kompleks, dan 96 persen guru telah mengintegrasikannya dalam metode pembelajaran.

Baca juga: Tips Membangun Kesejahteraan Digital Anak Lewat Kebiasaan Sederhana

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, dalam acara peluncuran Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja (Digital Wellbeing Guidebook) oleh Google, YouTube, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), RS Cipto Mangunkusumo, dan Universitas Indonesia, di Jakarta, Senin (8/6/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, dalam acara peluncuran Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja (Digital Wellbeing Guidebook) oleh Google, YouTube, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), RS Cipto Mangunkusumo, dan Universitas Indonesia, di Jakarta, Senin (8/6/2026).

Menjadi penjaga di "pintu dan jendela" siber anak

Menkomdigi Meutya Hafid mengapresiasi kolaborasi lintas kementerian dan lembaga daerah ini demi memperkuat perlindungan anak.

Menurut dia, dunia digital hari ini adalah rumah baru bagi generasi muda, sehingga orangtua dan tenaga pendidik wajib menjaga "pintu dan jendela" anak agar tetap aman di dalam ruang siber.

"Melalui aturan PP Tunas, tujuan kita bukan melarang anak masuk ke dunia digital, melainkan menunda hal-hal berbahaya seperti ancaman kontak dengan orang tak dikenal, paparan konten negatif, hingga adiksi," tegas Meutya.

Meutya berharap pedoman ini membuat orangtua lebih percaya diri dalam menjawab pertanyaan kritis anak seputar dunia digital, dan apapun yang mereka temukan di sana.

Baca juga: 3 Ancaman Digital yang Paling Mengintai Anak dan Perempuan

Tag:  #google #youtube #luncurkan #buku #saku #digital #well #being

KOMENTAR