Menyalakan Pembelajaran Digital
Siswa SRMP 29 Pamekasan, Jawa Timur sedang mengikuti pembelajaran digital, Rabu (15/4/2026)(KOMPAS.COM/Fathor Rahman)
12:54
24 Mei 2026

Menyalakan Pembelajaran Digital

DIGITALISASI pendidikan tidak lagi berada di pinggir percakapan.

Ia telah masuk ke ruang kelas, ke cara guru menyiapkan pembelajaran, ke sumber belajar murid, dan ke cara negara membayangkan pemerataan mutu pendidikan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah sekolah memerlukan teknologi.

Pertanyaan yang lebih penting ialah: apakah teknologi itu membuat murid belajar lebih baik, atau hanya membuat kelas tampak lebih modern?

Dalam beberapa tahun terakhir, Kemendikdasmen memperkuat ekosistem digital pendidikan melalui Papan Interaktif Digital, Rumah Pendidikan, Ruang Murid, Ruang GTK, akun belajar.id, Sumber Belajar Digital, Latihan Soal, SIBI, dan BUDI.

Rangkaian istilah ini terdengar teknis, tetapi maknanya sederhana. Rumah Pendidikan menjadi rumah besar layanan digital.

Ruang Murid membantu peserta didik belajar. Ruang GTK mendukung guru dan tenaga kependidikan berkembang.

Akun belajar.id menjadi identitas digital. Sumber Belajar menyediakan video, artikel, konten interaktif, dan gim edukasi.

Latihan Soal membantu murid mengecek pemahaman. SIBI menyediakan buku pendidikan resmi. BUDI memperkaya literasi anak melalui bacaan digital, komik, audio, dan video.

Baca juga: Micro Dopamin Economy: Saat Ekonomi Tumbuh, tapi Dompet Kita Malah Menjerit

Dengan demikian, digitalisasi pendidikan tidak bertumpu pada satu perangkat. Ia adalah ekosistem: alat, platform, konten, buku, latihan, data, dan ruang belajar bagi guru.

Ini penting bagi Indonesia yang kondisi sekolahnya sangat beragam. Ada sekolah dengan guru lengkap, fasilitas baik, dan internet stabil.

Ada pula sekolah yang masih menghadapi keterbatasan guru, sumber belajar, listrik, internet, dan akses pelatihan.

Di tengah bentang seperti ini, teknologi dapat menjadi jembatan. Namun, jembatan hanya berguna bila benar-benar menghubungkan perangkat dengan mutu pengalaman belajar.

Papan Interaktif Digital, misalnya, dapat menjadi lebih dari sekadar layar besar.

Ia dapat berfungsi sebagai papan tulis digital, ruang anotasi, media presentasi, tempat simulasi, sarana kuis, dan ruang kolaborasi.

Guru dapat menampilkan video dari Sumber Belajar, membuka buku dari SIBI, mengajak murid membaca cerita dari BUDI, memakai Latihan Soal sebagai asesmen cepat, atau menampilkan peta, grafik, gambar, dan eksperimen virtual.

Murid tidak hanya melihat. Mereka dapat menyentuh layar, menggeser objek, menjawab pertanyaan, berdiskusi, dan membangun pemahaman bersama.

Tetapi kecanggihan alat tidak otomatis melahirkan pembelajaran yang baik. Kekuatan terbesar digitalisasi bukan terletak pada perangkat, melainkan pada pedagogi.

Teknologi memberi peluang, tetapi guru yang mengubah peluang itu menjadi pengalaman belajar.

Di tangan guru yang siap, papan digital dapat membuat konsep abstrak menjadi konkret.

Di tangan guru yang reflektif, konten digital dapat menjadi pintu masuk untuk bertanya dan berpikir kritis.

Di tangan guru yang peka, teknologi dapat membantu anak yang tertinggal menemukan kembali keberanian untuk belajar.

Gagasan Presiden Prabowo tentang guru-guru terbaik yang dapat mengajar secara digital dan disimak oleh sekolah lain membuka peluang penting bagi pemerataan mutu.

Seorang guru yang sangat baik dalam menjelaskan pecahan, literasi membaca, perubahan iklim, eksperimen sains, atau keterampilan vokasi tidak harus hanya menjangkau satu ruang kelas. Dengan teknologi, keahlian itu dapat dibagikan lebih luas.

Namun, model ini sebaiknya tidak dibayangkan sebagai murid duduk pasif menonton guru dari jauh.

Yang lebih kuat adalah co-teaching digital. Guru master dari studio menjelaskan konsep inti dengan jernih.

Guru lokal tetap menjadi aktor utama: menyiapkan konteks, memandu diskusi, membantu murid yang tertinggal, menghubungkan materi dengan kehidupan sekitar, memberi asesmen, dan menindaklanjuti pembelajaran.

Dengan cara itu, guru lokal tidak digantikan. Justru diperkuat.

Baca juga: Pesta Babi Tanpa Babi

Karena itu, konten digital perlu ditemani modul guru. Modul itu menjelaskan apa yang dilakukan sebelum tayangan dimulai, kapan video dihentikan untuk diskusi, pertanyaan apa yang diajukan, aktivitas apa yang dilakukan murid, dan bagaimana guru mengecek pemahaman anak.

Dengan demikian, kelas digital tidak menjadi tontonan. Ia menjadi pengalaman belajar.

Arah ini sejalan dengan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful.

Mindful berarti murid belajar dengan fokus dan reflektif.

Meaningful berarti pelajaran terhubung dengan kehidupan nyata anak.

Joyful berarti belajar berlangsung aman, aktif, dan menggembirakan.

Teknologi dapat membantu ketiganya, tetapi hanya bila guru diberi ruang, waktu, pelatihan, dan dukungan untuk merancang pembelajaran.

Pelatihan guru karenanya perlu terus bergerak dari penguasaan teknis menuju penguatan pedagogis.

Guru memang perlu memahami perangkat dan platform. Namun, yang lebih menentukan adalah kemampuan merancang pembelajaran: menggunakan papan digital untuk asesmen formatif, menyesuaikan materi dengan kemampuan murid, memasukkan konteks lokal, menghindari anak pasif menatap layar, dan memastikan anak berkebutuhan khusus tetap terlayani.

Digitalisasi juga perlu dibaca melalui data. Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah perangkat.

Yang lebih penting adalah seberapa sering perangkat digunakan, untuk kegiatan belajar seperti apa, apakah guru semakin percaya diri, apakah murid lebih aktif, dan apakah sekolah dengan keterbatasan akses benar-benar terbantu.

Data semacam ini bukan untuk mencari kesalahan sekolah, melainkan untuk memperbaiki kebijakan.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan pelajaran yang sama.

Transformasi digital berhasil ketika teknologi tidak berjalan sendiri. Infrastruktur, konten, guru, kepemimpinan sekolah, dukungan daerah, dan evaluasi harus bergerak bersama.

Teknologi membuka jalan, tetapi manusia dan ekosistem menentukan arah.

Papan digital, Rumah Pendidikan, sumber belajar, buku digital, latihan soal, dan data pembelajaran dapat menjadi lompatan penting bagi pendidikan Indonesia.

Namun, nilai terbesarnya bukan pada layar yang menyala, melainkan pada pembelajaran yang tumbuh di sekitarnya.

Digitalisasi pendidikan akan benar-benar bermakna ketika teknologi membantu guru menjadi lebih berdaya, sekolah menjadi lebih siap, dan anak-anak Indonesia belajar dengan lebih sadar, bermakna, dan gembira.

Tag:  #menyalakan #pembelajaran #digital

KOMENTAR