Memahami Format Baru Piala Dunia 2026: Lebih Besar, Lebih Panjang, dan Bisa Penuh Kejutan
Bruno Fernandes menunjukkan peran sentralnya dalam persiapan timnas Portugal menuju Piala Dunia 2026 setelah menginspirasi kemenangan 2-1 atas Chile pada laga uji coba di Estadio Nacional, Jumat (6/6/2026) dini hari WIB. Terpisah, ada format baru Piala Dunia 2026 setelah kini akan diikuti 48 negara.(AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)
11:58
9 Juni 2026

Memahami Format Baru Piala Dunia 2026: Lebih Besar, Lebih Panjang, dan Bisa Penuh Kejutan

Piala Dunia telah beberapa kali mengalami perubahan format sepanjang sejarahnya.

Turnamen edisi 1934 dan 1938 diketahui menggunakan sistem gugur penuh sejak awal. Pada 1950, juara ditentukan melalui grup final tanpa partai semifinal maupun final.

Edisi 1954 memakai format grup yang unik karena setiap tim hanya memainkan dua pertandingan.

Sementara pada 1974, 1978, dan 1982, FIFA sempat menerapkan fase grup kedua sebelum memasuki penentuan juara.

Namun, perubahan terbesar mungkin akan terjadi pada Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Jumlah peserta bertambah dari 32 menjadi 48 negara pada Piala Dunia 2026 yang akan digelar mulai 12 Juni tersebut. Konsekuensinya, jumlah pertandingan melonjak dari 64 menjadi 104 laga.

Turnamen juga akan menggunakan 12 grup, bukan lagi delapan grup seperti yang dikenal selama dua dekade terakhir. Selain itu, untuk pertama kalinya akan ada babak 32 besar.

Perubahan tersebut diperkirakan akan memengaruhi hampir seluruh aspek turnamen, mulai dari strategi tim, peluang negara kecil, hingga persaingan individu.

Tim-tim kecil diperkirakan akan bermain lebih bertahan

Ketika Piala Dunia Putri 2023 diperluas menjadi 32 tim, banyak pihak memperkirakan akan muncul banyak skor telak seperti kemenangan Amerika Serikat 13-0 atas Thailand pada 2019.

Yang terjadi justru sebaliknya. Tim-tim debutan memang kesulitan bersaing, tetapi mereka mampu tampil lebih disiplin secara defensif. Vietnam misalnya hanya kalah 0-3 dari Amerika Serikat pada laga pembuka.

Fenomena serupa kemungkinan akan terlihat pada Piala Dunia 2026.

Sebagaimana disampaikan The New York Times, Jumat (5/6/2026), negara-negara seperti Irak, Yordania, Haiti, atau Tanjung Verde mungkin kesulitan menghadapi tim elite dunia.

Tetapi mereka kemungkinan akan memilih bermain sangat defensif saat melawan unggulan grup, lalu berusaha meraih kemenangan ketika menghadapi lawan yang kualitasnya lebih setara.

Tanjung Verde misalnya, bisa saja hanya fokus bertahan saat menghadapi Spanyol dan Uruguay, lalu mengincar kemenangan saat bertemu Arab Saudi.

Bahkan selisih gol berpotensi menjadi faktor krusial karena delapan tim peringkat ketiga terbaik akan lolos ke fase gugur.

Dalam kondisi tertentu, kekalahan tipis bisa dianggap hasil yang cukup baik bagi tim-tim kecil.

Persaingan sepatu emas berpotensi lebih terbuka

Biasanya peraih Sepatu Emas berasal dari tim yang melaju hingga semifinal atau final karena memainkan pertandingan lebih banyak. Nah, format baru berpotensi mengubah situasi tersebut.

Pada format lama, tim yang mencapai perempat final memainkan lima pertandingan. Kini jumlahnya menjadi enam laga.

Tambahan satu pertandingan tersebut pada dasarnya merupakan laga melawan lawan yang relatif lebih lemah pada fase awal gugur.

Akibatnya, pemain dari tim yang tidak melaju terlalu jauh sekalipun tetap memiliki peluang besar menjadi pencetak gol terbanyak jika mampu memanfaatkan pertandingan melawan lawan yang lebih lemah.

Situasi seperti yang pernah terjadi pada Oleg Salenko di Piala Dunia 1994 bisa kembali terulang.

Ketika itu, penyerang Rusia tersebut menjadi top skor meski negaranya gagal lolos dari fase grup.

Fase grup bisa jadi sangat panjang

Salah satu konsekuensi terbesar dari format baru adalah panjangnya fase grup.

Total terdapat 72 pertandingan pada fase grup. Jumlah itu bahkan lebih banyak dibanding keseluruhan pertandingan pada sebagian besar edisi Piala Dunia sebelumnya.

Yang menarik, seluruh pertandingan tersebut hanya digunakan untuk menyaring peserta dari 48 menjadi 32 tim.

Dengan delapan dari 12 tim peringkat ketiga juga berhak lolos, setiap pertandingan grup mungkin tidak lagi terasa sepenting sebelumnya.

Bagi penonton, mengikuti seluruh pertandingan akan menjadi tantangan tersendiri.

Banyak laga yang berpotensi berlangsung tanpa sorotan besar karena jadwal yang padat dan perbedaan zona waktu.

Dalam artikel "The World Cup has expanded from 32 to 48 teams. This is what that will mean", The New York Times pun menyinggung bahwa Piala Dunia 2026 mungkin akan menjadi "Piala Dunia cuplikan pertandingan" bagi sebagian besar penggemar sepak bola, bukan lagi turnamen yang bisa diikuti secara penuh dari awal hingga akhir.

Meski demikian, FIFA kemungkinan akan menunjuk keberhasilan satu atau dua tim kecil lolos ke fase gugur sebagai bukti bahwa ekspansi peserta berhasil membuka peluang lebih besar bagi negara-negara berkembang.

Babak 32 besar berpotensi jadi panggung kejutan

Jika fase grup diperkirakan berjalan lebih lambat, babak 32 besar justru bisa menjadi fase paling menarik.

Pada format lama, penyaringan dari 32 menjadi 16 tim dilakukan melalui 48 pertandingan grup. Kini proses tersebut akan terjadi melalui 16 pertandingan sistem gugur.

Artinya, satu kesalahan bisa langsung mengakhiri perjalanan tim unggulan.

Contohnya terlihat pada Piala Dunia 2022 ketika Arab Saudi secara mengejutkan mengalahkan Argentina 2-1 pada laga pembuka grup.

Saat itu Argentina masih memiliki kesempatan bangkit karena masih ada dua pertandingan tersisa.

Dalam format baru, kejutan serupa yang terjadi di fase gugur akan langsung mengeliminasi tim favorit.

Situasi tersebut dapat menguntungkan negara-negara kelas menengah yang selama ini kesulitan bersaing dalam kompetisi panjang, tetapi mampu tampil efektif dalam satu pertandingan penentuan.

Afrika yang diuntungkan

Konfederasi yang tampaknya paling diuntungkan dari ekspansi peserta adalah Afrika.

Jika sebelumnya Afrika hanya memiliki lima wakil, kini jumlahnya meningkat menjadi 10 tim.

Asia memperoleh sembilan wakil, sedangkan Amerika Utara mendapatkan enam tiket termasuk tiga negara tuan rumah.

Afrika selama ini dikenal memiliki kedalaman talenta yang sangat besar. Namun ketatnya persaingan di babak kualifikasi sering membuat sejumlah negara kuat gagal tampil di putaran final.

Bahkan untuk edisi 2026, negara besar seperti Nigeria dan Kamerun tidak berhasil lolos.

Meski belum tentu memiliki tim sekuat Senegal pada 2002, Ghana pada 2010, atau Maroko pada 2022, kehadiran 10 wakil memberi peluang lebih besar bagi Afrika untuk menciptakan kejutan.

Sebagai perbandingan, saat Piala Dunia 1994 digelar di Amerika Utara, hanya tiga dari 24 peserta berasal dari Afrika. Kini jumlahnya mencapai 10 dari 48 tim.

Rotasi pemain akan semakin penting

Format baru juga membuat rotasi pemain menjadi faktor yang jauh lebih penting.

Tim-tim unggulan kemungkinan tidak akan selalu menurunkan skuad terbaik sejak pertandingan pertama.

Lawan yang lebih lemah di fase grup memberi kesempatan bagi pelatih untuk mengistirahatkan pemain kunci.

Selain itu, turnamen yang lebih panjang membuat manajemen kebugaran menjadi aspek vital.

Para pelatih juga memiliki ruang lebih besar untuk bereksperimen dan menemukan komposisi terbaik selama turnamen berlangsung.

Argentina pada Piala Dunia 2022 menjadi contoh menarik. Tim juara dunia tersebut menggunakan 24 pemain berbeda selama perjalanan menuju gelar juara.

Pendekatan serupa diperkirakan akan semakin sering digunakan pada Piala Dunia 2026.

Pada akhirnya, format baru ini memang menghadirkan sejumlah pertanyaan mengenai kualitas kompetisi. Tetapi satu hal yang pasti, Piala Dunia 2026 akan berbeda dari semua edisi sebelumnya.

Lebih banyak tim, lebih banyak pertandingan, lebih banyak peluang kejutan, dan kemungkinan lebih banyak cerita yang akan dikenang dalam sejarah sepak bola dunia.

Tag:  #memahami #format #baru #piala #dunia #2026 #lebih #besar #lebih #panjang #bisa #penuh #kejutan

KOMENTAR