182 Serangan Siber per Detik Menghantam Indonesia, ITSEC Asia Soroti Ancaman Digital
Ilustrasi Hacker melakukan serangan digital.(Unsplash/Hacker)
15:48
9 Juni 2026

182 Serangan Siber per Detik Menghantam Indonesia, ITSEC Asia Soroti Ancaman Digital

Keamanan siber tidak lagi dipandang sebagai biaya operasional semata, melainkan fondasi penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis, layanan publik, dan ekonomi digital Indonesia.

Situasi tersebut menjadi sorotan PT ITSEC Asia Tbk, yang melihat meningkatnya serangan digital di berbagai sektor menunjukkan bahwa ketahanan siber kini menjadi kebutuhan strategis yang tidak bisa ditunda.

Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengatakan bahwa tekanan ekonomi global tidak menghentikan aktivitas para pelaku kejahatan siber. Sebaliknya, kondisi tersebut justru dimanfaatkan untuk mencari celah baru.

“Tekanan ekonomi global tidak menghentikan laju kejahatan siber, justru sebaliknya. Ketika anggaran pertahanan dibekukan dan kewaspadaan menurun, pelaku ancaman melihat peluang,” kata Patrick dalam keterangan resminya, Selasa (9/6/2026).

Ancaman Siber Meningkat di Tengah Ketidakpastian Global

ITSEC Asia menilai gejolak ekonomi internasional, termasuk perang dagang dan ketegangan geopolitik, berpotensi memperbesar risiko serangan siber yang melibatkan aktor negara maupun kelompok kriminal terorganisasi.

Meski pertumbuhan anggaran keamanan siber global melambat, kebutuhan perlindungan digital tetap meningkat.

Gartner memproyeksikan belanja keamanan informasi dunia mencapai 213 miliar dolar AS pada 2025, menunjukkan bahwa organisasi tetap menempatkan keamanan digital sebagai prioritas utama.

Di saat yang sama, banyak perusahaan mulai mengalihkan kebutuhan keamanan mereka kepada penyedia lokal yang dianggap lebih memahami regulasi, kedaulatan data, serta kebutuhan pasar domestik.

Fenomena tersebut membuka peluang besar bagi perusahaan keamanan siber lokal, termasuk ITSEC Asia, yang dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung perlindungan infrastruktur digital nasional.

Indonesia Hadapi 5,16 Miliar Anomali Trafik Siber

Ancaman siber di Indonesia kini berada pada level yang mengkhawatirkan.

Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik sepanjang Januari hingga November 2025.

Jumlah tersebut setara dengan hampir 182 percobaan serangan siber setiap detik, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan aktivitas ancaman digital tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Sektor keuangan, energi, telekomunikasi, hingga pemerintahan menjadi sasaran utama serangan yang terus berkembang dalam kompleksitas dan skala.

Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menegaskan bahwa ancaman siber saat ini telah berkembang menjadi isu strategis yang berdampak langsung terhadap operasional organisasi.

Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas,l. [ITSEC]Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas,l. [ITSEC]

“Ancaman siber saat ini bukan lagi sekadar risiko teknologi, tetapi telah menjadi tantangan strategis yang dapat mempengaruhi keberlangsungan operasional berbagai sektor,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa percepatan transformasi digital dan adopsi kecerdasan buatan (AI) harus diimbangi dengan investasi berkelanjutan pada teknologi, proses, dan sumber daya manusia untuk memperkuat ketahanan siber nasional.

Malware dan AI Jadi Senjata Baru Penjahat Siber

Menurut tim Threat Intelligence ITSEC Asia, salah satu ancaman yang berkembang paling cepat saat ini adalah stealer malware, yaitu malware yang dirancang untuk mencuri kredensial digital seperti kata sandi, cookie, token sesi, hingga akses ke layanan cloud.

Data yang dicuri tersebut dapat digunakan untuk mengambil alih akun, melakukan penipuan digital, menyusup ke sistem perusahaan, hingga menjadi pintu masuk serangan ransomware berskala besar.

BSSN juga mencatat bahwa sekitar 93,78 persen anomali trafik nasional pada 2025 berkaitan dengan aktivitas malware.

Di sisi lain, perkembangan teknologi AI mulai dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan efektivitas serangan phishing dan rekayasa sosial.

Dengan bantuan AI, penjahat siber dapat menciptakan pesan yang lebih meyakinkan, personal, dan sulit dideteksi oleh korban.

Regulasi Baru Dorong Kebutuhan Keamanan Siber

Peningkatan ancaman digital juga beriringan dengan penguatan regulasi pemerintah.

Ilustrasi Data PribadiIlustrasi Data Pribadi

Implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) serta pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) diperkirakan akan mendorong organisasi untuk meningkatkan investasi keamanan digital.

Kondisi tersebut membuka peluang pertumbuhan bagi industri keamanan siber nasional, terutama bagi perusahaan yang memiliki kapabilitas teknologi, pengalaman, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar Indonesia.

ITSEC Asia menyebut telah mengembangkan berbagai solusi keamanan, mulai dari intelijen ancaman siber, layanan operasi keamanan berbasis AI, hingga pengembangan talenta digital melalui ITSEC Cyber and AI Academy.

Menurut Patrick, transformasi digital yang semakin cepat membutuhkan fondasi keamanan yang sama kuatnya agar pertumbuhan ekonomi digital Indonesia tidak rentan terhadap ancaman siber.

“Indonesia sedang berada pada momentum penting yang akan menentukan arah transformasi digital nasional. Kecepatan transformasi yang didorong oleh pemerintah dan sektor swasta membutuhkan pondasi keamanan yang setara kuatnya,” tegas Patrick.

Keamanan Siber Jadi Penentu Masa Depan Ekonomi Digital

Meningkatnya frekuensi serangan, kompleksitas ancaman berbasis AI, serta tuntutan regulasi yang semakin ketat menunjukkan bahwa keamanan siber telah berubah menjadi infrastruktur strategis bagi Indonesia.

Bagi dunia usaha, pemerintah, hingga investor, kemampuan menjaga keamanan data dan sistem digital kini menjadi faktor krusial untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Editor: Dythia Novianty

Tag:  #serangan #siber #detik #menghantam #indonesia #itsec #asia #soroti #ancaman #digital

KOMENTAR