AI Bantu Deteksi Satwa Selundupan dalam Bagasi Bandara
AI bantu mendeteksi sirip hiu, kuda laut kering, dan teripang selundupan di bagasi bandara dengan akurasi 92 persen.(Dok. Shutterstock/Rob Thorley)
14:42
9 Juni 2026

AI Bantu Deteksi Satwa Selundupan dalam Bagasi Bandara

Para peneliti mengembangkan sistem AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) guna membantu mendeteksi satwa laut yang diselundupkan di dalam bagasi penumpang pesawat.

Teknologi tersebut menggunakan pemindai CT sinar-X tiga dimensi (3D), dengan tingkat akurasi disebut mencapai 92 persen, dilansir dari Xinhua via Antara, Selasa (9/6/2026).

Sistem AI ini dikembangkan oleh tim peneliti yang dipimpin ilmuwan dari Universitas Macquarie, Australia.

"Kami hanya dapat menyimulasikan skenario penyelundupan di dunia nyata berdasarkan kasus-kasus yang telah terdeteksi sebelumnya. AI bukanlah solusi ajaib untuk deteksi, dan juga bukan pengganti bagi metode deteksi manusia dan anjing pelacak," kata penulis utama penelitian dari Universitas Macquarie, Vanessa Pirotta.

AI bantu deteksi satwa selundupan di bandara

Bantu petugas lihat isi bagasi dengan lebih rinci

Berbeda dengan mesin sinar-X biasa yang menghasilkan gambar dua dimensi, pemindai CT 3D membuat petugas dapat melihat isi bagasi secara lebih rinci.

Teknologi tersebut dirancang untuk membantu petugas mengidentifikasi produk satwa liar laut ilegal yang disembunyikan di dalam koper, dari sirip hiu, kuda laut kering, hingga teripang.

Inovasi ini hadir di tengah maraknya perdagangan ilegal satwa laut yang menjadi ancaman bagi ekosistem laut dunia.

Satwa yang diselundupkan kerap sulit terdeteksi karena disamarkan di dalam bagasi dan paket pengiriman.

AI bantu mendeteksi sirip hiu, kuda laut kering, dan teripang selundupan di bagasi bandara dengan akurasi 92 persen.Dok. Shutterstock/Frame Stock Footage AI bantu mendeteksi sirip hiu, kuda laut kering, dan teripang selundupan di bagasi bandara dengan akurasi 92 persen.

Dalam penelitian yang dipublikasikan jurnal Frontiers in Ocean Sustainability, teknologi ini memanfaatkan pemindai CT sinar-X 3D yang telah digunakan di sejumlah bandara dan mengombinasikannya dengan model jaringan saraf atau neural network.

Melalui kombinasi tersebut, sistem dapat mengenali pola dan bentuk barang yang dicurigai sebagai produk satwa laut ilegal, meskipun disembunyikan di dalam benda-benda lain.

Perdagangan ilegal satwa liar laut selama ini menjadi salah satu tantangan dalam pengawasan perbatasan.

Berbeda dengan perdagangan gading atau cula badak yang lebih dikenal publik, penyelundupan spesies laut sering kali berlangsung secara tersembunyi melalui koper penumpang dan paket kiriman biasa.

Karena bentuknya yang beragam dan dapat disamarkan dengan berbagai cara, proses identifikasi satwa laut ilegal sering membutuhkan pemeriksaan yang lebih teliti.

Gunakan ratusan simulasi penyelundupan

Untuk meningkatkan kemampuan sistem, para peneliti melakukan hampir 300 kali pemindaian menggunakan barang bukti sitaan dari kasus perdagangan satwa laut ilegal.

Berbagai skenario penyelundupan yang umum digunakan pelaku turut disimulasikan dalam proses pelatihan algoritma.

Beberapa di antaranya adalah membungkus barang menggunakan aluminium foil, menyelipkannya di antara pakaian, dan menyembunyikannya di dalam mainan.

Tujuannya agar AI dapat mengenali pola penyelundupan yang menyerupai kondisi nyata di lapangan.

Dari hasil pengujian tersebut, sistem mampu mengidentifikasi barang selundupan dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi.

Untuk sirip hiu, tingkat deteksi mencapai 95 persen. Sementara itu, akurasi untuk kuda laut mencapai 96 persen dan teripang sekitar 86 persen.

Bantu petugas, tapi tidak gantikan manusia

AI bantu mendeteksi sirip hiu, kuda laut kering, dan teripang selundupan di bagasi bandara dengan akurasi 92 persen.Magnific.com AI bantu mendeteksi sirip hiu, kuda laut kering, dan teripang selundupan di bagasi bandara dengan akurasi 92 persen.

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa teknologi AI tersebut dikembangkan sebagai alat pendukung yang dapat membantu meningkatkan efektivitas pemeriksaan.

Dengan adanya AI, petugas dapat memperoleh peringatan awal ketika sistem mendeteksi obyek yang memiliki karakteristik serupa dengan produk satwa laut ilegal.

Cara ini berpotensi mempercepat proses pemeriksaan tanpa harus memeriksa seluruh bagasi secara manual.

Namun, penelitian juga mencatat sejumlah keterbatasan yang masih perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kemungkinan munculnya false positive atau kesalahan identifikasi ketika sistem menandai barang yang sebenarnya bukan produk ilegal.

Selain itu, tidak semua bandara di dunia telah memiliki akses terhadap pemindai CT 3D yang menjadi komponen utama teknologi tersebut.

Menurut para peneliti, teknologi AI dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat upaya penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal satwa laut liar.

Perdagangan satwa laut ilegal diperkirakan menghasilkan miliaran dollar setiap tahun dan berkontribusi terhadap penurunan populasi berbagai spesies yang rentan dieksploitasi.

Dengan kemampuan mendeteksi barang selundupan secara lebih cepat dan akurat, sistem ini diharapkan membantu otoritas perbatasan mengurangi praktik perdagangan ilegal yang selama ini sulit terungkap.

Tag:  #bantu #deteksi #satwa #selundupan #dalam #bagasi #bandara

KOMENTAR