Harga Emas Terus Menanjak, Geopolitik Jadi Penentu Arah
– Harga emas dunia terus menunjukkan tren menguat dan diperkirakan tetap bertahan hingga akhir tahun 2026. Dinamika geopolitik global menjadi salah satu faktor utama yang menopang pergerakan harga logam mulia tersebut.
“Pergerakan harga emas selalu terkait dengan beberapa faktor yakni geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, faktor supply and demand, serta kebijakan suku bunga. Beberapa hal ini juga akan mempengaruhi pergerakan harga emas di sepanjang 2026,” ujar Tenaga Profesional Lemhanas, Edi Permadi, melalui keterangannya, Jumat (30/1/2026).
Sejumlah lembaga riset komoditas memperkirakan harga emas dunia berpotensi menembus lebih dari 5.500 dollar AS per ounce, atau setara sekitar Rp 90.750.000 dengan asumsi kurs Rp 16.500 per dollar AS, pada 29 Januari 2026.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Dunia Terbang ke Level Baru
Geopolitik dan Kebijakan Bank Sentral
Edi menjelaskan, faktor geopolitik kerap menjadi pemicu utama lonjakan harga emas. Dalam sejarah, kenaikan harga emas pernah terjadi pada 1973 saat krisis minyak dunia, serta pada 1979 ketika Revolusi Iran dan konflik Iran–Irak pecah di Timur Tengah.
Memasuki 2026, ketegangan geopolitik global dinilai masih menjadi faktor dominan. Meski rencana ekspansi Amerika Serikat ke Greenland mulai mereda, langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersebut sempat memicu ketegangan hubungan dengan sejumlah negara Uni Eropa.
“Di sisi lain konflik Rusia–Ukraina, konflik Timur Tengah, rivalitas Amerika Serikat dan Cina, serta munculnya geopolitik baru akan memperkuat peran emas sebagai lindung nilai sistemik global,” kata Edi.
Baca juga: Harga Emas Dunia Sentuh Rekor Lagi, Pasar Tunggu Arah Kebijakan The Fed
Selain geopolitik, ketidakpastian ekonomi global turut mendorong penguatan harga emas. Dana Moneter Internasional (IMF) menilai pertumbuhan ekonomi global masih rapuh dan rentan terhadap kejutan eksternal, sehingga aset berbasis kepercayaan negara tetap berisiko mengalami volatilitas.
Kebijakan suku bunga bank sentral juga menjadi katalis. Menurut Edi, peluang pelonggaran kebijakan moneter dan terbatasnya ruang untuk menaikkan suku bunga tinggi membuat emas tetap menarik.
“Ketika bank sentral tidak menaikkan suku bunga, maka pilihan pada emas tidak terlalu merugikan dibandingkan aset lain,” ujarnya.
Baca juga: Ketidakpastian Global Dongkrak Harga Emas Dunia Hari Ini
Permintaan emas global pun meningkat, seiring langkah agresif sejumlah bank sentral menambah cadangan emas. Dalam kondisi ekonomi global yang belum stabil, emas dinilai tidak hanya berfungsi sebagai lindung nilai inflasi, tetapi juga sebagai aset pengaman risiko sistem keuangan.
“Emas kini berperan sebagai aset pengaman terhadap risiko besar pada sistem keuangan global, dengan harga yang diperkirakan tetap kuat hingga 2026,” tutur Edi.
Berdasarkan data per Desember 2023, China tercatat mengoleksi 378,2 ton emas, sementara Rusia memiliki cadangan emas sebesar 321,8 ton.
Baca juga: Harga Emas Dunia Tembus 5.000 Dollar AS, Investor Cari Ketahanan Portofolio
Tantangan dan Peluang dari Dalam Negeri
Di dalam negeri, Indonesia dinilai berada pada posisi yang relatif menguntungkan. Indonesia tercatat sebagai negara dengan cadangan emas terbesar keempat di dunia, sekaligus produsen emas terbesar keempat secara global.
Kenaikan harga emas global berpotensi memberi manfaat besar bagi perekonomian nasional, terutama jika tata kelola pertambangan diperbaiki. Salah satu tantangan utama adalah masih maraknya praktik pertambangan ilegal.
“Harus diakui salah satu komoditas tambang yang marak dengan tambang ilegal adalah emas. Dampaknya sangat besar, mulai dari kerusakan lingkungan sampai hilangnya potensi pendapatan negara,” ujar Edi.
Ia menilai, penegakan hukum menjadi kunci, terlebih Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral kini telah memiliki Direktorat Jenderal Penegakan Hukum.
“Ini bisa menjadi ujung tombak penegakan hukum di pertambangan. Jika pertambangan ilegal bisa ditertibkan, potensi peningkatan pendapatan negara dari komoditas emas akan semakin besar,” katanya.
Edi juga menyoroti kebijakan Bea Keluar untuk komoditas emas yang diterapkan pemerintah pada awal tahun ini. Menurut dia, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan cadangan emas dalam negeri.
“Ini langkah positif untuk memastikan pasokan emas dalam negeri,” ucap Edi.
Selain itu, ia berharap Otoritas Jasa Keuangan segera merilis instrumen exchange traded fund (ETF) emas sebagai alternatif investasi. Dengan begitu, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan berinvestasi, mulai dari logam mulia fisik, ETF emas, hingga saham perusahaan tambang emas.
Di sisi lain, kepastian hukum bagi investasi jangka panjang di sektor sumber daya alam juga dinilai krusial, mengingat kebutuhan modal besar dan penerapan teknologi ramah lingkungan. Iklim investasi yang kondusif diharapkan turut mendukung pemulihan pasar keuangan, termasuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), agar kembali positif.
Tag: #harga #emas #terus #menanjak #geopolitik #jadi #penentu #arah