Investor Berharap Bursa Bisa Penuhi Permintaan MSCI
– Pasar modal Indonesia diguncang rangkaian pengumuman penting pada akhir pekan lalu, setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami beberapa kali trading halt.
Tekanan datang dari kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia mulai akhir Januari 2026.
Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran pemangkasan bobot saham Indonesia di MSCI Emerging Markets Index. Risiko penurunan status dari emerging market menjadi frontier market ikut mencuat.
Baca juga: OJK dan BEI Temui MSCI Hari Ini, Berikut Isu yang Akan Dibahas
Dampaknya terasa langsung di pasar. Investor asing melakukan aksi jual besar-besaran, terutama pada saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot tinggi di indeks global. Tekanan jual ini memperdalam volatilitas IHSG.
Situasi pasar yang bergejolak diikuti gelombang pengunduran diri pejabat di Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Sebelum penutupan perdagangan, Direktur Utama BEI Iman Rachman lebih dulu menyampaikan pengunduran diri.
Seusai market close, sejumlah pejabat OJK ikut mundur. Mereka terdiri dari Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara, serta Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Ogi Prastomiyono.
Pada hari yang sama, IHSG justru menutup perdagangan menguat 1,18 persen atau naik 97,4 poin ke level 8.329,61.
Analis pasar modal Hans Kwee menilai, langkah mundurnya para pimpinan bukan hal yang diharapkan investor.
“Sebenarnya investor tidak beharap direksi BEI dan Ketua OJK mundur. Harapannya kita bisa memenuhi permintaan MSCI,” kata Hans kepada Kompas.com, Minggu (1/2/2026).
Baca juga: Purbaya dan Rosan Optimistis IHSG Bergerak Menguat Hari Ini
Hans menilai, pengumuman interim freeze dari MSCI memicu lonjakan volatilitas. Ia melihat upaya komunikasi dan diskusi publik menjadi langkah penting untuk meredam gejolak, menjaga stabilitas, dan memulihkan kepercayaan pasar melalui perbaikan transparansi dan tata kelola.
“Tekan turun mulai pulih di akhir pekan, tetapi aksi jual investor asing masih terlihat,” ujar Hans.
OJK kemudian menetapkan pengganti sementara melalui Rapat Dewan Komisioner pada 31 Januari 2026. Friderica Widyasari Dewi ditunjuk sebagai pengganti Ketua OJK. Hasan Fawzi mengisi posisi Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal.
Di BEI, posisi Direktur Utama sementara dijabat Jeffrey Hendrik. Pengumuman tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Sabtu malam, 1 Februari 2026.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan lanjutan, terutama terkait pemulihan pasar dan pemenuhan catatan dari MSCI. Ia menilai dampak sentimen terhadap IHSG relatif terbatas, meski tekanan jual asing masih berpotensi berlanjut.
“Diharapkan juga, penerus selanjutnya dapat, paling tidak, memulihkan kondisi pasar dan juga dapat memenuhi permintaan dari MSCI,” kata Didit, Jumat lalu.
“Kalau sentimen ke IHSG sendiri, kami mencermati nampaknya relatif minim ya, karena sudah dua hari kemarin IHSG terkoreksi cukup dalam dan mengalami trading halt, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya koreksi yang terbatas saja. Kalau bicara outflow asing, kami memperkirakan masih timbul namun diperkirakan tidak akan sebesar sebelumnya,” lanjutnya.
Hans menilai penetapan pimpinan sementara memberi sentimen positif di awal pekan.
“Saya pikir pasar (di awal pekan) bisa lebih stabil,” ujarnya.
Plt Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan kesiapan bursa untuk merespons permintaan MSCI secara cepat. Fokus diarahkan pada penguatan transparansi dan peningkatan kepercayaan investor institusi asing.
“Apa yang akan kami lakukan untuk melakukan pendalaman dari sisi demand khususnya, agar lebih banyak lagi investor asing masuk dengan penambahan bobot Indonesia di dalam konstituen. Antara lain adalah tadi juga sudah disampaikan, kami SRO akan meningkatkan disclosure,” kata Jeffrey, Minggu (1/2/2026).
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai, peningkatan keterbukaan berpotensi memperbaiki persepsi investor institusi dan asing. Struktur kepemilikan saham menjadi lebih jelas, sementara risiko konsentrasi kepemilikan dapat dinilai lebih akurat.
“Langkah ini juga relevan untuk menjawab perhatian MSCI terkait aspek investabilitas dan tata kelola, sehingga berpeluang mendukung upaya Indonesia keluar dari tekanan penilaian indeks global,” ujarnya, Senin (2/2/2026).
Meski begitu, pelaku pasar masih menunggu konsistensi implementasi kebijakan. Kecepatan perubahan regulasi belum sepenuhnya diikuti kepastian dampak di lapangan.
“Investor cenderung wait and see, agar mendapatkan gambaran yang lebih utuh terkait dengan apa yang akan dilakukan dan seberapa besar dampak perubahan yang akan dilakukan nanti terhadap pasar saham di Indonesia,” jelas Maximilianus.
Ia juga menilai secara teknikal IHSG berpeluang menguat dengan area support di 8.170 dan resistance di 8.560. Hans memproyeksikan pemulihan bertahap dengan support 8.167 hingga 8.000 dan resistance 8.408 hingga 8.596.
OJK bersama Self-Regulatory Organization dijadwalkan bertemu dengan MSCI pada Senin sore. Pertemuan ini membahas sejumlah usulan kebijakan yang disusun sesuai masukan penyedia indeks global tersebut.
Tag: #investor #berharap #bursa #bisa #penuhi #permintaan #msci