Strategi Digital Bergeser, Afiliator Jadi Andalan Baru Pemasaran Online
Direktur komersial Lazada Erika Agustine Leung berpose setelah diwawancara Kompas.com di Menara Kompas, Palmerah, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026).(KOMPAS.com/ANTONIUS ADITYA MAHENDRA)
11:44
4 Februari 2026

Strategi Digital Bergeser, Afiliator Jadi Andalan Baru Pemasaran Online

– Perkembangan e-commerce ikut menggeser pola pemasaran digital di Indonesia. Strategi berbasis diskon besar dan figur publik skala luas mulai bergeser. Peran afiliator kini dinilai lebih efektif membangun kepercayaan konsumen dan mendorong transaksi.

Commercial Director Lazada Indonesia Erika Agustin menilai perilaku belanja masyarakat Indonesia masih sangat dipengaruhi media sosial. Konsumen membutuhkan rujukan sebelum membeli. Rekomendasi personal menjadi penentu.

“Kalau dari sisi kepercayaan, itu sudah dibantu oleh platform. Tapi dari sisi marketing, tren di Indonesia itu memang sangat social media driven. Konsumen masih butuh reference point, dan mereka lebih percaya kalau ada orang yang merekomendasikan,” kata Erika dalam bincang-bincang Naratama Kompas.com yang dipandu Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin di Jakarta.

Baca juga: Kisah Sukses Anita Ratnasari Kantongi Ratusan Juta dari Lazada Affiliate dalam 4 Bulan

Erika menyebut pemasaran lewat afiliator menjawab kebutuhan tersebut. Pendekatan afiliator dinilai lebih dekat dengan komunitas tertentu.

“Di Lazada ada program Lazada Affiliate. Afiliator ini bukan influencer yang sifatnya general, tapi lebih targeted ke komunitas. Jadi lebih personal dan tepat sasaran ke segmen konsumennya,” ujar dia.

Afiliator umumnya berasal dari komunitas pengguna produk. Pengetahuan tersebut membuat ulasan terasa lebih jujur dan relevan.

“Misalnya produk elektronik, afiliatornya memang dari komunitas elektronik. Mereka review secara jujur, bukan sekadar dibayar brand. Bahkan sering kali mereka juga bisa memberikan benefit tambahan, seperti diskon,” jelas Erika.

Program afiliasi ini juga membuka sumber pendapatan baru. Erika menyebut sudah banyak contoh keberhasilan.

“Ada satu afiliator, Anita, yang baru bergabung sekitar empat bulan dan sudah bisa menghasilkan Rp100 juta. Karena setiap penjualan itu ada insentifnya dari Lazada,” kata Erika.

Baca juga: Transaksi LazMall Melejit 23 Kali Lipat Saat 11.11, Lazada Prediksi Lonjakan Lebih Besar di 12.12

Erika menilai model ini membuka akses ekonomi digital lebih luas. Siapa pun bisa bergabung tanpa syarat rumit.

“Ini benar-benar dari nol bisa. Tinggal daftar, tidak perlu punya ribuan follower. Bisa share link lewat WhatsApp, Facebook, atau channel apa pun,” jelasnya.

Lazada, lanjut Erika, menaruh investasi besar untuk memperkuat ekosistem afiliator. Fokus diarahkan pada sistem, fitur, dan insentif.

“Tahun lalu kami investasi sekitar 100 juta dolar AS untuk membangun produk, fitur, dan program insentif bagi afiliator. Jadi ini bukan cuma untuk influencer besar, tapi juga orang-orang biasa,” ujarnya.

Perubahan ini menggeser lanskap pemasaran digital. Ketergantungan pada mega influencer mulai berkurang. Kreator skala kecil dan komunitas lokal mendapat ruang lebih besar.

“Ini membuka kesempatan bagi ibu-ibu, komunitas kecil, atau siapa pun untuk ikut. Jadi bukan cuma soal traffic, tapi tumbuh bersama seller dan brand sebagai bagian dari ekosistem Lazada,” kata Erika.

Erika menilai peran afiliator akan terus menguat seiring e-commerce makin melekat dalam kehidupan sehari-hari.

“Bisa dibilang sekarang untuk semua fase hidup kita itu bergantung pada e-commerce. Mulai dari bayi lahir atau masih dalam kandungan. Itu sudah mengandalkan e-commerce. Ini berarti makin lekat hubungan kita dengan e-commerce,” pungkas Erika.

Tag:  #strategi #digital #bergeser #afiliator #jadi #andalan #baru #pemasaran #online

KOMENTAR