Harga Bitcoin Anjlok Tajam, Sempat Jebol 61.000 Dollar AS
ilustrasi harga Bitcoin. Harga Bitcoin terus anjlok. Harga bitcoin kembali terperosok dan sempat menyentuh 60.062 dollar AS. Dalam sepekan, harga kripto terbesar dunia ini sudah anjlok hampir 30 persen.(canva.com)
11:44
6 Februari 2026

Harga Bitcoin Anjlok Tajam, Sempat Jebol 61.000 Dollar AS

- Harga bitcoin (BTC) kembali tertekan pada Kamis (5/2/2026) waktu setempat atau Jumat (6/2026) pagi. Aset kripto terbesar di dunia itu sempat jatuh di bawah 61.000 dollar AS, menandai kian dalamnya aksi jual di pasar aset digital.

Dikutip dari CNBC, harga bitcoin sempat menyentuh 60.062,00 dollar AS. Pada pukul 19.37 ET, harganya tercatat turun sekitar 15 persen ke level 62.448,00 dollar AS. 

Sepanjang pekan ini saja, harga BTC sudah merosot hampir 30 persen. Pelemahan tersebut terjadi bersamaan dengan aksi jual tajam saham teknologi AS, memperlihatkan korelasi yang semakin kuat antara kripto dan aset berisiko.

Baca juga: Harga Bitcoin Anjlok 50 Persen, Masih Layak Dibeli atau Saatnya Jual?

Narasi “Emas Digital” Kian Dipertanyakan

Tekanan di pasar kripto muncul ketika investor kembali menilai ulang peran Bitcoin. Selama ini, Bitcoin kerap dipromosikan sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian makroekonomi, sekaligus alternatif mata uang fiat dan aset safe haven seperti emas.

Namun dalam praktiknya, pergerakan harga tidak mencerminkan narasi tersebut. Sejak mencapai puncak di atas 126.000 dollar AS pada awal Oktober, harga bitcoin terus melemah.

Pada perdagangan Kamis, Bitcoin lebih dulu menembus level kunci 70.000 dollar AS sebelum tekanan jual meningkat dan membawa harga mendekati level sebelum pemilu.

“Penjualan yang stabil ini dalam pandangan kami menandakan investor tradisional mulai kehilangan minat, dan pesimisme terhadap kripto secara keseluruhan meningkat,” ujar analis Deutsche Bank Marion Laboure. 

Baca juga: Harga Bitcoin Terjun Bebas ke 64.000 Dollar, Ini Penyebabnya

Menurut pengamat, sejumlah klaim besar terkait bitcoin belum terwujud. Dalam beberapa gejolak geopolitik dan makroekonomi di Venezuela, Timur Tengah, dan Eropa, bitcoin justru bergerak searah dengan saham. Adopsinya sebagai alat pembayaran barang dan jasa pun masih terbatas.

Tertinggal dari Emas, Kripto Lain Ikut Terseret

Dalam setahun terakhir, harga bitcoin turun hampir 40 persen. Sebaliknya, kontrak berjangka emas naik 61 persen pada periode yang sama.

Tekanan juga melanda kripto lain. Ether terkoreksi 33 persen pekan ini. Solana sempat menyentuh 88,42 dollar AS pada Kamis (5/2/2026), mendekati level terendah dua tahun, dan turun hampir 40 persen dalam sepekan.

Sejumlah pelaku pasar menyoroti level 70.000 dollar AS sebagai batas penting. Penembusan di bawah level tersebut dinilai berpotensi memicu pelemahan lanjutan.

Kepala riset Coinshares James Butterfill menyebut 70.000 dollar AS sebagai “level psikologis penting”. Ia menambahkan, “jika gagal bertahan, pergerakan menuju kisaran 60.000 hingga 65.000 dollar AS menjadi cukup mungkin.”

Baca juga: Bitcoin Anjlok ke Bawah 64.000 Dollar AS, Investor Kehilangan Kepercayaan

Likuidasi Membengkak, Permintaan Institusi Berbalik

Tekanan di pasar kripto juga diperberat likuidasi paksa, yakni ketika posisi trader otomatis ditutup saat harga menyentuh batas tertentu. Data Coinglass menunjukkan lebih dari 2 miliar dollar AS posisi long dan short kripto telah dilikuidasi sepanjang pekan ini.

Pada saat yang sama, saham teknologi AS turut melemah. State Street Technology Select Sector SPDR ETF (XLK) turun 1,8 persen pada Kamis dan mencatat penurunan tiga hari berturut-turut.

Di sisi lain, pasar logam mulia juga bergerak volatil. Harga perak kembali merosot dan emas berada dalam tekanan.

Bitcoin sendiri telah turun lebih dari tiga bulan berturut-turut dan kini berada lebih dari 50 persen di bawah puncak Oktober. Kripto lain seperti Ether dan XRP bahkan mencatat penurunan lebih dalam.

“Lonjakan pasar bullish dalam garis lurus yang diharapkan banyak orang belum benar-benar terwujud. Bitcoin tidak lagi diperdagangkan berdasarkan hype, ceritanya sudah kehilangan daya tarik, kini diperdagangkan murni berdasarkan likuiditas dan arus modal,” kata CEO digital assets FG Nexus, Maja Vujinovic.

Baca juga: Harga Bitcoin Ambles ke Bawah 70.000 Dollar AS, Apa Penyebabnya?

Perubahan sikap investor institusi turut menjadi sorotan. Jika sebelumnya mereka disebut menopang harga, kini justru terindikasi melakukan penjualan.

“Permintaan institusional telah berbalik secara material,” tulis CryptoQuant dalam laporan Rabu.

Menurut CryptoQuant, exchange-traded fund (ETF) di AS yang membeli 46.000 Bitcoin pada periode yang sama tahun lalu, kini menjadi penjual bersih pada 2026.

Laporan tersebut juga mencatat, “Bitcoin telah menembus di bawah rata-rata pergerakan 365 hari untuk pertama kalinya sejak Maret 2022 dan turun 23 persen dalam 83 hari sejak penembusan — lebih buruk dibanding fase awal pasar bearish 2022.”

Rata-rata pergerakan adalah indikator yang melacak harga aset dalam periode tertentu untuk meredam fluktuasi jangka pendek dan mengidentifikasi tren.

CryptoQuant menilai pelemahan terbaru ini membuka potensi penurunan lanjutan menuju kisaran 70.000 hingga 60.000 dollar AS.

Tag:  #harga #bitcoin #anjlok #tajam #sempat #jebol #61000 #dollar

KOMENTAR