Rupiah Melemah ke Rp 17.002, Tekanan Geopolitik dan The Fed Jadi Pemicu
Ilustrasi nilai tukar rupiah, kurs rupiah dan dollar AS.(KOMPAS.com/MAULANA MAHARDHIKA)
15:48
30 Maret 2026

Rupiah Melemah ke Rp 17.002, Tekanan Geopolitik dan The Fed Jadi Pemicu

Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah pada perdagangan Senin (30/3/2026). Rupiah ditutup turun 0,13 persen atau 22 poin ke level Rp 17.002 per dollar AS.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kondisi pasar global yang masih waspada. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama.

Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan ke Israel pada akhir pekan. Serangan ini dinilai berpotensi membuka front baru konflik dan mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah.

“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Senin sore.

Baca juga: BI Luncurkan Instrumen Repo Valas, Perkuat Likuiditas dan Stabilitas Rupiah

Iran juga menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat. Langkah ini muncul setelah laporan pengerahan ribuan pasukan AS ke kawasan Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran masih berjalan. Ia menilai peluang kesepakatan tetap terbuka, meski tidak menyampaikan batas waktu yang jelas. Trump juga memperingatkan potensi serangan lanjutan terhadap Teheran.

Trump sebelumnya memperpanjang tenggat potensi serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April. Iran tetap menolak pembicaraan langsung dengan AS sejak konflik memanas pada akhir Februari.

Dari sisi ekonomi, sentimen konsumen AS menunjukkan pelemahan. Survei University of Michigan mencatat indeks sentimen turun ke 53,3 pada Maret dari sebelumnya 55,5. Angka ini berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 54.

Ekspektasi inflasi 12 bulan ke depan naik dari 3,4 persen menjadi 3,8 persen. Proyeksi inflasi jangka panjang lima tahun bertahan di level 3,2 persen.

Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed. Pasar melihat peluang kenaikan suku bunga masih terbuka di tengah lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik.

Baca juga: Rupiah Dekati Rp 17.000 Per Dollar AS: Geopolitik dan Kebijakan The Fed Menekan

Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar tidak lagi memperkirakan penurunan suku bunga tahun ini. Peluang kenaikan suku bunga pada akhir 2026 bahkan mencapai sekitar 50 persen. Proyeksi ini berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai kebijakan efisiensi anggaran perlu diimbangi strategi lain. Langkah ini penting untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Ia menjelaskan tekanan fiskal bersifat struktural. Sumbernya berasal dari subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang, serta kebutuhan belanja prioritas.

Ruang efisiensi anggaran masih tersedia, tetapi terbatas. Pemerintah perlu selektif, terutama pada belanja non-prioritas. Struktur belanja negara dinilai semakin ketat, terutama pada subsidi energi, belanja pegawai, dan pembayaran bunga utang.

Efektivitas efisiensi anggaran dapat diukur dari beberapa indikator. Indikator tersebut meliputi peningkatan dampak program, perbaikan rasio ICOR atau Incremental Capital Output Ratio, serta pergeseran ke belanja produktif. Stabilitas pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen dan inflasi terkendali juga menjadi acuan.

Pola penyerapan anggaran sepanjang tahun turut menjadi faktor penting. Penyerapan yang rendah tanpa peningkatan output berisiko menekan pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah dinilai perlu mengombinasikan efisiensi dengan peningkatan penerimaan negara, reprioritas belanja berbasis hasil, serta pengelolaan pembiayaan yang kredibel.

“Untuk mengimbangi tekanan itu, ruang optimalisasi kebijakan melalui peningkatan penerimaan, reprioritas belanja berbasis hasil (outcome), serta pengelolaan pembiayaan yang kredibel, dinilai perlu diterapkan secara bersamaan dengan implementasi efisiensi anggaran. Tanpa itu, efisiensi hanya menjadi bantalan jangka pendek, sementara tekanan defisit berpotensi meningkat di paruh kedua tahun,” pungkasnya.

Tag:  #rupiah #melemah #17002 #tekanan #geopolitik #jadi #pemicu

KOMENTAR