5 Strategi Anak Buah Bahlil Jaga Pasokan Migas Saat Konflik Timur Tengah
Ilustrasi kilang minyak. Harga inyak mentah turun setelah AS-Iran sepakati gencatan senjata. (FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO)
20:52
8 April 2026

5 Strategi Anak Buah Bahlil Jaga Pasokan Migas Saat Konflik Timur Tengah

- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pasokan minyak dan gas (migas) nasional dalam kondisi aman di tengah terganggunya distribusi energi global imbas konflik Timur Tengah.

Sekretaris Ditjen Migas Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam mengatakan, pemerintah memiliki sejumlah strategi untuk menjaga ketahanan energi domestik, mulai dari pengaturan konsumsi hingga mencari sumber migas baru di luar Timur Tengah.

"Dengan seluruh langkah strategis mitigasi yang telah kami lakukan, dapat kami tegaskan bahwa pasokan BBM (bahan bakar minyak) dan LPG (liquefied petroleum gas),  nasional saat ini dalam kondisi aman," ujarnya dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Setidaknya ada 5 langkah yang telah disiapkan.

Pertama, pemerintah mengatur konsumsi BBM dan elpiji subsidi agar lebih wajar dan bijak. Kebijakan ini telah diatur dalam surat resmi yang diterbitkan Ditjen Migas bersama BPH Migas sebagai regulator sektor hilir migas.

Kedua, pemerintah mengalihkan sumber impor energi. Jika sebelumnya pasokan banyak berasal dari Timur Tengah yang kini menghadapi kendala distribusi akibat penutupan Selat Hormuz, maka impor dialihkan ke negara lain seperti Amerika, Afrika, Asia, hingga Asia Tenggara.

"Kami mengalihkan sumber impor yang tadinya berasal dari negara Timur Tengah yang terkendala dengan masalah di Selat Hormuz menjadi ke negara-negara lain," ucap Rizwi.

Baca juga: Gencatan Senjata AS-Iran, Pertamina Upayakan Kapal Keluar dari Selat Hormuz

Ketiga, pemerintah menginstruksikan seluruh perusahaan migas atau kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri dibandingkan ekspor. Produksi minyak mentah nasional akan dimanfaatkan sepenuhnya sebagai bahan baku kilang dalam negeri.

Keempat, pemerintah mengoptimalkan kinerja kilang-kilang dalam negeri, salah satunya melalui penyesuaian produksi pada Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Serta kelima, pemerintah secara aktif mencari tambahan pasokan LPG, baik dari impor maupun produksi dalam negeri. LPG yang sebelumnya dialokasikan untuk sektor industri juga mulai dialihkan untuk memenuhi kebutuhan LPG 3 kilogram (kg) atau elpiji subsidi.

Baca juga: Harga LPG 3 Kg di Ponorogo Capai Rp 32.000, Pertamina Imbau Warga Beli ke Pangkalan Resmi

Selain itu, pemerintah mendorong kilang LPG swasta untuk memprioritaskan pasokan kepada Pertamina Patra Niaga agar distribusi lebih terfokus pada kebutuhan masyarakat.

"Kami menginstruksikan kepada kilang LPG swasta agar memprioritaskan penawaran kepada Pertamina Patra Niaga, yang tadinya produksinya dijual kepada industri, tapi kami memberikan prioritas untuk diberikan produksinya penawaran pertama kepada Pertamina Patra Niaga agar dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat," ucap Rizwi.

Baca juga: Krisis LPG di India Paksa Hotel Kembali ke Tungku Kayu

Harga Minyak Berpotensi Naik, Level 125 Dollar AS Kian Terbuka

Harga minyak dunia diperkirakan masih melanjutkan tren kenaikan dalam waktu dekat, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasokan energi global. Dalam skenario tertentu, harga bahkan dinilai berpeluang menembus 125 dollar AS per barrel.

Kondisi ini mencerminkan tekanan dari sisi suplai yang belum mereda, terutama akibat konflik yang memicu kekhawatiran pasar terhadap distribusi minyak dunia. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengantisipasi lonjakan harga dalam jangka pendek.

Baca juga: Pertamina Hulu Energi Teken MoU dengan Tiga Raksasa Migas

Rentang Pergerakan Masih Terbuka

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai harga minyak mentah global masih memiliki ruang penguatan dalam waktu dekat, dengan pergerakan yang relatif fluktuatif dalam sepekan ke depan.

Ia memperkirakan, untuk jenis crude oil yang diperdagangkan secara domestik, level support berada di kisaran 92,3 dollar AS per barrel, sementara resistance diproyeksikan menyentuh 112,2 dollar AS per barrel.

Selama harga tidak turun di bawah batas support tersebut, tren kenaikan dinilai masih terjaga.

“Minyak mentah dunia yang pertama adalah crude oil yang biasa diperdagangkan secara domestik. Crude oil itu kemungkinan besar dalam satu minggu range-nya 92,300 dollar per barrel. Ingat, 92,300 dollar per barrel itu adalah support-nya,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (29/3/2026).

Ia menambahkan, “Resistensinya adalah 112,200 dollar AS per barrel. Dan kemungkinan besar harga minyak dunia masih akan bergerak naik.”

Dampak Geopolitik Jadi Penentu

Lonjakan harga minyak tidak terlepas dari dinamika geopolitik yang terus berkembang di Timur Tengah. Konflik yang berlarut-larut meningkatkan risiko gangguan pasokan, sekaligus mendorong premi risiko dalam harga minyak global.

Dalam konteks ini, proyeksi kenaikan hingga 125 dollar AS per barrel mencerminkan skenario jika tekanan pasokan semakin intens dan permintaan tetap solid.

Bagi pasar energi global, kondisi ini menjadi sinyal bahwa volatilitas harga masih akan tinggi sepanjang 2026, dengan arah pergerakan yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik serta respons negara produsen utama.

Tag:  #strategi #anak #buah #bahlil #jaga #pasokan #migas #saat #konflik #timur #tengah

KOMENTAR