Rupiah Melemah, Tekanan Ekonomi ke Masyarakat Menguat
- Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 17.300 per dollar AS pada akhir April hingga awal Mei 2026 dinilai menjadi sinyal serius bagi ketahanan ekonomi Indonesia.
Kondisi tersebut disebut tidak hanya menekan pasar keuangan domestik, tetapi juga berpotensi memperbesar tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat di tengah kenaikan biaya energi dan keterbatasan ruang fiskal pemerintah.
“Akhir April hingga awal Mei 2026 menjadi momen yang tidak bisa diabaikan. Rupiah melemah tajam hingga mendekati kisaran Rp 17.000–Rp 17.300 per dollar AS, sementara IHSG terkoreksi signifikan dalam waktu singkat,” kata Ekonom Universitas Andalas Hefrizal Handra dalam akun media sosialnya yang sudah dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (7/5/2026).
Dalam periode yang sama, investor asing juga melakukan aksi jual bersih dalam jumlah besar di pasar keuangan domestik.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan apakah Indonesia sedang menghadapi ujian ketahanan ekonomi atau menuju fase awal krisis.
Baca juga: Gubernur BI Ungkap Alasan Rupiah Melemah di Kala Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen
Tekanan Global dan Rupiah Overshooting
Menurut Hefrizal, tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata dipengaruhi faktor fundamental ekonomi domestik, tetapi juga dipicu sentimen pasar global dan meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia.
Ia menilai tekanan tersebut tidak dapat dilepaskan dari penguatan dollar AS yang berlangsung lebih lama dari perkiraan, ketidakpastian arah suku bunga global, hingga meningkatnya tensi geopolitik internasional.
Selain itu, lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus 100 dollar AS per barrel turut memperburuk tekanan terhadap Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
“Tekanan global saat ini tidak lagi bersifat sementara, tetapi cenderung persisten,” ujarnya.
“Ini yang membuat tekanan terhadap pasar keuangan domestik berlangsung lebih panjang,” lanjut Hefrizal.
Baca juga: Konflik Iran-AS Bikin Rupiah Makin Terpuruk
Meski demikian, Hefrizal menilai pelemahan rupiah saat ini sudah melampaui nilai fundamentalnya.
Berdasarkan pendekatan purchasing power parity (PPP) atau paritas daya beli dengan basis inflasi Indonesia dan Amerika Serikat sejak 2022, nilai tukar rupiah seharusnya berada di kisaran Rp 15.000 per dollar AS.
Namun, kurs aktual yang berada di sekitar Rp 17.200 per dollar AS menunjukkan rupiah berada sekitar 14–15 persen di bawah nilai wajarnya.
Dalam teori ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai overshooting, yakni ketika nilai tukar bergerak melampaui level fundamental akibat respons pasar yang berlebihan terhadap risiko jangka pendek.
“Artinya, rupiah saat ini tidak hanya melemah, tetapi juga diperdagangkan di bawah nilai wajarnya,” katanya.
“Sentimen dan arus modal lebih dominan dibanding perubahan fundamental ekonomi,” lanjut Hefrizal.
Baca juga: Rupiah Melemah, Permintaan Pembiayaan Kendaraan Berpotensi Turun
Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Rupiah Tetap Tertekan
Di tengah tekanan terhadap rupiah dan meningkatnya kehati-hatian investor global, data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 justru memunculkan sorotan baru.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen dinilai belum sepenuhnya mampu meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Hal itu terlihat dari pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 17.400 per dollar AS pada perdagangan Senin (4/5/2026).
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai terdapat sejumlah anomali dalam data pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
“Pergerakan rupiah yang negatif (melemah) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kita rapuh sehingga tidak dipercaya investor,” ujar Nailul kepada Kompas.com, Kamis (7/5/2026).
Menurut dia, apabila pertumbuhan ekonomi benar-benar solid seperti tercermin dalam data BPS, kondisi tersebut seharusnya diikuti penguatan rupiah dan meningkatnya arus modal asing masuk ke Indonesia.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi tapi Rupiah Melemah, Investor Belum Percaya?
Namun, rupiah justru bergerak melemah. Kondisi itu dinilai menunjukkan investor asing masih berhati-hati masuk ke pasar domestik karena melihat fondasi pertumbuhan ekonomi belum kuat.
“Tahun lalu, ketika (ekonomi) dikabarkan naik tajam di Kuartal II dan IV, dianggap tidak mencerminkan kenaikan ekonomi Indonesia,” katanya.
“Maka meskipun kuartal I 2026 naik hingga 5,61 persen, investor melihat indikator lainnya sebelum melakukan investasi,” lanjut Nailul.
Ia menambahkan, investor domestik maupun asing kini cenderung mengambil langkah aman di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya kecenderungan investor domestik mengonversi rupiah ke dollar AS.
Menurut Nailul, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang membatasi transaksi pembelian valuta asing tanpa underlying juga menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap dollar AS.
“Ini yang menyebabkan permintaan dollar meningkat, rupiah semakin melemah,” ujarnya.
Baca juga: Rencana Purbaya Perkuat Nilai Tukar Rupiah
Risiko Fiskal dan Persepsi Investor
Hefrizal juga menyoroti meningkatnya Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang mencerminkan naiknya persepsi risiko investor global terhadap kemampuan Indonesia memenuhi kewajiban utangnya.
Menurut dia, kenaikan CDS membuat investor asing cenderung mengurangi kepemilikan aset berdenominasi rupiah, baik di pasar obligasi maupun saham.
“Pasar valas saat ini lebih takut dibandingkan pasar saham,” ujarnya.
“Itu terlihat dari pelemahan rupiah yang jauh lebih tajam dibanding koreksi IHSG,” lanjut Hefrizal.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan beberapa episode tekanan ekonomi sebelumnya.
Pada periode taper tantrum 2013, rupiah melemah dari sekitar Rp 9.700 menjadi di atas Rp 12.000 per dollar AS, sementara IHSG terkoreksi hampir 20 persen.
Sedangkan pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020, rupiah sempat menyentuh Rp 16.000 per dollar AS dan IHSG anjlok lebih dari 35 persen akibat shock global.
Berbeda dengan dua periode tersebut, pelemahan rupiah pada 2026 justru terjadi ketika IHSG masih bertahan di kisaran 6.900–7.100 dengan koreksi yang relatif terbatas.
Menurut Hefrizal, kondisi itu menunjukkan bahwa tekanan saat ini lebih dominan terjadi di pasar valuta asing dibanding sektor riil atau pasar saham.
Ia juga menilai lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor penting yang memperbesar tekanan terhadap APBN melalui peningkatan subsidi dan kompensasi energi.
Di sisi lain, penurunan transfer ke daerah dalam APBN 2026 serta kebijakan efisiensi belanja pemerintah turut mempersempit ruang fiskal pemerintah.
“Kombinasi tekanan eksternal dan keterbatasan fiskal membuat pasar mulai melakukan penyesuaian ulang terhadap risiko Indonesia,” katanya.
Meski begitu, Hefrizal menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum dapat disebut sebagai krisis karena fundamental ekonomi dan sektor riil masih relatif terjaga.
Namun, ia mengingatkan tekanan berkepanjangan tanpa respons kebijakan yang kuat dan kredibel dapat memperbesar risiko ke depan.
“Indonesia memang belum masuk fase krisis,” ujar Hefrizal.
“Tetapi ekonomi sedang berada dalam ujian ketahanan yang serius,” lanjut dia.
Tag: #rupiah #melemah #tekanan #ekonomi #masyarakat #menguat