Trump Buka Peluang Pemerintah AS Miliki Saham Perusahaan AI
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berjalan menaiki pesawat kepresidenan di Bandara Morristown, Negara Bagian New Jersey, 22 Mei 2026.(AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)
09:56
6 Juni 2026

Trump Buka Peluang Pemerintah AS Miliki Saham Perusahaan AI

– Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan pemerintahannya tengah mengkaji kemungkinan kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurut Trump, gagasan tersebut berpotensi menciptakan hubungan kemitraan antara industri AI dan masyarakat Amerika Serikat.

"Kami akan melihat kemungkinan itu. Ada sesuatu yang sangat menarik dari gagasan tersebut, di mana ini hampir menjadi kemitraan dengan publik Amerika," kata Trump kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One, Jumat (5/6/2026), seperti dikutip dari Reuters.

Trump juga mengungkapkan rencananya menggelar pertemuan dengan para eksekutif perusahaan AI dalam waktu dekat, kemungkinan pada pekan depan.

Baca juga: Sempat Klaim Hancur, Trump Kini Sebut Iran Masih Punya 22 Persen Rudal

Pemerintah AS disebut mulai menjajaki skema investasi

Pernyataan Trump muncul sehari setelah media digital NOTUS melaporkan bahwa sejumlah pejabat senior AS telah melakukan pembahasan awal dengan perusahaan AI terkait kemungkinan pemerintah membeli sebagian saham mereka.

Namun, Gedung Putih belum memberikan rincian mengenai agenda pertemuan yang akan datang maupun memastikan apakah pembahasan tersebut akan mencakup rencana kepemilikan saham pemerintah di perusahaan AI.

Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Anthropic, OpenAI, Google, Meta, dan SpaceX juga belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

Baca juga: Menlu dan DPR AS Ribut soal Trump Sering Tertidur saat Rapat

Regulasi AI masih menjadi perdebatan

Pemerintahan Trump selama ini menghadapi dilema terkait seberapa jauh regulasi terhadap industri AI perlu diterapkan.

Pada Mei lalu, Gedung Putih membatalkan secara mendadak seremoni penandatanganan perintah eksekutif mengenai AI yang semula dijadwalkan pada 21 Mei 2026.

Sejumlah media AS melaporkan pembatalan itu terjadi setelah muncul keberatan dari pelaku industri teknologi terhadap beberapa ketentuan dalam aturan tersebut.

Saat itu, Trump menyatakan tidak menyetujui sejumlah aspek dalam rancangan kebijakan tersebut karena khawatir dapat mengurangi daya saing AS dalam perlombaan pengembangan AI melawan China.

Meski demikian, awal pekan ini Trump menandatangani versi revisi dari perintah eksekutif tersebut.

Aturan baru itu meminta pengembang AI terkemuka secara sukarela menyerahkan model AI paling canggih mereka untuk menjalani pengujian keamanan siber pemerintah sebelum diluncurkan kepada publik.

Baca juga: Bukan Balas Lawatan Trump dan Putin, Xi Jinping Pilih Kunjungi Kim Jong Un

Kekhawatiran keamanan siber meningkat

Perdebatan mengenai pengawasan AI juga semakin menguat setelah perusahaan Anthropic meluncurkan perangkat AI bernama Mythos.

Sejumlah pakar menilai teknologi tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan pelaku kejahatan siber dalam melancarkan serangan yang lebih kompleks apabila jatuh ke tangan yang salah.

Risiko tersebut dinilai semakin besar pada sektor-sektor yang bergantung pada sistem teknologi lama dan saling terhubung, seperti industri perbankan.

Baca juga: Trump Siapkan Rp 12,6 Triliun untuk Hidupkan Lagi Industri Batu Bara AS

Pemerintah semakin aktif masuk ke sektor korporasi

Gagasan pemerintah memiliki saham di perusahaan AI sejalan dengan pendekatan Trump yang belakangan semakin aktif terlibat dalam sektor korporasi AS.

Pemerintahannya sebelumnya telah mengambil kepemilikan di perusahaan semikonduktor Intel serta sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang mineral tanah jarang dan teknologi kuantum.

Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi strategis AS di sektor teknologi dan industri masa depan.

Tag:  #trump #buka #peluang #pemerintah #miliki #saham #perusahaan

KOMENTAR