Amran Jawab Kritik Pesta Babi: Harga Beras Merauke Turun Jadi Rp 13.000
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama sejumlah gubernur dan bupati dari Papua saat ditemui usai menggelar rapat di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (11/6/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
19:52
11 Juni 2026

Amran Jawab Kritik Pesta Babi: Harga Beras Merauke Turun Jadi Rp 13.000

-Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons kritik dalam film dokumenter Pesta Babi yang menyoroti proyek ketahanan pangan di Papua.

Amran mengklaim program cetak sawah di Merauke, Papua Selatan, telah menurunkan harga beras secara signifikan.

Ia mengatakan, harga beras di Merauke turun dari Rp 30.000 menjadi sekitar Rp 13.000 per kilogram.

Klaim tersebut disampaikan Amran setelah menggelar rapat bersama sejumlah gubernur dan bupati dari Papua di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Baca juga: Jawab “Pesta Babi”, Amran: Kita Pesta Panen, Bukan Ketergantungan Impor

Amran mengatakan, laporan penurunan harga beras itu disampaikan langsung oleh Bupati Merauke Yoseph Bladibe Gebze.

“Itu sekarang Pak Bupati tadi laporkan 'Pak Menteri terima kasih harga sudah standar seperti daerah-daerah lain yaitu Rp 12 (ribu), Rp 13.000 per kilo,” kata Amran.

Amran menilai kondisi proyek pangan di Papua tidak tepat jika disebut sebagai Pesta Babi.

Menurut dia, program tersebut lebih layak disebut Pesta Panen karena pemerintah tengah mendorong produksi pangan di wilayah tersebut.

“Jadi kesimpulannya adalah Pesta Panen saat ini kita jalankan,” ujar Amran.

Baca juga: Mama Sinta dalam Film Pesta Babi Ajukan Perlindungan ke LPSK

Pemerintah menggunakan dana Rp 5 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mencetak 80.000 hektare sawah baru.

Pemerintah juga menyalurkan bantuan bibit kakao, pala, kopi, kelapa, sagu, hingga ubi untuk petani di Papua.

Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo mengatakan, film Pesta Babi memuat sejumlah masukan terhadap pelaksanaan proyek ketahanan pangan di Papua.

Masukan pertama berkaitan dengan social engineering, yakni sosialisasi dan pelibatan masyarakat adat dalam proyek tersebut.

Masukan kedua berkaitan dengan environmental engineering, terutama persoalan lingkungan, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), serta Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL).

“Social engineering ini merupakan sosialisasi pelibatan masyarakat adat sampai kepada rekrutmen tenaga kerja yang melibatkan orang asli Papua,” ujar Apolo.

Meski demikian, Apolo mengkritik film tersebut karena dinilai tidak menggambarkan seluruh respons masyarakat terhadap proyek strategis nasional (PSN) di Papua.

Menurut dia, masyarakat di lokasi proyek tidak seluruhnya menolak program tersebut.

“Banyak juga masyarakat yang menerima pelaksanaan PSN yang dilaksanakan oleh pemerintah,” kata Apolo.

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti dugaan praktik deforestasi di Merauke untuk program pertanian padi, perkebunan tebu, kelapa sawit, hingga peternakan sapi.

Film tersebut juga mengkritik dugaan pembelian hutan adat dengan harga murah dan risiko lingkungan dari proyek pangan dan energi.

Proyek itu dikaitkan dengan kebutuhan produksi beras, biodiesel B50, hingga bioetanol.

Lahan hutan atau rawa yang dibuka disebut dikelola oleh perusahaan tertentu.

Pesta Babi telah diputar di berbagai forum melalui skema nonton bareng, baik di dalam maupun luar negeri.

Film tersebut juga telah ditonton 13 juta kali dalam 13 hari di YouTube.

Tag:  #amran #jawab #kritik #pesta #babi #harga #beras #merauke #turun #jadi #13000

KOMENTAR