Bau Napas Ternyata Bisa Jadi Sinyal Penyakit
- Jika kita merasa sudah menjaga kebersihan gigi dan mulut tetapi masih saja terganggu oleh napas yang berbau tidak sedap, cek apakah ada penyakit di organ dalam yang belum terdeteksi.
Menurut sebuah studi, satu embusan napas ternyata bisa memberi petunjuk bahwa keseimbangan mikrobioma usus kita sedang terganggu.
Ini terungkap dalam sebuah penelitian berjudul "The Gut Microbiota Shapes the Human and Murine Breath Volatilome" dalam jurnal Cell Metabolism oleh Ariel J. Hernandez-Leyva, dkk, dipublikasikan pada tahun 2026.
Para peneliti melakukan percobaan terpisah pada tikus dan 27 anak. Tujuannya untuk mengukur kadar molekul yang terdapat dalam udara yang mereka embuskan.
Baca juga: Sudah Rajin Sikat Gigi, Mengapa Tetap Bau Mulut?
Hasil dari sampel napas itu lalu dibandingkan dengan molekul yang ditemukan pada sampel tinja guna melihat kemungkinan hubungan di antara keduanya. Prosedur serupa juga diterapkan pada hewan percobaan.
Setelah data dianalisis, mereka menemukan, napas manusia mengandung senyawa organik volatil yang berasal dari mikroba usus.
Senyawa ini dapat menjadi petunjuk bagi ilmuwan mengenai kondisi mikrobioma usus, metabolisme tubuh, dan pada akhirnya kesehatan seseorang secara keseluruhan.
Bahkan, para peneliti menemukan, napas yang diembuskan juga disebut mampu mendeteksi kelimpahan Eubacterium siraeum, bakteri usus yang menjadi penanda biologis asma pada anak.
Baca juga: Kisah Steven, Sakit Radang Usus akibat Pola Makan dan Hobi Begadang
Apa yang mungkin diungkapkan napas tentang kesehatan?
“Senyawa dalam napas mengandung informasi penting tentang kesehatan, dan sebagian senyawa itu berasal dari mikroba di usus,” ungkap Division Chief of Infectious Diseases di The Children's Hospital of Philadelphia, Audrey R. Odom John, M.D., Ph.D..
Menurut dr. John, ada dua cara utama napas bisa memberi tanda adanya masalah, yaitu melalui bau, serta bakteri dan virus.
Pemanfaatan napas sebagai alat diagnosis medis masih terus dikembangkan. Namun, dalam praktik klinis, John mengungkapkan bahwa terkadang dokter akan mencium bau napas pasien saat pemeriksaan awal.
Tujuannya untuk menentukan apakah perlu tes lanjutan untuk kondisi kesehatan tertentu.
Baca juga: Peneliti Temukan Bakteri Usus Ini Bisa Jadi Pemicu Depresi
Beberapa kondisi yang dapat terindikasi melalui bau napas meliputi:
Diabetes tipe 1 dan tipe 2
"Secara historis, aroma napas telah digunakan untuk mendiagnosis kondisi seperti diabetes karena adanya aroma keton yang khas," ungkap John.
Keton adalah zat kimia yang diproduksi oleh hati saat tubuh memecah lemak, dan dapat menimbulkan bau napas manis seperti buah atau aseton.
Penyakit hati
Dikenal sebagai fetor hepaticus, kondisi ini menimbulkan bau apek khas yang menandakan penyakit hati atau kegagalan fungsi hati yang parah.
Baca juga: Langkah Kecil untuk Melindungi Organ Hati dari Kanker
Mulut kering
Mulut kering atau xerostomia terjadi akibat kurangnya produksi air liur. Kondisi ini membuat bakteri dan sisa makanan tidak terbilas dengan baik, sehingga napas bisa berbau seperti telur busuk.
Bakteri dan virus
Mencium bau napas pasien berbeda dengan tes diagnostik berbasis napas yang didesain untuk mengidentifikasi penyakit tertentu.
"Hanya ada beberapa tes diagnostik berbasis napas yang digunakan secara klinis," ungkap John.
Salah satunya adalah tes untuk infeksi Helicobacter pylori, yakni penyebab tukak lambung. Ada juga tes Covid-19 yang dikenal sebagai InspectIR Covid-19 Breathalyzer. Tes ini mendeteksi lima senyawa volatil terkait virus tersebut, dan mampu memberikan hasil dalam waktu sekitar tiga menit.
Baca juga: Gejala Batuk, Demam, dan Sesak Napas pada Bayi, Waspadai Infeksi RSV
Kapan perlu berkonsultasi ke dokter?
Jika kamu khawatir dengan bau napas yang tak kunjung hilang, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis.
Menurut ahli gastroenterologi Aditya Sreenivasan, M.D., segera periksakan diri jika terjadi perubahan bau napas secara tiba-tiba tanpa masalah gigi yang jelas.
"Ini bisa menjadi tanda dari berbagai hal, mulai dari infeksi H pylori, masalah sinus, refluks asam, pengosongan lambung yang lambat, diabetes, kanker lambung, pertumbuhan bakteri berlebihan, atau divertikulum esofagus," ucap dr. Sreenivasan.