China Rencanakan Sistem Energi Baru, Hadapi Krisis Minyak akibat Perang Iran
- Presiden China Xi Jinping, Senin (6/4/2026), menyerukan percepatan perencanaan dan pembangunan sistem energi baru.
Rencana ini untuk menjamin keamanan energi negara tersebut, di tengah guncangan harga bahan bakar akibat perang di Timur Tengah.
Xi menekankan pentingnya pengembangan tenaga air dan perlindungan ekologi, serta perluasan tenaga nuklir yang aman dan tertib.
Baca juga: AS Dicap Arogan dan Melemah, Begini Cara China Membingkai Perang Iran
"Pengembangan energi angin dan surya yang kami lakukan sebagai pelopor kini telah terbukti sebagai langkah maju,” kata Xi seperti yang dilaporkan oleh stasiun televisi pemerintah dilansir Anadolu, Selasa (7/4/2026).
“Pada saat yang sama, pembangkit listrik tenaga batu bara tetap menjadi fondasi energi kita dan harus terus memainkan peran pendukung," sambungnya.
Ia menambahkan bahwa China harus tetap berpegang pada jalur pembangunan bersih dan rendah karbon.
Seperti diketahui, "Negeri Panda" ini memiliki cadangan minyak mentah strategis sebesar 1,3 miliar barel, yang diperkirakan cukup untuk beberapa bulan.
Baca juga: Iran Tembak Jatuh Drone China, Tuding UEA-Saudi Ikut Perang
Mereka juga memiliki beragam energi terbarukan yang mencakup tenaga nuklir, surya, dan angin, tetapi masih bergantung pada batu bara yang ditambang di dalam negeri.
Xi juga mengatakan bahwa isu energi sangat penting bagi pembangunan, terutama untuk menunjang ekonomi.
"Sistem energi baru yang lebih ramah lingkungan, lebih beragam, dan lebih tangguh akan memberikan jaminan yang kuat bagi keamanan energi dan pembangunan ekonomi China," ujar Xi dalam laporan tersebut.
Baca juga: DK PBB Berselisih soal Perang Iran, Rusia-China Bentrok dengan AS
Sebesar 35 persen energi China dari kawasan Teluk
Ilustrasi kapal tanker.
Pada 2024, China memperoleh 35 persen energinya dari negara-negara Teluk, dengan membayar 413 miliar dollar AS (sekitar Rp 7.054 triliun) untuk impor tersebut.
Ketegangan regional Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Teheran membalas dengan menargetkan Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Iran juga memblokade dan membatasi pergerakan kapal-kapal dari berbagai negara yang melalui Selat Hormuz.
Baca juga: Ekonomi Iran Jadi Target Baru AS-Israel, Cara Trump Buka Paksa Selat Hormuz
Negara-negara Asia menjadi kawasan yang paling terdampak akibat penutupan Selat Hormuz, salah satunya adalah China.
Perusahaan-perusahaan Cina memiliki sekitar 74 kapal komoditas yang tertahan, 25 di antaranya adalah kapal tanker minyak dan gas.
Sementara itu, sisanya adalah kapal-kapal pengangkut barang curah kering seperti kapal kontainer. Namun, tiga kapal China baru-baru ini diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Tag: #china #rencanakan #sistem #energi #baru #hadapi #krisis #minyak #akibat #perang #iran