Kesulitan Ekspor akibat Blokade AS, Iran Tutup Sebagian Sumur Minyak
Ilustrasi kilang minyak Iran.(Reuters)
08:54
5 Mei 2026

Kesulitan Ekspor akibat Blokade AS, Iran Tutup Sebagian Sumur Minyak

Iran mulai mengurangi produksi minyak dan menutup sebagian sumur di tengah tekanan blokade laut Amerika Serikat di Selat Hormuz.

Langkah ini diambil ketika ekspor terhambat dan kapasitas penyimpanan minyak negara itu kian mendekati batas.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan, negaranya telah mulai menurunkan produksi minyak secara proaktif untuk menghindari kehabisan kapasitas penyimpanan.

Baca juga: AS Tuduh China Danai Iran, Minta Beijing Bantu Buka Selat Hormuz

Tangki-tangki minyak di darat maupun laut disebut semakin penuh akibat ekspor yang terhambat oleh blokade AS.

Iran juga memanfaatkan teknik operasional untuk menghentikan sementara produksi tanpa merusak sumur.

“Kami punya cukup keahlian dan pengalaman. Kami tidak khawatir,” ujar Hamid Hosseini, juru bicara Asosiasi Eksportir Produk Minyak, Gas, dan Petrokimia Iran, seperti dikutip The Straits Times, Minggu (3/5/2026).

Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk menjaga fleksibilitas produksi, sehingga sumur dapat kembali dioperasikan dengan cepat saat kondisi memungkinkan.

Pengalaman hadapi sanksi jadi modal

Ilustrasi Iran, bendera IranShutterstock Ilustrasi Iran, bendera Iran

Kemampuan Iran mengelola gangguan produksi disebut bukan hal baru. Teknik tersebut telah diasah sejak era sanksi sebelumnya, termasuk ketika AS menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018 dan memaksa Iran memangkas produksi.

Meski begitu, situasi saat ini dinilai lebih sulit. Jika sebelumnya Iran masih bisa menjual minyak secara diam-diam ke China melalui jaringan kapal tanker bayangan, kini jalur laut di sekitar Selat Hormuz diblokir secara fisik.

“Washington beroperasi dengan asumsi status quo bahwa Iran akan diam dan menyerap tekanan ini hingga runtuh dalam waktu yang bisa diprediksi,” kata Brett Erickson dari Obsidian Risk Advisors.

“Itu pada dasarnya salah memahami bagaimana rezim bertindak di bawah perang ekonomi berkepanjangan. Mereka tidak runtuh, mereka beradaptasi.”

Baca juga: Gencatan Senjata Iran-AS di Ambang Keruntuhan, Saling Serang di Selat Hormuz

Tekanan meningkat

Pejabat Iran mengakui strategi ini hanya bisa bertahan sementara. Dengan kapasitas penyimpanan yang terus menipis, Iran diperkirakan memiliki waktu sekitar satu bulan sebelum harus memangkas produksi lebih dalam jika kondisi tidak berubah.

Penumpukan minyak kini terlihat dari meningkatnya jumlah tanker yang digunakan sebagai penyimpanan terapung, terutama di sekitar Pulau Kharg, pusat ekspor utama Iran.

Namun, jika kapasitas penuh tercapai, Iran tak punya banyak pilihan selain menyesuaikan produksi dengan volume yang tidak bisa diekspor.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut kondisi ini akan merugikan Iran hingga 170 juta dollar AS (sekitar Rp 2,9 triliun) per hari dan mendorongnya ke meja perundingan.

Meski demikian, analis menilai sistem minyak Iran saat ini berada dalam tekanan, namun belum lumpuh total.

“Terlihat ada perlambatan produksi yang signifikan,” kata Antoine Halff dari Kayrros. “Ada tekanan dalam sistem.”

Di tengah keterbatasan, Iran tetap berupaya menjaga aliran minyak melalui berbagai cara, termasuk penyimpanan terapung dan pengalihan distribusi.

Claire Jungman dari Vortexa menyebut kondisi ini sebagai sistem yang “terbatas tetapi masih berfungsi”.

“Ini memungkinkan aliran tetap berjalan dalam jangka pendek, bahkan di bawah penegakan yang lebih ketat,” ujarnya.

Baca juga: AS Bantah Kapal Perangnya Diserang Iran di Selat Hormuz

Tag:  #kesulitan #ekspor #akibat #blokade #iran #tutup #sebagian #sumur #minyak

KOMENTAR