AS Serang Fasilitas Militer Iran di Bandar Abbas, Perang Kembali Pecah?
Gambar yang disediakan oleh kantor kepresidenan Iran pada 2 Februari 2024 menunjukkan Presiden Iran Ebrahim Raisi (tengah) mengunjungi pangkalan angkatan laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) di Bandar Abbas, Iran selatan. (AFP)
11:42
28 Mei 2026

AS Serang Fasilitas Militer Iran di Bandar Abbas, Perang Kembali Pecah?

Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran dengan menargetkan sebuah fasilitas militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis di selatan Iran.

Serangan terbaru ini terjadi pada Kamis (28/5/2026) di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Washington dan Teheran serta negosiasi panjang untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan.

Komando Pusat Militer AS (Centcom) mengatakan, pasukannya menembak jatuh empat drone serang Iran di sekitar Selat Hormuz yang dianggap mengancam keamanan wilayah tersebut.

Baca juga: AS Mulai Lawan Kendali Iran di Selat Hormuz, Siapkan Sanksi Baru

Selain itu, AS juga menyerang sebuah stasiun kendali drone di Bandar Abbas yang disebut sedang bersiap meluncurkan drone kelima.

Media Iran melaporkan tiga ledakan keras terdengar di bagian timur Bandar Abbas pada Kamis dini hari.

AS klaim serangan bersifat defensif

Dilansir AFP, Centcom menyebut operasi itu dilakukan sebagai langkah pertahanan diri dan untuk menjaga gencatan senjata tetap bertahan.

“Terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata,” demikian pernyataan Centcom mengenai operasi tersebut.

Ini menjadi serangan kedua AS ke wilayah Iran dalam tiga hari terakhir. Sebelumnya, Washington mengaku menyerang lokasi rudal Iran dan kapal-kapal yang disebut sedang menebar ranjau di Selat Hormuz.

Menurut Centcom, operasi sebelumnya dilakukan “untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran”.

Iran sebut serangan langgar gencatan senjata

Pemerintah Iran mengecam serangan terbaru itu sebagai “pelanggaran berat terhadap gencatan senjata” dan menegaskan bahwa Teheran tidak akan membiarkan tindakan permusuhan tanpa balasan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengeklaim telah menembak jatuh sebuah drone AS serta melepaskan tembakan ke arah jet tempur dan drone lain yang memasuki wilayah udara Iran, meski tidak menjelaskan waktu kejadian tersebut.

Di sisi lain, pejabat Garda Revolusi Iran Mohammad Akbarzadeh mengatakan, kemungkinan perang kembali pecah masih kecil karena “kelemahan musuh”, namun memperingatkan militer Iran tetap “siaga dengan magasin penuh” jika kembali diserang.

Baca juga: Trump Ngamuk Sekutunya Mau Kelola Selat Hormuz Bareng Iran, Ancam Serangan

Trump ancam lanjutkan serangan besar-besaran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan melanjutkan kampanye pengeboman besar-besaran apabila Iran tidak menyetujui syarat-syarat yang diajukan AS.WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan melanjutkan kampanye pengeboman besar-besaran apabila Iran tidak menyetujui syarat-syarat yang diajukan AS.

Dalam rapat kabinet di Gedung Putih pada Rabu (27/5/2026), Presiden AS Donald Trump mengatakan, Iran “sangat ingin mencapai kesepakatan”, tetapi menurutnya negosiasi belum memuaskan Washington.

“Mungkin kami harus kembali dan menyelesaikannya, mungkin juga tidak,” kata Trump.

Ia kembali menegaskan ancaman akan melanjutkan kampanye pengeboman besar-besaran apabila Iran tidak menyetujui syarat-syarat yang diajukan AS.

“Iran sangat ingin membuat kesepakatan. Sejauh ini mereka belum sampai ke titik itu. Kami belum puas, tapi kami akan puas. Jika tidak, kami harus menyelesaikan pekerjaan itu,” ujar Trump.

Trump juga menegaskan, dirinya tidak terburu-buru mencapai kesepakatan damai, meski sebelumnya sempat mengatakan perundingan sudah “sebagian besar selesai”.

Selat Hormuz jadi titik sengketa utama

Perundingan damai antara AS dan Iran kini banyak berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting dunia yang selama konflik praktis ditutup Iran.

Penutupan jalur tersebut membuat ribuan kapal tanker komersial tertahan dan memicu lonjakan harga energi global.

Pada Rabu, angkatan laut Garda Revolusi Iran mengatakan, hanya kapal yang “bersedia mematuhi perintah Iran” yang dapat melintas di Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya mengatakan, kesepakatan damai masih mungkin dicapai dan Selat Hormuz akan dibuka kembali “dengan satu cara atau cara lainnya”.

Trump juga sempat mengeluarkan peringatan kepada Oman, sekutu AS yang menjadi mediator konflik, ketika ditanya soal kemungkinan Iran dan Oman bersama-sama mengelola Selat Hormuz.

“Tidak, selat itu akan terbuka untuk semua orang. Itu perairan internasional dan Oman akan bertindak seperti semua pihak lainnya atau kami harus menghancurkan mereka,” kata Trump.

Gedung Putih belum memberikan klarifikasi apakah pernyataan Trump tersebut merupakan kekeliruan ucapan.

Warga Iran cemas perang pecah lagi

Di tengah pembicaraan damai yang belum pasti, sebagian warga Iran mulai kembali mendapat akses internet global setelah pemutusan jaringan selama tiga bulan.

“Saya merasa lebih baik sekarang karena akhirnya bisa memakai aplikasi favorit saya lagi,” kata Hana, mahasiswi 20 tahun di Teheran, seperti dikutip AFP.

Namun ia mengaku tetap khawatir perang bisa kembali pecah kapan saja.

“Saya khawatir perang bisa dimulai lagi kapan saja dan memutus saya lagi dari teman-teman saya,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Amir, pengembang perangkat lunak berusia 27 tahun di Teheran.

“Saya merasa belum ada yang pasti,” katanya.

“Pertanyaan setiap hari adalah: apakah akan ada serangan rudal malam ini?”

Baca juga: Jeritan Hati Warga Iran: Terjebak Situasi Tidak Perang, Tidak Damai

Tag:  #serang #fasilitas #militer #iran #bandar #abbas #perang #kembali #pecah

KOMENTAR